Mendadak Jodoh

Mendadak Jodoh
Rencana Licik


__ADS_3

Tampak Sasa pembantu baru Zahwa mondar mandir di dapur sambil memegangi HPnya, entah apa yang dia khawatirkan, wajahnya terlihat tegang tak beraturan.


"Sasa, kau sedang apa? Kok kayak setrikaan gitu toh, kayak orang mau lahiran aja," ucap Bibi disaat melihat Sasa yang mondar mandir.


"Oh, Bi, aku ke kamar dulu ya! Aku nunggu telepon Ibu yang kurang sehat," ucap Sasa sambil berjalan menuju kamarnya.


"Ya." Bibi pun menyelesaikan pekerjaan dapurnya, karena Sasa hanya mengerjakan bersih-bersih rumah, kalau masak memasak itu urusan Bibi. Sasa memasuki kamarnya dan langsung membuka teleponnya sambil berbaring, menutup kepalanya dengan bantal sambil tengkurap.


"Hello, bagaimana sih ini? gimana ceritanya? Kok kalian salah bawa orang?" ucap Sasa dengan seseorang di seberang jalan.


"Aku tidak tau, kalau kita salah bawa orang, trus sekarang bagaimana?" tanya orang itu si telepon.


"Cepat kembalikan anak itu ke Rumah sakit!" titah Sasa.


"Mana mungkin, pasti pengamanan Rumah Sakit sangat ketat," sahutnya.


"Trus gimana dooong?" Ucap Sasa.


"Aku juga bingung ini, bagaimana kalau Zaira tau, kita salah bawa orang," ucapnya takut.


"Sasa... Ayo, bersihkan dapur! aku mau mandi" ucap Bibi dari arah dapur.


"Iya Bi,"


Sasa pun menutup telepon, dan bergegas ke dapur.


***


Zaira tampak sibuk membersihkan tempat tidur bayi yang dia culik, iseng-iseng dia membuka FB dan membuka beranda Ezra.


"Maaaaa... Maaaaa, Mamaaaa," Zaira histeris saat melihat pemandangan yang sungguh tak terduga.


"Ada apa sih R?, bikin spot jantung aja kamu ini," ucap Sang Mama sambil mendekati Zaira,.


"Ma, lihat! Aisya sedang bersama dua anak kembar Zaira hari ini, apa ini foto lama? nggak kok ini baru,"


Terlihat di beranda Fb Ezra, Aisya berfoto dan menuliskan.


'Pagi yang cerah buat 2 ponakan ku yang menggemaskan'


"Masa sih Ra? Trus bayi ini siapa?" Mama Zaira jadi panik sendiri.


"Iya itu, aku telepon mereka dulu,"


Zaira pun mencoba menelepon ke 4 orang suruhannya itu, namun tak satu pun yang menyahut.


"Bagaimana?" tanya Mamanya cemas.

__ADS_1


"Tak ada sahutan Ma, masa kita harus kembali ke indonesia lagi untuk menyerahkan bayi ini?" ucap Zaira kesal.


"Kita juga belum tau ini apa benar salah atau gimana?" ucap sang Mama mencoba menenangkan diri.


"Iya Ma, kalau sampai salah, awas saja!" ucapnya dengan wajah kesal dan marah.


Zaira kembali menggendong bayi yang sudah 3 hari ini dia bawa ke Luar Negeri.


"Teus kalau benera salah gimana?" mama Zaira akhirnya memikirkan lagi dan merasa tak karuan.


"Sangat terpaksa kita kembali dan meletakkan kembali bayi ini di Rumah sakit itu, masa iya kita merawat anak orang, nggak mau ah," ucapnya lagi.


"Iya, ayo telepon lagi!" titah sang Mama.


Zaira kembali mengambil telepon dan menghubungi Sasa.


"Helo, Sa! apa kalian salah bawa Bayi heh? aku melihat Aisya pagi ini bersama bayi itu, ayo katakan!" desak Zaira di telepon, saat Sasa mengangkat teleponnya.


"I... Iya Ra, mereka salah nama," sahur Sasa gugup dan merasa takut.


"Kenapa kau tak beritahu kami, sekarang kami sudah di Luar Negeri, bagaimana kami kembali ke sana? sangat buang-buang waktu!" bentak Zaira kesal.


"Di Luar Negeri? kapan kalian berangkat? kenapa tidak memberitahu kami? Kami berencana membawa Anak itu dan menukarkannya dengan yang asli," ucap Sasa kaget. Ternyata Sasa tidak tau kalau Zaira sudah berada diluar negeri. Zaira juga tidak memberitahukan itu,


"Aaaaakh, sial sial," Zaira berteriak memaki maki.


"Aku akan membawa anak Ezra keluar dari rumah ini, kau bawa saja anak itu ke indonesia lagi, aku akan pergi dari sini, dan ini tidak akan salah lagi, karena langsung aku bawa dari rumah ini," ucap Sasa lagi.


"Baiklah, kami perlu mencari tiket dulu, ya audah, aku tutup,"


Zaira terdengar sangat kesal karena salah bawa orang.


"Bagaimana?" Mama Zaira bertanya lagi.


"Kita akan kembali ke indonesia, anak ini bukan lah anak Ezra ma, hups, mengapa sesial ini sih?" ucapnya.


"Waduuuuh, kamu aja ya! Aku cape Ra, masa harus naik pesawat 8 jam lagi sih?" protesnya.


"Ma... Mana boleh begitu? aku nggak bisa ngurus bayi Ma, Mama harus ikut," ucap Zaira.


Dia pun mengemas pakaiannya dan pakaian bayi juga pakaian Mamanya ke dalam tas.


"Mengapa orang-orang mu itu begitu ceroboh sih?" ucap mamanya kesal. Wajahnya cemberut.


"Iya Ma, aku juga kesal tau, udah ah, kali ini nggak bokeh gaga," ucap Zaira.


***

__ADS_1


"Bagaimana Kak? apakah kita memang harus mentransfer uang sebanyak itu?" tanya Rangga pada Ezra saat duduk di teras rumah.


"Iya, kita harus mengirimkan uang, tak apalah uang segitu, 100 juta, kita menunggu orangnya mengirimkan no Rekeningnya dulu," ucap Ezra.


Tak berapa lama, HP Ezra berbunyi. Ezra pun mengambil dan membuka chat dari seseorang yang berisi no rekening.


"Tunggu! bagaimana kalau kita lacak saja no ini, kita transfer dulu sedikit, baru kita lacak," ucap Rangga.


"Emang kamu punya teman yang bisa Dik?" tanya Ezra.


"Ada, sebentar,"


Rangga pun menghubungi temannya yang pintar dalam bidang itu, ahli Hacker Nomor HP.


Setelah Rangga menelepon orang itu, Mereka pun berangkat entah menuju arah mana, yang penting keluar dari rumah.


Dret...dret...


"Apa benar ini nomor Tuan Rangga?"


"Iya benar,"


"Kami menemukan mobil di pinggir jalan, dan ada surat surat penting di sini, dan nomor Hp anda Tuan,"


"Baiklah, tolong kau kirim alamatnya, terima kasih,"


Panggilan masuk dari nomor lain. Rangga pun menutup telepon dari orang itu, dan menerima panggilan baru.


"Aku menemukan lokasi mereka," suara teman Rangga.


"Baik, kirimkan lokasinya,"


Rangga dan Ezra pun menuju lokasi yang di maksud oleh temannya. Ezra melajukan mobilnya di jalanan yang lumayan sepi.


Sampailah di jalanan yang agak sepi. Rangga membawa 10 orang bawahannya, orang kepercayaan selama ini, karena diam diam Rangga emang slalu menempatkan 10 orang ini di sekeliling Zahwa setelah kejadian penculikan Ezra dulu.


Target terlihat sudah dekat, mereka pun berjalan kaki untuk menuju lokasi, agar tidak di ketahui.


Rangga memang pintar, dia menyuruh orang untuk bersepeda membawa kayu bakar jadi mata-mata ke lokasi. Benar saja, tampak di sebuah gubuk, para penculik itu sedang santai duduk di muka rumah kecil itu sambil merokok, saat pesepeda lewat, mereka tidak curiga, karena memang dia menyuruh orang kampung, seorang kakek tua.


"Jangan bergerak!"


Pasukan Rangga pun muncul tiba-tiba, membuat para penjahat tak berkutik.


Bruk


"Kak Ezra!" sapa Yola yang merasa senang atas kedatangan Kakak iparnya.

__ADS_1


BERSAMBUNG...


__ADS_2