Mendadak Jodoh

Mendadak Jodoh
Candu Wangi Keringatmu


__ADS_3

Ezra berdiri dan masuk ke kamar dengan wajah penuh pertanyaan.


"Apa benar mereka ada apa-apanya?"


Lirih hatinya.


"Bang!" Zahwa pun mengejar Ezra masuk ke kamarnya. Ezra berbaring menghadap dinding dan berusaha untuk tidur.


"Bang, apa Abang mencurigai ku?" tanya Zahwa.


"Nggak, aku merasa lelah, aku mau istirahat sebentar."


Hap


Zahwa memeluk Ezra dari belakang.


"Kamu pasti cemburu 'kan? Sumpah demi Allah, kami tidak ngapa-ngapain, sebelum kalian datang, aku membujuknya untuk melepas ku, aku juga berjanji akan memberikan uang, karena dia dalam kesulitan keuangan sekarang ini, orang tuanya berjualan es dawet di pinggir jalan, tapi aku tidak tau di jalan mananya," ucap Zahwa.


"Jadi selama kamu di sandera, kalian saling bertukar cerita?" Ezra tambah cemburu lagi kayaknya, selama Zahwa di culik, Ezra tidak nafsu makan, dunianya terasa hampa, namun ternyata, Zahwa baik-baik saja dan bahkan apa yang dia ingini bisa dia dapatkan.


"Bang, kami tidak bertukar cerita, tapi dia yang bercerita sambil marah-marah, karena keluarga kita, mereka bangkrut dan hidup terkatung-katung," ucap Zahwa lagi.


Ezra tidak menjawab.


"Bang, sungguh, aku minta maaf kalau aku salah," ucap Zahwa lagi, namun masih tidak ada jawaban.


"Hups, baiklah,"


Tap tap tap


Zahwa pun turun dari ranjang dan berjalan menuju pintu.


"Apa benar mereka tidak melakukan apa-apa? Kalau Zahwa aku percaya, tapi bagaimana kalau Bima memaksanya?"


Otak Ezra kali ini sudah di isi oleh rasa cemburu yang berlebihan.


Ceklek


Pintu di buka oleh Zahwa dia pun melangkah keluar kamar.


Hap


Tiba-tiba Ezra melompat dan memeluknya erat, spontan mata orang-orang yang tadi menatap pintu Zahwa pun kaget dan berpaling seketika.


"Heh, lebay," ucap Saila ketus.


"Saila, jaga mulutmu, jangan menambah masalah di rumah ini,"


Rangga sangat membenci kelakuan Saila yang seenaknya berbuat sesuatau tanpa memikirkan dampaknya.


"Ayo masuk!"


Ajak Ezra menarik Zahwa, dan dia pun menutup pintu.


"Apa kau tidak marah lagi?" tanya Zahwa sambil menatap wajah sang suami.


"Hemmm," Ezra mengangguk.

__ADS_1


Zahwa pun memeluk tubuh suaminya, dsn menciumi aroma tubuh itu, aroma tubuh Ezra yang membuat Zahwa merasa damai dan tenang.


"Sayang, aku 'kan belum mandi! tadi bekas bersih- bersih halaman belakang," ucap Ezra.


"Biarin, aku sangat suka bau ini, roma keringat Abang sangat harum," ucap Zahwa.


"Jorok ih, aku mandi dulu sebentar," pinta Ezra.


"Nggak, aku mau bau ini aja,"


Zahwa malah membenamkan wajahnya di bawah ketek sang suami.


"Sayang, jorok ih, nanti anak kita juga jorok, ayo ah, jangan!" Ezra ingin menjauhkan wajah istrinya dari tubuhnya, namun lengket.


***


"Saila, bagaimana kalau nanti aku menjadi pemilik perusahaan ini heh? apa kau mendukungku?"


Tampak Huda dan Saila berada di ruangan yang sama, yaitu di ruangan kerja Fathir sang ayah.


"Tentu saja aku mendukungmu, oh iya, sebaiknya kau bersiap dari sekarang, siapa tau saja perusahaan ini akan di berikan ke pada Zahwa, anak pertama Pa Fathir," ucap Saila manas-manasin Huda.


"Mana boleh begitu? ahli waris itu pasti anak laki-laki 'kan?" ucapnya yakin.


"Eh jangan salaaaah! Kau 'kan orang baru? lagian kamu lihat 'kan, kalau Zahwa itu sangat di sayang oleh ayahmu? Bisa saja perusahaan ini di berikan saat ayahmu masih hidup, sementara kau di berikan perusahaan cabang," ucap Saila lagi.


"Benar juga ya? Aku harus bisa membalik nama perusahaan ini atas namaku, biar aman, kau harus membantuku mencari berkasnya,"


Mereka pun sibuk membongkar lemari, laci dan meja yang ada di ruangan itu.


"Tidak ada apa-apa di sini, apakah Papa menyimpannya di rumah?" gumam Huda.


"Baiklah, aku akan mencarinya nanti saat rumah sepi," ucapnya.


Hups


Huda pun duduk di sofa ruangan itu.


Bruk.


Saila mendekat dan ikut duduk di samping Huda, tepatnya di sisi berdempetan dengan Huda.


Hap


Huda merentangkan tangannya di sandaran Sofa. Sementara Saila dengan sengaja menyandarkan kepalanya di dada Huda, mereka saling membisu.


"Kau harus ku luluh kan, dan mengambil semua harta ayahmu, kalian harus membayar semua penderitaan ibuku selama ini," batin Saila sambil tersenyum.


"Sayang,"


Huda merasa tak karuan saat tangan Saila meraba di sekujur tubuhnya, Huda pun menikmati sensasi tangan gadis itu sambil memejamkan matanya. Mulutnya pun terdengar mulai melenguh nikmat saat Saila bermain di dalam sana.


Tap tap tap


Tiba-tiba Saila berdiri dan berjalan menuju pintu.


Ceklek

__ADS_1


"Saila! Kau mau ke mana? Kenapa tak kau teruskan? ayo sayang, kau telah membangunkan singa lapar," ucap Huda merasa kesal.


"Ha ha, nanti kalau sudah menikah," ucapnya sambil berjalan berlenggak-lenggok meninggalkan ruangan itu.


"Aaaah, syet,"


Huda menepuk meja yang ada di depannya hingga menimbulkan suara yang sangat nyaring.


Sementara Saila sudah turun di halaman gedung itu, dia pun menikmati jajanan kaki lima dengan membeli bakso kuah, duduk manis di halaman depan pagar perusahaan.


"Karyawan baru ya Neng?" tanya paman Bakso.


"Bukan, aku tunangan pemilik gedung," ucap Saila bangga.


"Oooh, beruntung sekali Nona, anak pemilik gedung ini sangat baik dan sopan, dia sering mentraktir karyawannya dan memborong jualan paman," ucapnya.


"Oooh begitu ya," jawab Saila. Pasti bukan Huda, lirih hatinya.


"Iya, kalau kamu menikah nanti, pasti kamu sangat beruntung, Den Rangga itu sangat sopan, dia tidak pernah pacaran sama siapa pun, orang tuanya sangat baik dalam mendidik anak-anaknya dalam hal agama. Apa lagi yang perempuan si Neng Zahwa, waaah, dia top, cewe idaman pokoknya, dia menjaga matanya dengan selalu menunduk saat berjalan,"


"Tu kaaaan, bukan Huda, tapi tak apalah aku iyakan saja," lirih Saila lagi.


"Pak bungkus ya!"


Seorang lelaki tua tiba-tiba datang dan membeli Bakso kuah juga. Saila yang asik makan bakso kuahnya pun tak memperdulikan lelaki tua itu.


Deg


Namun lelaki tua itu kaget saat melihat wajah Saila.


"Ka__kau?"


"Ya pa?"


Saila pun menengadah. Lelaki itu pun tambah kaget dan mundur seketika.


"Ada apa Pa?" Saila bingung melihat tingkah lelaki yang tina-tiba terlihat syok saat melihat wajahnya.


"Oh tidak, maaf, aku mungkin salah orang," ucapnya kemudian, lalu dia pun pergi meninggalkan tempat tersebut.


"Pa, tunggu! Ini Baksonya," panggil Paman Bakso.


"Oh iya, ini ambil saja kembaliannya," ucapnya.


Lelaki itu pin pergi tergesak-gesak seakan dia melihat hantu.


"Siapa dia Pa?" tanya Saila penasaran.


"Ooh, itu rekan Bisnis Pa Fathir, pa Handono, Dia langganan beli bakso kuah di sini Non," jawab paman Bakso.


"Oooh,"


***


"Siapa dia tadi? mengapa sangat mirip dengan seseorang?" gumam lelaki yang tadi bertemu Saila.


"Ada apa Pa?" tanya sang sopir.

__ADS_1


"Tolong kau cari tahu seseorang yang duduk di penjual kaki 5 itu sekarang ya!"


BERSAMBUNG...


__ADS_2