Mendadak Jodoh

Mendadak Jodoh
Kemarahan Terpendam sang Ayah.


__ADS_3

Tok tok


Ceklek


"Kak Ezra mana?"


"Ooh Aisya. Maaf, Ezra tidak sempat membangunkan mu, karena mendadak."


"Mendadak? emang dia ke mana?"


"Ezra kembali ke indonesia."


"Ha? kembali? jangan bercanda dong Kakak-Kakak."


"Benar kok, coba kamu telpon, mungkin sudah sampai."


***


Zahwa dan Yola di rias di ruang tertutup, mereka sama sama cantik, walau wajah Zahwa jauh lebih cantik, namun mereka terlihat sangat mempesona.


"Mama, kenapa aku juga berdandan begini? kayak aku mau nikahan juga?" ucap Yola, namun dia sangat mengagumi dirinya yang sangat anggun di balik cermin.


"Tenang saja Sayang, kamu pasti penasaran kan? nanti kamu juga bekal tau kok."


Selesai Mike Up Yola pun bersiap menuju gedung pernikahan yang ada di balik ruangan rias.


"Sayang, apa kau siap?" bisik Shaina pada Zahwa.


"Siap Ma, Insyaa Allah."


Kembali butiran bening itu gugur tak terkendali.


Tok tok tok


Ceklek

__ADS_1


"Tunggu!"


Ketika wajah Fathir muncul di pintu, Shaina langsung mencegatnya.


"Kenapa aku tidak boleh masuk?"


"Karena mereka belum selesai berdandan. Beng Beng keluar dulu dong!" titah Shaina pada sang suami.


Padahal Shaina tidak ingin Fathir tau kalau Yola juga sedang berdandan ala penganten, tak ingin banyak pertanyaan, sebaiknya mencegat sebelum bertemu.


"Baiklah."


Fathir pun pergi.


Wajah yola di tutup dengan kain penganten menerawang, sangat cantik.


Yola di giring oleh penata rias ke panggung sementara Zahwa hanya diam di dalam ruangan, sebenarnya dia tidak akan kemana mana, hanya ingin menghindari kecurigaan Yola dan lainnya, maka dia pun berdandan ala pengantin.


Apakah Zahwa tidak jadi menikah hari ini?.


Ceklek


Hap


Rangga pun memeluk tubuh kakaknya sambil menangis. Hatinya sangat sakit melihat kakaknya sekarang.


"Seandainya saja aku bukan adikmu, aku bersedia menikahi mu sekarang."


"Ah kamu ini, hik hik hik."


Shaina, Zahwa dan Rangga menangis bersamaan.


"Kakak, maafkan aku, tak bisa mengetahuinya lebih awal."


Shaina pun berdiri dan keluar.

__ADS_1


"Aku harus memberitahukan ini pada Ayahmu Zahwa, dia harus menjadi wali Nikahnya."


Tap


Tap


Tap


"Beng, aku mau bicara."


Shaina merangkul tangan Fathir dan membawanya ke pojokan.


Sementara di panggung Yola yang tidak di kenali siapa pun sudah duduk menunggu calon mempelai pria. Mereka mengira dialah Zahwa, karena undangan tertulis atas nama Zahwa.


"Beng, tolong tenang dan jangan membantah."


"Ada apa sih? apa kamu juga ingin seperti mereka? hi hi," goda Fathir.


"Aku tidak bercanda Beng, tolong dengarkan!"


Shaina pun mulai berbisik dengan sambil mencengkram tangan Fathir kuat kuat.


Sementara tiba tiba wajah Fathir berubah naik pitam, matanya kadang melotot, melemas, dia menggenggam telapak tangan nya hingga membentuk bongkahan batu yang siap di lemparkan.


"Beng, ingat! jangan menggagalkan rencana kami, jangan mengacaukannya, kami sudah menyusunnya sejak sebulan yang lalu Beng." ucap Shaina.


"Sebulan yang lalu? lalu kalian merahasiakannya dengan aku? ayahnya sendiri?"


"Beng, kami sudah membayangkan, apa yang akan terjadi, kami sudah memikirkannya matang-matang, nah itu calon pria sudah datang. Acara di mulai jam 10. 00 sekarang sisa 20 menit lagi, ayo tenang!"


Shaina terus mencengkram tangan Fathir dan memeluk tubuh lelaki itu penuh kasih sayang.


"Sebenarnya hati kalian berdua ini terbuat dari apa? sungguh kalian wanita yang sama berhati mulia dan sabar, demi orang lain, kalian akan mengorbankan segalanya."


Fathir pun nampak meneteskan air matanya. Shaina pun menghapusnya.

__ADS_1


BRSAMBUNG...


__ADS_2