
Yola dan Huda tampak sarapan bersama pagi ini. Yola melayani Huda dengan sangat baik, bahkan makannya pun pun terjeda-jeda saat Huda ingin mengambil lauk, Yola dengan sigap mengambilkan, sampai Huda selesai makan, Yola mengantarnya ke depan teras, walau Yola belum selesai makan.
"Mas, nanti siang aku mau menjenguk Kak Zahwa ke kantor polisi, setelah membersihkan kamar," izin Yola.
"Oke, kalau aku sempat, nanti aku juga akan ke sana," ucap Huda.
Huda pun pergi meninggalkan Rumah. Sementara Yola bergegas masuk, menyelesaikan makannya dan kembali ke kamar atas.
"Apa yang di rahasiakan nya kali ini, aku benar-benar telah kembali di tipu nya, siapa yabg dia belikan perkakas semahal ini?" gumamnya.
Dia pun mengambil kertas yang ada di dalam celana di belakang pintu. Yola bergegas berdandan seadanya, mengenakan kerudung besar dan pergi meninggalkan kamar.
"Aku akan pergi ke toko ini dulu, aku akan menanyakan atau aku harus melihat CCTVnya sekalian," gumamnya.
Yola pergi menaiki taksi yang telah Dia pesan sebelumnya. Meluncur menuju mall yang ada di struk belanjaan itu. Setelah Yola sampai, Dia pun turun dan langsung mencari alamat toko.
"Maaf Mbak, aku mau bertanya, apakah ini struk belanjaan di sini?" tanya Yola pada seorang karyawan di situ.
"Iya benar," ucap karyawan setelah melihat struknya.
"Apakah anda ingat? Orang yang berbelanja ini Mbak?" tanyanya lagi.
"Waaah, aku lupa Nona, soalnya banyak yang belanja di sini," sahutnya.
"Apakah anda ada CCTV, aku mohon Mbak, tolong aku, aku menemukan ini di kantong suamiku, aku mohon," ucap Yola.
"Tunggu sebentar," ucapnya.
Karyawan itu oun masuk ke dalam dan keluar bersama seorang wanita agak tuaan.
"Ada apa Nona?" tanyanya.
Yola pun mengutarakan maksud hati mendatangi toko itu, setelah bujuk membujuk, akhirnya wanita itu mau.
"Ayo!" ajak wanita.
Merek pun masuk ke dalam ruangan kecil yang ada di toko itu, memutar ulang kejadian tepat jam 3 kemaren siang. Dengan pelan.
"Nah itu suami saya," ucap Yola.
Setelah Yola melihat CCTV tentu saja dia kaget.
"Rina? Mengapa Dia ada di sini? Bukankah pagi kemaren Rina pulang kampung?" lirih Yola.
Yola pun mengambil gambar.
"Terima kasih banyak Bu, terima kasih," ucap Yola.
"Sama-sama," balasnya.
***
Pagi ini Rangga yang gantengnya bukan kaleng-kaleng tampak sedang sibuk menatap istrinya yang lagi duduk manis di depan cermin. Sesekali Dia pura-pura sibuk dengan HPnya saat kepergok Diba yang menatapnya dari dalam cermin itu.
"Gaga, ngapain sih senyum-senyum sendiri?" tanya Diba, saat Rangga kepergok menatapnya di balik cermin.
"Enggak kok, ini ada yang lucu, reel FB," sahutnya.
__ADS_1
Diba pun berjalan mendekatinya.
"Ayo kita makan, trus kita jenguk Zahwa di kantor polisi, aku usah selesai nih" ucapnya.
"Ayo!"
Mereka pun berjalan beriringan, namun Rangga kayaknya mulai Buncin.
Hap
Dia tangkap tangan Diba dan langsung di gandengnya, Diba hanya melirik sekilas kemudian berjalan berdampingan. Bibi yang melihat adegan itu pun tersenyum.
"Bi, silahkan istirahat biar aku yang layanin Tuan," ucap Diba.
"Iya Non."
Rangga Tersenyum." Emch"
Mendaratkan ciumannya di tangan Diba. Diba juga hanya melirik dan tersenyum.
"Gaga, kamu semakin hari semakin aneh saja ya, kenapa?" tanya Diba.
"Aneh gimana sih? biasa aja tuh," sahutnya.
"Iya... Kadang tiba-tiba merangkul, mencium, mencubit, eh kadang juga ngambek," ucap Diba.
"Masa sih? Aku kok nggak ngerasa ya," sahutnya.
Diba dan Rangga terpaut usia 3 tahun dengan Diba, Diba tentu saja lebih tua, karena Diba teman akrab Zahwa.
"Makan yang banyak, biar sehat dan bisa cari uang yang banyak buat kita nanti," ucap Diba.
"Eh, kayak minum obat aja," sahut Diba.
"Namanya juga penganten baru, hi hi," cengenges Rangga.
"Yeee, udah 2 bulan juga," sahutnya.
Mereka menghabiskan makan dan bersiap menuju kantor polisi.
***
"Nona Sasa, katakan dengan sejujur-jujurnya, apakah benar Anda bersekongkol dengan penculikan Arsya anak Tuan Ezra?" tanya penyidik.
"Tidak pak, aku tidak tau, sungguh," ucapnya.
"Tapi beberapa kali Anda tertangkap CCTV sedang berbincang yang di duga adalah penculik itu, jadi Anda tidak bisa berkelit," ucapnya lagi.
"Itu bukan saya, saya selalu berada di sisi Arsya Pak," jawabnya lagi.
Sasa terus tidak mau mengakui kalau Dialah yang merencanakan penculikan itu dengan Zaira dan ibunya.
"Baiklah, kalau begitu, dengan sangat terpaksa Anda kami tahan."
"Pak, jangan! Saya tida tau apa apa Pak, sungguh, mana berani saya melakukan persekongkolan dengan menculik anak majikan saya sendiri," ucapnya menghiba.
Sasa pun di bawa ke dalam sel tahanan sementara.
__ADS_1
"Bang, bagaimana ini Bang, di mana Arsyaku, ya Allah? Tolong beri kami Petunjuk Mu ya Allah," lirih Zahwa dengan berlinang air mata.
"Kita tunggu saja, polisi belum selesai mengintrogasi Sasa, mungkin Polisi punya cara sendiri nanti untuk mengungkapkan ini," bujuk Ezea.
"Kakak... " Rangga dan Diba sudah datang, penganten baru itu tampak segar dan berseri.
"Oh kalian," sapa Ezra.
"Sini, biar Arsya sama aku saja," ucap Diba.
"Ummi mana?" tanya Diba.
"Dia udah pulang pagi tadi, tadi malam kami menginap di hotel, pagi ini Ummi membersihkan diri dulu di rumah," ucap Ezra.
"Terus bagaimana perkembangan kasus Arsya?" tanya Rangga.
"Masih di tangani polisi," ucapnya.
***
"Bos, kenapa masih melamun?" tanya Asisten Bram.
"Aku masih memikirkan anak itu, kenapa ada anak semirip itu, apakah mungkin mereka kembar?" tanya Bram.
"Oooh, mungkin saja, lalu bagaimana sekarang?",tanya Asistennya.
"Aku harus mendapatkan perusahaan yang bisa ku beli, lalu pindah ke sini, untuk mendekatkan anak itu dengan orang tuanya, mungkin saja nanti Zaira terpeleset dan masuk dalam jebakan ku," ucapnya.
"Bos, lihat! Perusahaan Shinwa yang kemaren gagal kau beli, ingin mengajak kerja sama dengan lara investor, apakah Bos tertarik?" tanya Asistennya.
"Benarkah? Kebetulan sekali, ayo temui mereka, kita investasi yang banyak, biar kita juga bisa untung banyak," ucapnya.
"Ayo Bos, kita telepon mereka," ajak sang Asisten.
Akhirnya Mereka pun menelepon nomor yang tertera.
"Hello, aku Bram, maaf, aku menemukan nomor ini di koran online, dan ingin mengajak kerja sama," ucap Bram.
"Oh, iya aku Ezra, kita bisa bertdmu entar siang, tempat nanti aku tentukan, sekarang aku masih sibuk," jawab Ezra di seberang sana.
"Baik Tuan, siang jam berapa Tuan?" tanya Bram.
"Jam 2 siang ya," kata Ezra.
"Oke," sahutnya.
***
"Sayang, siang ini aku ada pertemuan dengan Klien, kamu pulang saja ya!" titah Ezra.
"Aku mau ikut Bang, di rumah juga aku pasti uring-uringan," ucapnya.
"Baiklah, kalau begitu nanti Aunty kita panggil juga buat nemenin Arsy," ucapnya.
Mereka pun merapikan bawaan yang ada di Hotel itu, karena sudah 2 malam ini mereka tidur di Hotel, karena ingin lebih dekat dengan kantor polisi.
Apakah Bram akan menanyakan perihal bayi Ezra kalau mereka bertemu?
__ADS_1
BERSAMBUNG...