Mendadak Jodoh

Mendadak Jodoh
Telepon dari Bram


__ADS_3

Diba memandikan wanita itu sambil meneteskan air matanya. Rangga yang melihat itu dari dalam rumah merasa heran kemudian perlahan berjalan mendekati istrinya.


"Sayang... kenapa kau menangis?"tanya Rangga.


"Gaga? Aku teringat ibu, di mana Dia sekarang?" ucap Diba terdengar sedih.


"Apakah aku harus mengirim intel? Agar bisa mendapatkan ibumu kembali?" tanya Rangga.


"Tidak usah Ga, lagian kami juga sudah ikhlas kok. Aku sudah menganggap bibi dan paman adalah orang tuaku sendiri, jadi aku sudah mengikhlaskan ibuku pergi jauh," ucap Diba seraya menunduk.


"Taoi kalau kau sedih, aku juga sedih sayang," tambah Rangga.


"Aku nggak papa, apalagi ayahku, sejak di dalam kandungan, Ayah sudah pergi meninggalkan kami, kabarnya, dia menikah dengan wanita tajir. Dan saat aku baru lahir, Ibu juga pergi meninggalkan aku. Jadi bibi dan paman lah orang tuaku. Aku tidak merasa mereka adalah bibi dan paman, melainkan merekalah orang tua kandungku yang sebenarnya," ucap Diba.


"Heeeemm," geram ibu yang sedang di mandikan Diba, mengarahkan kayu ke arah Rangga.


"Sayang, awas!" Rangga sangat khawatir, kakau wanita itu menyakiti Diba.


"Dia marah sama Kamu Ga, Dia kira, kamu nyakitin aku, makanya dia marah," ucap Diba.


Rangga pun kembali masuk ke dalam rumah, sambil mengintip di balik tirai jendela kacanya. wanita itu kembali tenang setelah Rangga tidak terlihat lagi. Wanita itu sudah terlihat segar dan diberikan baju baru oleh Diba. Kemudian Rangga menelpon Dinas Sosial setempat untuk membawa wanita itu.


Saat wanita itu dimasukkan ke dalam mobil. Tampak dia melambai ke arah Diba, seakan Dia tidak rela berpisah dengan Diba.


"Sayang... kenapa dia terlihat sedih?" tanya Rangga.


"Iya ya, Dia juga terlihat sedang menangis, mengapa dia sangat sensitif saat melihat wajahku? "tanya Diba.


"Aku juga merasa ada yang aneh dengan dia, atau cuma perasaanku saja?" tanya Diba lagi.


"Sudahlah sayang... ayo kita masuk ke dalam!" ajak Rangga.


Diba dan Rangga pun akhirnya masuk ke dalam.


Sementara wanita yang dibawa oleh dinas sosial itu tampak menangis di dalam mobil.


"Anakku... anakku," racaunya.


Sementara para petugas hanya mengira bahwa wanita itu sedang mengingat anaknya yang entah di mana.


***


Rina tampak sedang asik menerima telepon dari Toto di kamarnya. Sepagian ini Rina belum keluar dari kamarnya, dia tampak asik menerima telepon dari Toto. Hingga tak terasa jam sudah menunjukkan jam 11.00 siang.


"Sayang... maaf ya... mungkin untuk beberapa hari ke depan, kita tidak bisa lagi bertemu, karena sepertinya Huda mulai mencurigai kita. aku takut hubungan kita akan terbongkar," ucap Rina.

__ADS_1


"Pasti aku tidak sabar untuk menunggumu, aku sangat merindukanmu, sehari saja tidak bertemu, serasa 1 bulan, kau atur siasat lah biar kita bisa bertemu Rin," ucap Toto.


"Nanti aku kabari lagi ya, saat ini aku benar-benar tidak bisa untuk menemui mu," ucap Rina.


"Tapi kan kita bisa janjian di warung es kelapa, atau warung makan dekat rumahmu, kau 'kan bisa bilang kalau kau mau makan makanan luar," bujuk Toto lagi.


"Iya... nanti aku pikirkan lagi ya, tapi Sayang, jangan lupa bonusnya kamu transfer ya!" ucap Rina.


Rina tidak menyadari, ada sepasang telinga yang sedang mendengarkan pembicaraan mereka di balik pintu kamarnya.


"Mana mungkin aku mentransfer bonus padamu, kalau aku saja tidak bisa setor padamu," ucapToto.


"Aaah, nanti aku cari cara, yang penting, kamu harus transfer dulu ya, please!" rengek Rina.


"Iya Sayang, nanti aku transfer, tapi kamu harus janji untuk menemui ku minggu depan, aku tidak bisa lama jauh darimu," ucapnya.


"Iya... Aku usahakan ya," sahut Rina.


Mereka pun menyudahi telepon mereka.


Ceklek


Pintu terbuka.


***


Zahwa tampak sibuk memasak di dapur bersama mertuanya, siang ini Mita sengaja meliburkan semua pembantunya untuk memasak.


Sementara Ezra yang menemani Arsy tampak juga selalu menatap wajah istrinya itu. Ezra merasa, wajah Zahwa adalah candu baginya.


"Ezra... kenapa kau selalu menatap wajah Zahwa? apakah belum puas kebersamaan kalian selama ini?" bisik Umminya.


"Umi... entahlah... aku merasa sangat takut kalau Kehilangan Zahwa saat ini, apalagi kondisi fisikku yang seperti ini Mi," ucap Ezra.


"Tidak mungkin lah Zahwa meninggalkan kamu Ezra, Zahwa itu wanita yang sangat solehah, jadi kamu jangan berpikiran macam-macam," ucap Mita.


Zahwa yang asik memotong sayur mendekati Ezra yang ada di depan pintu dapur.


"Kalian bicarakan apa sih? Kok pelan banget, kayak enggak ingin aku mendengarnya," tanya Zahwa.


"Zahwa Sayang tidak apa-apa kok, aku cuma bahas sedikit perusahaan, Aku kan belum bisa ke perusahaan," ucap Ezra berbohong.


Sementara Uminya hanya menatap Zahwa.


"Oh masalah perusahaan? Abang tenang aja, Rangga sudah menghandle semuanya kok, lagian paman Pasya juga kadang-kadang datang kemari, untuk melihat perusahaan Pusat, walaupun sebenarnya Paman Pasha sangat sibuk di perusahaan cabang, yang sangat berkembang. Tapi beliau tidak lupa kok sama perusahaanpusat."

__ADS_1


"Iya sayang... kamu tidak usah khawatir, Pamam dan adik iparmu itu, pasti bisa kita andalkan," ucap Mita lagi.


Mita pun berjalan meninggalkan mereka berdua.


"Sayang... Apakah kamu tidak minder bersuamikan lelaki cacat seperti aku?" tanya Ezra.


"Bang... kenapa Abang bertanya seperti itu? selama ini aku tidak pernah mempermasalahkan itu. Jadi Abang jangan bertanya begitu," ucap Zahwa.


"Tapi aku ingin tahu, sebenarnya, apa yang kamu rasakan saat berjalan dengan seorang laki-laki cacat seperti aku?" tanya Ezra lagi.


"Stop bang... aku tidak mau membahas ini lagi, perlu Abang tahu, mau Abang cacat kek, nggak kek, bagiku Abang tetaplah suamiku yang paling baik di dunia ini," ucap Zahwa.


Zahwa pun meninggalkan Ezra menuju ke dapur kembali, menyusui Mita.


"Tapi aku penasaran Seperti apa isi hatimu," suara Ezra tampak meninggi agar Zahwa mendengar.


"Isi hatiku? Isinya tetap hati bang, masa iya hatiku diganti dengan hati ayam, hi hi hi," canda Zahwa seraya tertawa kecil.


"Ish, kau itu, slalu saja membuat candaan, aku serius," teriak Ezra lagi.


"Aku juga serius Bang," sahut Zahwa tak mau kalah.


Mita yang mendengar pembicaraan anak dan menantunya hanya bisa geleng-geleng kepala.


"Ada-ada saja kakian," ucap Minta.


"Malam ini kita nginep di sini aja yuk!" ucap Zahwa.


"Apa tidak masalah? Kita kan cuma bilang berkunjung sama Rina dan Huda," ucap Ezra.


"Tinggal telepon saja 'kan beres," ucap Zahwa.


Tiba tiba Hp Ezra berdering dari dalam kamar. Ezra pun segera menuju kamarnya dengan berjalan perlahan. Dia kaget saat melihat nama yang tertera di layar hp-nya


"Bram? Gumamnya kaget. Sangat jelas nama yang tertulis di hp-nya adalah nama Bram


"Sayang... Siapa yang telepon?" tanya Zahwa dari dapur,.


"Zahwa cepat kemari!" teriak Ezra lagi.


Zahwa yang mendengar Ezra terdengar panik pun segera menyusul ke kamarnya. Kemudian Ezra menerima telepon itu


"Hello..." Tak ada suara Bram tetap tak ada suara


BERSAMBUNG...

__ADS_1


__ADS_2