
Tap tap tap.
Rombongan Dokter dan Perawat memasuki ruang rawat Fathir. Shaina dan Ezra yang ada di ruangan itu tampak cemas dan khawatir, Zahwa yang di rawat di ruangan itu pun belum siuman.
"Kalian keluarga Tn.Fathir?" tanya Perawat.
"Iya Bu," jawab Shaina sigap.
"Maaf Bu, kami hanya menyampaikan hal terburuk yang mungkin saja terjadi," ucap Asisten Dokter. Sementara Dokter mulai menanyakan kondisi lainnya tentang Fathir, dan selesai memeriksa.
"Tolong kau jelaskan pada Dia semuanya tentang pemeriksaan kita kemaren!" titah Dokter.
"Naik Dok,"
Sang Dokter pun keluar meninggalkan ruangan. Sementara Asistennya tampak menghirup nafas dalam sebelum menyampaikan hasilnya.
"Begini Bu, sepertinya bagian dalam organ tubuh suami anda mengalami kerusakan karena tabrakan itu, dan ada anggota bagian dalam yang kami belum bisa pastikan benar atau tidaknya, jadi kami harus mengulang pemeriksaan, namun jika apa yang kami duga sebelumnya benar, maka kemungkinan itu akan menjadi pembusukan dan harus operasi, tapi___ walau pun di operasi, bisa saja pasien tak terselamatkan," ucapnya.
"Ya Allah, tolong yang terbaik Bu," ucap Shaina pasrah.
Badannya lemes tak bertenaga, Rangga pun menggandeng mamanya berdiri di sisi yang mama.
"Baiklah, tolong ibu yang sabar dan berdo'a."
Perawat itu pun pergi meninggalkan ruangan.
"Rangga... hiks hiks hiks," Shaina menyandarkan kepalanya di pundak sang anak, dadanya seakan sesak.
"Bang... Di mana ini?" tanya Zahwa yang sudah terbangun dari pingsannya.
"Sayang, udah bangun? ini minum dulu!"
Ezra pun menyodorkan air mineral botol pada istrinya.
"Bang, kenapa tanganku di infus? Aku nggak sakit kok," ucap Zahwa terdengar lemah.
"Nggak papa kok, biar kamu kuat di infus vitamin aja ini," Ezra membelai kepala istrinya.
"Papa bagaimana?" tanyanya lagi.
"Nggak papa kok, Papa akan baik-baik saja, udah di tangani Dokter kok, kamu jangan memikirkan Papa ya! biar kamu dan bayi kita sehat, kamu harus makan, mau makan apa? Biar aku carikan sebentar." ucap Ezra lagi.
Sementara Shaina terpaksa menahan tangisnya dan hanya menelungkupkan kepalanya di bantal dekat Fathir, agar Zahwa tidak mendengarnya.
"Mama, jangan sampai Kak zahwa tau masalah Papa," bisik Rangga pada Shaina.
"Hmmm," Shaina hanya mengangguk.
"Papa... Mama, bagaimana dengan Papa, kenapa dia belum bangun?" tiba-tiba Zahwa memaksa bangun dan membawa infusnya di bantu Ezra mendekati sang ayah.
__ADS_1
"Zahwa, kamu istirahat saja, Papa akan baik-baik saja kok, Papa pasti senang kalau kau bisa menjaga cucu pertamanya dengan baik, kalau kau merasa sehat, baiknya kau istirahat di rumah saja ya?" pinta Shaina. Dia khawatir kalau Zahwa di rumah sakit, malah dia akan mendengar kondisi Papanya yang kritis.
"Iya Kak, Kaka pulang saja sama Kak Ezra! di sini banyak penyakit yang mungkin bisa menjangkiti ibu hamil Kak," bujuk Rangga juga.
"Aku nggak papa kok, aku mau lihat kondisi Papa setiap saat," sahut Zahwa.
"Tapi aku nggak bisa istirahat kalau di sini Hwa, aku tidak terbiasa tidur di tempat ramai, belum lagi nanti kalau perawat jaga cek kondisi orang sakit,"
Ezra memang sengaja ngomong begitu, agar istrinya mau di ajak pulang, karena Ezra nggak mau kondisi Zahwa memburuk, kalau nanti perawat datang dan menceritakan kondisi Fathir lagi.
"Bang Ez pulang saja, biar aki sama Mama jagain Papa," ucapnya lagi, membuat Ezra kaget begitu juga Rangga.
"Kak, Kakak itu sudah bersuami, harus nurut sama suami, bagaimana nanti kalau Kak Ezra malah sakit," sahut Rangga mendukung perkataan Ez sebelumnya.
"Tapi aku ingin tahu kondisi Papa Rangga,"
"Kan ada aku dan Mama yang jagain Papa, Kakak pulang aja ya!" ucap Rangga lagi.
"Iya Sayang, kamu pulang saja, kasian bayimu nanti kalau terkena virus," ucap sang mama.
"Baiklah, tapi Mama janji, slalu kabarin kondisi Papa ya!" pintanya.
"Iya sayang,"
Akhirnya Ezra tersenyum dan berberes untuk membawa pulang Zahwa. Setelah selesai administrasi karena Zahwa sempat di rawat, mereka pun pergi meninggalkan Rumah sakit.
Di perjalanan, Zahwa tampak murung, entah mengapa hatinya sangat resah.
"Nanti Mama pasti mengabari kita kalau ada apa-apa, aku tidak mau kamu sakit makanya aku berpura-pura tidak bisa tidur kalau di tempat keramaian, padahal, meski di lapangan bola saja aku bisa tertidur pulas, ini demi kamu dan bayi kita Hwa," ucapnya.
"Hups(menarik nafas dalam)jadi Abang berbohong?" tanya Zahwa.
"Terpaksa, kamu juga ngeyel nggak mau nurutin," jawabnya.
"Baiklah, tapi ingat kalau mama mengabari sesuatu, tolong kasih tau aku!" pintanya.
Dret.
Pesan masuk di HP Ezra.
"Bang, Papa meninggal, kasih tau Kak Zahwa lelan-pelan" Wa dari Rangga.
"Innali... atagfirullah," Ezra hampir keceplosan.
"Ada apa Bang? Kok Innali... Siapa yang meninggal?" tanya Zahwa panik.
Ezra segera menyimpan HPnya.
"Nggak kok, nanti di rumah aja, aku lagi fokus nyetir nih," jawab Ezra.
__ADS_1
"Abang kok kayak panik gitu? siapa Bang? Zahwa malah terus menanyainya seakan dia masih penasaran dengan apa yang terjadi.
"Nggak papa, aku lagi konsentrasi nyetir nih, aku juga trauma mendengar kisah Huda, mereka kecelakaan, makanya aku harus hati-hati," ucapnya.
Akhirnya Zahwa diam dan menyandarkan diri di sandaran duduk.
***
"Mama, ayo!"
Rangga menggandeng mamanya untuk berdiri dan duduk di sofa, karena jasad Fathir akan di bawa ke rumah duka, dan akan di makamkan hari ini juga.
"Rangga hiks hiks hiks," dia terus terisak dan memegangi dadanya yang sesak.
Semua urusan telah di selesaikan Rangga. Saatnya mereka pulang ke rumah.
"Ma, ayo kita pulang,"
"Ma, kenapa secepat ini? Aku bahkan belum sempat berbagi banyak dengan Papa, kenapa Papa pergi Ma?" Huda yang masih mengenakan infus dan berada di kamar Papa nya pun menangis di hadapan Shaina.
"Kamu biar di rawat saja, kamu juga sangat parah, kamu jaga istrimu saja ya!" pinta Shaina.
Tak ada yang bisa di lakukan Huda, karena dia juga sedang terluka parah.
Akhirnya semuanya selesai, Shaina, Rangga dan jasad Fathir lun di bawa pulang ke kediamannya untuk di makamkan.
"Bagaimana dengan Kak Zahwa Ma?" tanya Rangga.
"Mungkin Ezra akan bisa menjelaskannya.
***
"Sayang, kamu makan dulu ya, ayo!"
Ezra memaksa Zahwa ke dapur dengan menarik tangannya.
"Aku tidak selera Bang," uapnya.
"Nanti kamu sakit,"
"Huaaaaaa... " terdengar suara keras tangisan Yola di kamarnya.
"Kenapa dengan Yola?" tanya Zahwa penasaran, dan ingin mendekati Yola, namun Ezra melarangnya.
"Kamu harus makan, kalau ksu tidak makan, maka aku tidak akan tinggal di sini lagi, kita tinggal di rumah Ummi saja," bentak Ezra sedikit meninggi, karena kalau Zahwa tau Papanya sudah meninggal, pastilah Zahwa semakin tidak bisa makan, dan entah sampai kapan ini terjadi, tentu janinnya lun akan terganggu.
"Tuan Nona," Bibi menyambut dengan mata sembab.
"...." Ezra meletakkan telunjuknya di hidungnya memberi isyarat pada Bibi agar diam.
__ADS_1
BERSAMBUNG...