Mendadak Jodoh

Mendadak Jodoh
Tes DNA


__ADS_3

Kakek pun terlihat termenung seperti memikirkan sesuatu. Wajahnya muram entah begitu keras dia memikirkan sesuatu yang belum dapat dia pecahkan.


"Huda, kita akan menyelidiki Rumah sakit di kota ini, karena dulu waktu istri Jery melahirkan, dia sedang berada di kota ini. Pertama-tama, kita harus tes DNA dulu, kalau DNA kita tidak cocok, berarti benar, kau bukanlah anak Jery. Kau tidak usah takut, aku percaya padamu, walau pun kau bukanlah cucuku, aku tetap akan memberikan warisanku padamu, paling tidak, separu dari harta yang ku miliki." ucap Kakeknya.


"Kek, aku tidak mengharapkan warisan Kakek, aku,bisa kuliah pun sudah sangat senang." ucap Huda sopan.


Akhirnya kakek Huda memutuskan untuk Tes DNA di Rumah sakit ini. Menunggu satu minggu baru bisa kelihatan hasilnya. Kakek juga sambil berobat jantung jadi tidak masalah menunggu selama itu.


...***...


"Sayang! Apakah kau pernah memikirkan sesuatu?" tanya Fathir.


"Memikirkan apa?" tanya balik Shaina heran.


"Apa mungkin anakku Yola tertukar dengan anak orang lain saat melahirkan?",tanya Fathir lagi.


"Hah? Bengbeng mencurigai anak Lelaki yang ada di parkiran kemaren? Apakah Beng mengira, kalau anak lelaki itu adalah anak Bengbeng dan tertukar dengan Yola saat melahirkan?" tanya Shaina makin bingung.


"Betul! Aku merasa begitu, bahkan instingku begitu kuat kalau dia adalah anakku." ucapnya lagi.


"Kok bisa? emang bagaimana dulu Mama Yola melahirkan?" tanya Shaina.


"Dia Secar, dan kami tidak tau kalau saat itu yang Sc ada beberapa orang," ucapnya


"Kalau Beng merasa penasaran, lebih baik Beng susuri saja kejadian silam, mungkin saja perasaan Beng benar, atau, tes DNA saja Yola, kan lebih cepat ketahuannya, kalau memang Yola bukan anak Bengbeng, kemungkinan Pemuda tadi adalah anak Beng beng, dan bisa langsung bicara baik-baik kan?" saran Shaina.


"Oh iya ya, oke, aku akan tes DNA, tapi kan Yola sedang di penjara? Bagaimana aku bisa melakukannya," Fathir pin jadi bingung, karena saat ini Yola tidak ada di Rumah.


"Bisa pakai rambut, biar aku cari di kamarnya."


Shiana pun masuk ke kamar Yola dan mencari sisir Yola. Setelah mengambil beberapa helai rambut Yola yang ada di sisirnya, dan membawanya ke Fathir untuk di tes DNA.


"Apakah Beng yakin ingin tes DNA ini?" tanya Shaina.


"Hemmm," Fathir mengangguk mantap.


"Baiklah, tapi jangan sampai Yola tau dulu semua ini, mungkin kita harus berhati-hati, agar dia tidak sakit hati, saat ini saja, mungkin dia merasa dendam atas perlakuan Bima padanya, hingga dia tega berkhianat pada keluarganya sendiri." ucap Shaina merasa sedih.


"Baiklah, aku pergi duku,ya___ Rangga! Tolong jagaMamamu untukku ya, kau tidak usah lergi ke mana-mana, lahian kau juga belum pulih benarkan?" tanya Fathir.


"Iya Pa, yang larah itu lukaku Pa, bukan luka Mama," ucapnya.


Karena yang terbakar 'kan kaki Rangga, malah Rangga yang suruh jagain mamanya yang sudah sembuh.


"Iya, iya, pokoknya kamu nggak noleh pergi ke mana-mana. Nanti biar aku cari bodyguard untuk jagain rumah ini juga Mamamu." ucap Fathir lagi, sambil berlari kecil menuruni beberapa tangga di teras rumahnya.


"Iya Pa,"


"Tak perlu Body Guard Pa 'kan di rumah aman-aman saja." ucap Shaina yang mengantar Fathir sampai teras.


Fathir pun pergi ke Rumah sakit untuk tes DNA.

__ADS_1


...***...


Zahwa tampak mulai bisa bangun, dia duduk di sisi ranjang sambil ngemil.


"Sayang, pakah kau jenuh di kamar ini? Sudah satu bulan sejak kau sadar hanya berada di kamar ini 'kan? apakah kau ingin keluar?" tanya Ezra.


Dia menggandeng pundak istrinya seraya menatap wajah istrinya yang sangat cantik, setiap pagi Mita slalu menyuruh para Aunty memandikannya dan mendandani Zahwa biar tetap seger dan cantik di mata Ezra, bahkan dia pun tidak terlihat seperti orang sakit.


"Tidak Bang, aku merasa belum kuat." ucapnya.


"Kita pakai kursi roda ya! Kita ngemall oke?" ajak Ezra.


Dia pun membawa wajah istrinya dan mencium kening istrinya lembut.


"Ah, tidak usah Bang, kita jalan-jalan di halaman saja, mungkin dedek bayi ingin melihat pemandangan di luar." ucap Zahwa.


"Baiklah."


Ezra pun mengambil kursi roda dan mengangkat istrinya pelan, lalu mendudukkannya di kursi itu. Mendorongnya dan membawanya ke halaman.


"Nyonya Muda sudah sehat? Alhamdulillah, selamat datang kembali Nyonya."sapa beberapa Aunty yang sedang sibuk di ruang tamu dan di halaman Kastel.


"Iya Aunty, alhamdulillah." sahutnya.


Ezra pun sangat gembira melihat keceriaan mereka menyambut Zahwa, akhirnya ada hal yang ingin dia lakuin.


"Hello semua Aunty, kalian semua ada berapa sih di rumah ini?" tanya Ezra tiba-tiba.


"Siang ini kita akan memboking restauran, jadi siang ini kita tidak usah masak, kalian noleh pesan makanan sepuasnya."


Ezra pun mengeluarkan Hpnya.


"Benarkah Tuan?" tanya Aunty.


"Apa aku pernah berbohong? Aku 'kan jarang bicara?" ucap Ezra sambil tersenyum tanpa menatap Aunty itu.


"I__ iya Tuan maaf, kalau begitu, biar aku kabarkan kepada Aunty yang lain." kata Aunty.


"Silahkan!" sahut Ezra.


"Ha, ada pesan masuk? Aku bahkan tidak membukanya dari semalam."


Ezra pun membuka chat dari Fathir, juga ada dari Rangga tapi dengan no baru.


"Ternyata, Mai itu adalah Zaira mantanmu." chat dari Fathir.


"A__apa? Jadi....?" Ezra merasa syok membaca pesan dari mertuanya.


"Ada apa Bang?" Zahwa jadi penasaran.


"Oh, tidak apa-apa."

__ADS_1


"Oh iya, kenapa mama tidak pernah menemui ku sejak aku siuman?" tanya Zahwa.


"Sebelumnya Abang mohon maaf, sebenarnya Mama dan Rangga sempat kecelakaan dan menghilang karena pingsan."


"Apa? Jadi___?"


"Tunggu dulu! tapi sekarang udah ketemu kok, nanti habis kita makan siang, kita akan ke rumah mereka." ucap Ezra.


"Benarkah? Alhamdulillah, janji ya? Habis makan kita ke rumah Mama!" pinta Zahwa pada suaminya.


"Iua sayang, ayo!"


Semua pembantu di Kastel itu pun di boyong Ezra ke Rumah makan mewah yang tidak jauh dari tempat tinggal mereka, Ezra sudah memboking seluruh restauran itu.


Mereka berangkat dengan 2 mobil dan satu bus mini.


Zahwa tampak senang sambil bersandar di pundak Ezra, Ezra pun demikian, senyum mengembang di bibir tipisnya.


"Huaaaak... Huaaaak." tiba-tiba Zahwa merasa mual dan ingin muntah.


Mita yang ada di kursi depan bersama sopir seorang perempuan menoleh.


"Ada aap Sayang, apa kau mual?" tanya Mita.


Sementara Ezra mengusap-usap pundak Zajwa.


"Iya Mi, mual rasa kembung gitu." ucap Zahwa.


"Sekarang bagaimana?" tanya Ezra yang mengoleskan minyak kayu putih di punggung Zahwa.


"Lumayan."


Mereka pun sudah sampai di tujuan. Semua Aunty turun dan duduk di kursi yang sudah tertata rapi. Setelah beberapa menit, hidangan pun siap.


"Maaf pa, semua tempat ini sudah di pesan." ucap pelayan yang menyambut tamu yang ingin masuk.


"Tapi aku hanya beli 2 porsi saja, tolonglah, kami pendatang di sini, 2 porsi saja, di bungkus, Kakekku sangat ingin makanan restauran ini lagi," pintanya.


"Tidak bisa Tuan maaf."


Ezra dan Zahwa pun menatap pemuda yang memaksa memesan makanan.


Deg


Jantung Zahwa berdegup kendang saat tak sengaja menatap wajah lelaki itu.


"Papa?" lirihnya.


"Ha? Papa?" Ezra malah bingung.


BERSAMBUNG...

__ADS_1


__ADS_2