Mendadak Jodoh

Mendadak Jodoh
Mulut tak Beradab


__ADS_3

Zahwa yang memang lagi bad mood pun berdiri.


"Ma, aku ke kamar dulu, kepala terasa pusing nih," ucapnya seraya berjalan keluar dapur menuju kamar.


"Shaina, kamu 'kan belum makan? Ayo makan dulu!" ajak Mita.


"Iya Zahwa, ayo! Kasian anakmu nanti kurang gizi," sahut Shaina juga.


"Aku nunggu Bang Ez saja Mi, Ma, kalian makan saja," sahutnya lagi.


"Manja... Mentang-mentang banyak yang perhati in," cerucus Saila sambil terus memakan nasinya lahap.


"Saila, baiknya kau perbaiki sikapmu itu!" ucap Shaina lembut, namun sebenarnya dia lagi marah.


"Ma, apa salahku? aku berkata benar 'kan? Masa makan aja nunggu suami?" sahutnya lagi.


"Shaina, ayo! Nggak papa kok," Mita pun mengajak besannya keluar dari dapur. Bibi yang lagi mencuci piring dan lain-lain lun jadi geram, dia sengaja memasak untuk Zahwa dan yang lainnya, malah di makan oleh Kunti lagi.


"Non Saila, kamu itu harus punya adab sama mertua, mereka lagi berduka, jangan seenaknya kalau ngomong," nasehat Bibi.


"Bibi itu di sini tugasnya hanya masak dan bersih-bersih, nggak di gajih untuk ceramah juga kalee, lagian dia itu bukan siapa-siapa gue, mertua juga bukan! Dia itu nggak ada kaitan darah sama Huda, heh Mertua! Mertua dari hongkong!" ucapnya sewot.


"Dasar mantu durhaka," gumam Bibi.


"Heh, apa kau bilang? apa kau ingin ku tendang dari sini heh? Kalian semua sebentar lagi akan ku usir dari rumah ini, seenaknya aja kalau ngomong, numpang juga," Saila sangat marah saat mendengar kata-kata Bibi.


"Kalau bukan karena Nyonya besar, sekarang pun aku langsung angkat kaki dari sini," balas Bibi berani.


"Silahkan sana pergi! Biar jadi pengemis jalanan, eh iya, pengemis jalanan 'kan banyak yang kaya, sana__sana!" usir Saila.


"Eh Saila, sampai mati pun aku tidak akan jadi pengemis, lagian pengemis itu nanti di akhirat hanya bawa tulang berbalut kulit karena suka minta-minta, amit amit."


Btuk


Bibi pun pergi meninggalkan dapur, dia masuk ke kamarnya dan membereskan pakaiannya, sepertinya dia mau berhenti kerja beneran.


Ta tap tap.


Bibi terlihat keluar kamar tanpa membawa apa-apa menuju luar dapur.


Tok tok tok


"Assalamualaikum,"


Ceklek

__ADS_1


Bibi mengetuk pintu Zahwa, karena dia tau ada 3 wanita hebat di dalamnya.


"Wa alaikumsalam, Bibi, ada apa?" ucap Shaina


"Maaf Nya, aku mau berhenti kerja," ucapnya.


"Lho, kok mendadak? Bagaimana kami mencari gantinya?" tanya Shaina.


"Aku udah nggak kuat Nya, Saila itu kasar sekali," sahut Bibi.


"Jangan di dengerin, biarin aja," ucapnya.


"Maaf Nya, mungkin aku mau pulang kampung saja, lagian ibuku juga lagi sakit-sakitan, maaf Nya, aku mau pamitan,"


Bibi nggak bisa lagi di bujuk, akhirnya Bibi pun berhenti kerja hari itu juga.


"Bi, besok aja pulangnya, biar nunggu Rangga datang ya?" ucap Shaina. Bibi pun mau menunggu Rangga, Rangga yang dulu pernah di asuhnya, kini sudah besar.


Tepat jam 6 Rangga dan Ezra datang.


"Sayang, Kau tidak apa-apa?" Zahwa menyongsong kedatangan suaminya.


"Sayang, Mmmmch mmmch,"


Ezra menciumi wajah istrinya membabi buta, seakan tidak bertemu berhari-hari. Dia tidak perduli dengan orang-orang yang ada di sekitarnya. Mereka pun terpaksa mengalah dengan berpaling pura-pura tidak melihat.


Rangga dan yang lainnya pun menoleh, namun mata Rangga sangat tajam dan menatap Saila seakan ingin menerkamnya.


"Ayo kita masuk!" ajak Shaina, yang merasa suasana udah memanas dengan satu ucapan Saila saja, bagaimana kalau Saila berkata banyak, bisa perang Rangga dengannya.


***


Bibi resmi berhenti, Rangga sudah,berusaha membujuk, namun dia tidak mau, alasan sudah sangat tua dan cape.


"Kenalin, ini pembantu baru di rumah kita!" ucap Saila memperkenalkan seorang wanita masih terlihat muda.


"Lho, kok nggak bilang-bilang mau nyari pembantu baru?" ucap Shaina.


"Mengapa harus bilang? Ini 'kan rumahku juga, gajih nya pun dari uang suamiku, bukan dari suami irang," ketusnya.


"Saila! jaga ucapan mu sama orang tua!" bentak Huda yang juga ada di dapur sambil makan lagi.


"Mas, aku 'kan menantu di sini, agar aku bisa nyaman, biarkan dong aku milih pembantu sendiri, sesuai kriteria aku," sahutnya.


Oh iya, Saila belum menyerahkan kevirginan nya lho! Dia slalu beralasan sedang dapet. Sebenarnya dia tidak rela Huda yang membobol, dia masih mengincar Rangga atau Ezra yang sangat tampan.

__ADS_1


"Tapi kamu nggak sopan," ucap Huda lagi.


"Sudah-sudah, kalian selesaikan makan, dan cepat ke kantor, Saila, kamu ikut ke kantor 'kan?" tanya Shaina, berharap hari ini rumah damai tanpa Saila.


"Senang ya, kalau aku ikut ke kantor, tidak ada yang atur rumah ini? Aku ngfak jadi ke kantor, hari ini mau beres-beres rumah, Mas, kasih uang yang banyak, aku mau shoping juga," ucapnya.


"Iya, nanti di kantor aku transfer, sekarang aku telat,"


Huda pun mempercepat makannya.


Sementara Ezra yang masih duduk santai di kamarnya karena merasa kurang enak badan asyik ngobrol sama sang istri.


"Sayang, gimana perasaan kamu sekarang?" tanya Ezra


"Alhamdulillah baik Bang, tapi kayaknya diriku nggak baik-baik saja, kalau sampai 3 jam nggak ketemu Abang, aku merasa gelisah, atau karena takut sebab kejadian kemaren ya?" ucapnya, sambil bersandar manja di pundak sang suami yang asyik nonton televisi sambil makan cemilan.


"Aku akan cuti kerja sebulan ini, kalau masih kurang, nanti aku nambah cutinya sama Ummi, atau aku berhenti kerja saja, biar kita minta uang Ummi aja," canda Ezra sambil menyunggingkan senyum.


"Malu ah, udah besar dan punya istri, masa minta uang mulu."


"Kamu 'kan nggak bisa jauh dari Abang ganteng ini 'kan?" sanjungannya sendiri.


"Ih, muji diri sendiri, udah nggak ada yang muji ya?" canda Zahwa kemudian.


"Ha ha,"


Mereka tertawa bersama, hingga akhirnya kedekatan itu membuat Zahwa terangsang, Hormon Bumil sedang tinggi, satu ronde pun selesai. Mereka mandi bersama, setelah mengeringkan rambut, mereka pun keluar menuju dapur.


"Makan tuan?" Bibi baru itu menawari makan buat Ezra dan Zahwa.


"Astagfirullah," Ezra kaget saat melihat Bibi baru itu hanya menggunakan Rok selutut dan baju kaos biasa, usianya hanya baru menginjak 30 tahun.


"Mbak, maaf, tolong di ganti baju dan bawahannya, juga di rumah ini pembantu harus menutup aurat," ucap Zahwa.


"Maaf Nona, ini baju pemberian Non Saila, dia bilang bajuku bekerja ya seperti ini, aku hanya menurutinya," sahut Bibi.


"Baiklah, nanti aku akan ngomong, Bang, ke kamar saja, nanti aku bawakan makan!" ucap Zahwa.


"Baiklah," Ezra pun pergi ke kamarnya.


Saat Zahwa mengambil nasi.


"Oooh, ada Nyonya besar ya baru bangun!" ucap Saila ketus.


"Saila__begini, aku ingin pembantu di rumah ini seperti peraturan sebelumnya, harus menutup aurat," ucap Zahwa.

__ADS_1


"Heh, suka-suka gue dong,"


BERSAMBUNG...


__ADS_2