Mendadak Jodoh

Mendadak Jodoh
Bram Lumpuh


__ADS_3

Tampak Zaira mendorong kursi roda yang diduduki Bram, dan dua pria sedang membawa tas besar, di dalamnya tentu saja ada baju mereka semua. Mereka pun memasuki sebuah mobil besar yang disewa Zaira


"Paman... Ayo kita berangkat!" ucap perempuan itu.


Dibantu 2 paman tadi, Bram menaiki mobil. tatapan Bram seperti kosong dan tidak merespon orang-orang di sekelilingnya.


Zaira mengambil teleponnya


"Halo Mama ... Kau di mana? kirimkan Sherlock mah, kami sudah berangkat meninggalkan apartemen," ucap Zaira.


"Baiklah... aku akan mengirimkannya," ucapnya.


Zaira mematikan telepon dan tersenyum.


"Ezra kau tidak akan pernah tahu seperti apa Mantanmu ini yang sebenarnya, kau telah menghancurkan hatiku, dan aku pun akan menghancurkan hatimu, dengan mengambil buah hatimu, aku akan membalaskan dendam ku, agar kau tahu betapa aku sangat kecewa padamu," lirih hati Zaira.


Sementara Bram dia menatap kosong jalanan di depannya. sepertinya dia diberi obat halusinasi sehingga dia tidak bisa merasakan atau bereaksi dengan alam sekitarnya.


Setelah 40 menit kurang lebih Zaira pun sampai di titik lokasi yang diberikan ibunya padanya.


"Ibu, kami sudah berada di Lokasi, Ibu sekarang ada di mana?" tanya Zaira.


"Tunggu di situ, biar aku yang keluar," ucap ibunya.


Telepon pun di tutup, Zaira berdiri menunggu kedatangan ibunya. Tak Berapa lama ibunya pun datang dengan menggendong Arsya.


"Ayo! aku telah menemukan sebuah rumah kecil, yang bisa kita tinggali untuk beberapa hari ke depan," ucap sang Ibu.


"Baiklah, Ayo Paman! Paman... Tolong bawakan tas-tas itu," titah Zaira.


Mereka pun berjalan mengiringi ibu Zaira, menyusuri gang kecil dan memasuki sebuah rumah mungil yang ada di ujung Gang tersebut.


"Ayo masuklah!" ucap sang ibu.


Zaira mendorong kursi roda Bram memasuki rumah mungil itu, sementara paman-paman membawa tas juga memasuki rumah tersebut.


"Paman... Terima kasih banyak ya... Ini upah untuk kalian, dan tolong ini rahasia kita. Jangan sampai ada yang tahu," ucap Zaira


"Baik Nona. Terima kasih, senang bekerja sama dengan Anda," ucap mereka berdua.


Kedua Paman itu pun pergi meninggalkan rumah Zaira.


Sementara Zaira pun duduk di satu sofa yang terlihat lapuk, dengan merentangkan kedua tangannya.


"Akhirnya... Hups... Ingin sekali aku tahu, bagaimana reaksi Ezra, bahwa semua rencananya gagal. Lihatlah! dia terlihat sakit karena obat yang telah aku berikan itu," ucap Zaira.


"Emang Obat apa yang kau berikan padanya?" taanya sang mama.


"Itu adalah obat melumpuhkan syaraf-syaraf Ma, Dia tidak akan ingat apa yang telah terjadi," ucapnya seraya tersenyum puas.

__ADS_1


"Tapi bagaimana dengan kehidupan kita?" ucap mamanya lagi.


"Aku tahu... ada sebuah warung makan kecil di pinggiran kota ini, itu adalah milik Bram, dan kita akan mengelolanya," jcalnya.


"Terus bagaimana dengan Bram?" tanya mamanya.


"Mungkin kita akan merawatnya mah, sebagai ganti karena kita telah membuatnya sakit," ucapnya.


"Apa kau bercanda Zaira? masa kita memelihara dia juga? Apa tidak sebaiknya kita serahkan saja dia ke pantai asuhan, atau ke panti jompo," ucap sang mama.


"Tidak... setidaknya kita mengelola warung makannya, bukan mencurinya, akan tetapi kita membiayai hidupnya juga 'kan?"


"Baiklah kalau begitu, kau memang pintar anakku," ucap mamanya.


"Lihatlah tempat ini, mumpung Arsya tidur, sebaiknya kita beres-beres rumah ini dulu, mungkin banyak debu dan merapikan baju-baju ke dalam lemari," ucap sang Mama.


"Oke mama."


Mereka pun merapikan rumah yang tampak berantakan itu, membersihkannya. menyapu dan merapikan baju mereka ke dalam lemari.


Tampak keringat membanjiri jidat mereka.


***


Sementara di sebuah Hotel yang mewah dan elit, tampak Ezra berulang kali menelepon Bram, namun tidak ada yang mengangkat, dia juga menelpon mata-matanya yang dia letakkan di gedung Apartemen Bram.


"Maaf Bos... saat aku ke balkon tadi, mereka berada di kamar dan sekarang kamar itu terlihat sepi Bos," ucapnya.


"Cepat kau periksa, atau ke pura-pura menjadi karyawan Apartemen. Mungkin kau bisa mencek mereka. Apakah mereka masih di dalam," titah Ezra.


"Baaik Bos... laksanakan," jawabnya.


"Mengapa Bram belum mengabari ku ya? Ini juga sudah jam 11.00. Mengapa dia belum datang? Mengapa aku merasa tidak enak? ada yang tidak beres," gumamnya.


Dia pun kembali menelepon Bram. Sementara di rumah mungil itu, Zaira tampak tersenyum melihat panggilan masuk di HP Bram. Dia pun terus menetap layar ponsel itu dan sesekali tersenyum puas.


"Rasakan pembalasanku, kau akan hancur, kau tidak akan bisa mendapatkan Arsyamu lagi, dia adalah Arsyaku, aku tidak akan pernah memberikannya padamu," gumamnya.


"Ada apa Zaira? kok ngomong sendiri?" tanya sang mama.


"Tidak papa Bu... Lihatlah! Ezra berulang kali menghubungi Mas Bram, ternyata benar, mereka bekerja sama. Aku sangat puas, aku takkan tertipu lagi kali ini. Oh ya Bu, Nanti sore aku akan ke warung makan milik Bram yang ada di pinggir kota, tolong ibu berikan obat Bram setiap 6 jam sekali, jangan sampai dia tersadar dari halusinasinya ini, itu akan mengakibatkan buruk bagi kita Bu ."


"Baiklah, aku akan menulisnya agar aku ingat, karena aku sekarang ini sudah mulai menua, sebelum aku mati, aku harus melihat kau membalaskan dendam kita pada mereka, kau ingat betapa ayahmu sangat malu saat itu, karena dengan mudahnya Ezra memutuskan hubungan kalian, padahal papamu sudah sering memamerkan calon menantunya, seorang kaya raya nomor 3 di kotanya, dan semua itu hanyalah angannya saja, sehingga ayahmu sakit sakitan, dan akhirnya meninggal karena depresi."


"Aku pasti membalasnya, lihat saja! aku pasti membalasnya," ucap Zaira penuh dendam.


***


Yola tampak menelepon seseorang. Seseorang yang dia suruh untuk mengikuti Toto. Dia menyelidiki sejauh mana hubungan Toto dan Rina, setelah itu, Yola Berencana untuk melepaskan diri dari Huda.

__ADS_1


"Paman... tolong kau ikuti ke manapun Toto!" titahnya.


"Baik Nona," sahut paman itu.


Yola kemudian berdiri dan mengambil air wudhu untuk istikharah.


"Ya Allah, tunjukkan yang terbaik bagi Hamba," doanya setelah selesai istikharah.


Yola yakin untuk melepaskan diri dari Huda.


Selesai sholat kemudian Yola berdiri, jam menunjukkan jam 3 siang. Dia pergi dengan menggunakan taksi. Sepertinya Dia akan ke suatu tempat. Setelah 30 menit Dia pun sampai, ternyata Dia berhenti tak jauh dari rumah mungil Rina. Yola mengambil Hp dan menyiapkan kameranya.


"Paman, tolong bawakan ini, dan ketuk pintu itu, aku akan masuk ketika pintu di buka," titah Yola.


"Baik Non," sahutnya.


Sopir pun turun dan melakukan perintah Yola.


Ceklek


Pintu di buka, tampak rambut Rina acak-acakan.


Bruk.


Yola tanpa di duga langsung nyelonong masuk.


"Hey kau siapa?" teriak Rina panik.


Karena Yola menggunakan masker dan kacamata.


Ceklek.


Yola langsung masuk kamar utama, karena dia menyangka pasti mereka menggunakan kamar itu,


Benar saja.seorang lelaki bu gil sedang berbaring. Sepertinya mereka habis nganu dan belum selesai karena terganggu ketukan pintu.


Diam-diam Yola menghidupkan kamera dari pertma dia masuk.


Yola tersenyum dan segera berpaling.


"Kau siapa?" tanya Rina.


Brek


Rina menarik masker Yola.


"Aku, kau kaget?" ucap Yola angkuh.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2