Mendadak Jodoh

Mendadak Jodoh
Pelukan menjadi Bomerang


__ADS_3

"Syarat apa yang ingin kau berikan ke padaku?" tanya Saila.


"Aku ingin kau menutup aurat mu seperti Shaina istriku!" pintanya.


"Cuma itu?" tanya Saila terlihat enteng.


"Ya," jawabnya.


"Oke, deal." Saila menjulurkan tangannya pada Fathir, namun Fathir hanya mengangguk.


"Deal," sahutnya tanpa bersalaman.


"Terimakasih Pa," ucap Huda dengan senyum mengembang di bibirnya.


"Ingat! jangan sesekali kau mengungkit masa lalu seorang wanita yang kau nikahi!" peringatan dari Fathir untuk Huda.


"Iya Pa," jawabnya.


"Baiklah, kakau begitu, ayo kita ke rumah sakit untuk tes DNA!" ajak Pa Borak Baron.


"Ayo!"


Mereka pun berangkat menuju rumah sakit terdekat.


***


"Begini, hasil DNA ini, bisa kalian ambil seminggu lagi, jadi kalian bisa kembali setelah satu minggu dari sekarang, ini tanggal untuk pengambilan," ucap perawat.


"Baik, kalau begitu kami permisi."


Mereka pun pergi meninggalkan Rumah sakit.


"Bagaimana dengan Ujang dan siapa satu lagi, apakah ada kabar dari mereka?" tanya Fathir.


"Maaf, kami tidak pernah lagi saling kasih kabar, kami kehilangan kabar satu sama lainnya, terakhir ku dengar ujang di penjara karena penipuan penjualan benda pusaka," ucap Baron.


"Kalau begitu, terima kasih banyak, mudahan ada hasil, oh iya tunggu! aku mau ke ATM sebentar," ucap Baron.


Fathir dan yang lainnya pun menunggu Baron.


"Ny.Mega, bagaimana perkebunan sawit kalian," tanya Fathir.


"Alhamdulillah, terimakasih banyak Fathir, kamu telah menyelamatkan nyawaku saat itu, pantas saja kau di gelari 'Pembunuh bayaran palsu' oleh orang-orang, ha ha," tanyanya


"Ha ha, aku juga sangat bersyukur bisa menyelamatkan anda, Nyonya," jawabnya.


"Saila... Ke mari lh!"


Baron sidah datang dan memanggil Saila untuk duduk di sebuah bangku panjang di parkiran mobil.


"Ada apa? Katakan saja tidak usah basa-basi," ucapnya ketus.


"Saila, kau harus belajar menghormati orang tua, ayo! Ke sana lah dulu sebentar," Titah Fathir.


Dengan sangat terpaksa, Saila pun menurut.


"Saila, aku mohon maaf atas kesalahanku di masa lalu, terlepas kau anakku atau bukan, namun kalau kau menginginkan bantuan ku, kau bisa meneleponku ya? Ini, bawalah untuk tabunganmu," Baron memberikan amplop tebal ke tangan Saila.


"Apa ini? Tapi ingat! Walau pun aku menerima amplop ini, bukan berarti aku memaafkan kalian di masa lalu," ucap Saila


"Itu terserah kau saja, yang penting aku sudah minta maaf, dan aku sangat menyesal atas kejadian saat itu, hal terbodoh yang pernah aku lakukan ke pada seorang wanita," ucap Baron dengan wajah menyesal.


"Baiklah, sekarang ayo kita pulang! aku akan menghubungi rekan bisnis yang lain, mungkin mereka tau dengan nama Eno, karena kita tidak tau kepanjangan Eno itu apa," ucap Fathir lagi.


Akhirny Baron dan istri pulang, begitu juga Fathir dan anaknya juga Saila.


Di perjalanan, Huda terlihat senang dan slalu menatap wajah cantik Saila.

__ADS_1


"Pa, kapan kami boleh menikah?"


Kelihatannya Huda tidak sabar ingin menikahi Saila.


"Kapan pun kalian siap, namun kita perlu mencari ayah Saila dulu, untuk jadi wali nikah," ucap Fathir.


"Tapi bisa di walikan 'kan ke wali nikah?" tanya Huda lagi.


Sementara Saila tampak biasa dan tidak merespon.


"Kita tunggu dulu satu bulan ini."


***


Satu bulan pun telah berlalu, hasil tes DNA Saila, Fathir dan Baron telah kekuar, namun hasilnya sangat jauh, dan itu membuktikan kalau Saila bukanlah anak mereka.


Tuh kaaan, susah cari si bapak, kalau wanitanya di gilir, apalagi yang sekarang pergaulan bebas, baiknya pondokin aja anaknya, kayak anak Author insya Allah aman😁 hanya berusaha.


"Bang Ez, mau makan," ucap Zahwa .


Jam menunjukkan jam 2 malam.


"Sekarang?" tanya Ezra heran.


"Iya, lapar nih, coba pegang, dede nya nggak gerak gara-gara kelaparan," ucap Zahwa lagi, seraya mengambil tangan Ezra dan meletakkannya di atas perutnya.


"Baiklah, tunggu di sini, biar aku ambilin, cemilan aja ya? Roti atau biskuit," ucapnya.


"Nggak mau, aku mau nasi...," bujuk Zahwa memalas.


"Telor ceplok apa dadar?" tanya Ezra lagi.


"Ceplok, tapi jangan terlalu masak," jawabnya lagi.


Ezra pun keluar menuju dapur, setelah menemukan Wajan dan minyak goreng.


Byuuur


"Ha? Kenapa begini? Kok kayak bebek berenang sih? Nggak ada cantik-cantiknya," ucapnya


"Apa salah ya?"


Dia pun mengangkat telornya dan meletakkan di piring.


"Biar aku google dulu," ucapnya.


Dia kembali ke kamar.


Ceklek.


"Udah masak? Bentar sekali?" ucap Zahwa girang, dia pun bangun dan duduk di sisi ranjangnya.


"Belum, hi hi, aku mau ambil HP dulu," ucapnya.


"Ngapain masak bawa HP Bang?"


"Ada deeeh," sahut Ezra.


Dia pun kembali ke dapur, membrosing cara memasak telor ceplok. Setelah lama menunggu,


"Dapat," ucapnya.


Dia khusu membaca ketika tiba-tiba.


Hap


Sebuah pelukan melingkar di pinggangnya.

__ADS_1


"Sabar sayang... Ini lagi berusaha," ucap Ezra terdengar mesra.


Tak ada suara, hanya pelukan yang semakin erat yang Ezra rasakan.


"Nah, aku udah paham, tunggu ya, biar aku masakin dulu,"


Ezra berjalan mendekati wajan, namun pelukan itu tidak terlepas.


"Sayang, gimana mau masak kalau begini?" ucap Ezra, masih tak ada sahutan.


Akhirnya Ezra pun mengalah, dia mengambil wajan dan memasak telor mata sapi dengan masih berpelukan.


"So Sweet banget gini, rasa pengen gini terus, untung aja kami nggak jadi milik orang lain," ucap Ezra.


Setelah beberapa saat, telor pun masak.


"Bang Ez?"


Tiba-tiba suara Zahwa terdengar jauh, bukan dari belakang pundaknya.


"Ha?"


Pelukan itu pun tiba-tiba terlepas. Dengan cepat Ezra berbalik dan terbelalak.


"Kau___?" Ezra kaget saat melihat orang yang memeluknya ternyata Saila.


Tanpa rasa bersalah Saila pun duduk di kursi ruang makan itu.


Sementara Zahwa yang memang lagi hamil dan sensitif pun meneteskan air mata dan masuk ke dalam kamarnya.


"Kurang ajar kau wanita murahan," Ucap Ezra merasa emosi.


Kan udah di bilang Rangga, kalau tengah malam dia tidak berani keluar kamar, karena perempuan ini seakan kehausan😁


Zahwa membenamkan wajahnya di bantal, sakit dan kesal.


"Sayang, aku tidak tau kalau dia itu bukan kau, sejak tadi aku mengira itu adalah kau, sungguh!" ucap Ezra membujuk.


"Tapi mengapa Abang nggak kenalin tangannya kek' cincin kawin kita kek'" ucap Zahwa sangat kesal dan kecewa.


"Mana sempat aku mikir ke situ Hwa!"


Ezra mencoba memeluk istrinya erat.


"Lepas!"


Zahwa yang dulu sangat sholehah dan sopan, entah mengapa di kehamilannya ini menjadi agresif dan pemarah ya.


"Sayang, maafkan aku ayo makan! Ini udah masak kok," ucap Ezra.


Ezra membawa telor mata sapi itu tanpa nasi karena tergesak-gesak.


"Hiks hiks hiks huaaaaa,"


Tiba-tiba Zahwa menangis nyaring.


Tok tok tok


"Zahwa, ada apa?"


Shaina yang mendengat pun jadi kaget.


Ceklek.


Ezra membukakan pintu.


"Mama, tolong bujuk Zahwa, aku salah, tadi begini___," Ezra menceritakan kejadian di dapur tadi.

__ADS_1


Shaina pun mengerti. Dan dia tersenyum.


BRSAMBUNG...


__ADS_2