
Yola mulai membuka matanya. Zahwa pun menyadari itu, namun dia berusaha untuk menyusun kata kata, agar tak menggoreskan luka di hati adiknya itu.
"Kakak."
Sapa Yola lebih dulu, karena Zahwa bahkan gugup untuk mengucapkan kata duluan.
"Yola, kau sudah bangun? syukurlah, kau tadi terbaring di lantai, dan ada darah, ku kira ada apa apa, ternyata itu hanya dapet ya? jadi aku ganti bajumu terlebih dahulu."
ucap Zahwa berbohong.
Dalam hati pun dia mengucap istigfar.
Ya Allah, ampun kan hamba, mungkin ini yang terbaik, hamba akan mencari cara dan mencari tau, siapa ayah dari bayinya ini.
Lirih hatinya.
"Berdarah?"
Yola malah terkejut, karena dia tau pasti apa yang terjadi.
Apakah aku ke guguran?
Bathinnya.
"Iya, tapi sudah kaka pasangin pembalut kok. Maaf, kaka tak izin dulu, karena kau tak sadarkan diri."
Permintaan maaf Zahwa.
Yola terdiam dan sedikit malu, karena mahkotanya telah di lihat oleh kakaknya.
"Tapi kakak nggak liat kok, asal pasang aja." ucap Zahwa lagi. Seakan dia tau apa yang dipikirkan Yola.
"Kita pulang saja kak, aku takut papa khawatir."
"Apa kau tidak papa? kalau masih kurang enak badan, biar istirahat di sini saja."
__ADS_1
"Tidak kak, aku mau pulang."
"Mbak, ini obatnya."
Zahwa sudah berbicara dengan dokternya, agar Yola di beri vitamin ibu hamil, obat penguat kandungan dan obat pendarahan.
"Terimakasih suster."
"Aku ke administrasi dulu ya, tunggu di sini."
Ucap Zahwa.
Setelah menyelesaikan Administrasi mereka pun pulang.
***
"Assalamualaikum."
ucap salam Zahwa.
Shaina sang mama menyambut heran ke datangan 2 gadisnya itu.
"Tadi Yola pusing Ma, jadi Zahwa bawa ke bidan."
Zahwa dan Yola sepakat tidak akan menceritakan hal ini pada orang tuanya.
"Ooh, ayo makan! papa sudah di dapur untuk makan sore."
"Zahwa sholat dulu Ma."
Zahwa mengantar Yola ke kamar, dan dia kembali ke kamarnya untuk sholat ashar, jam sudah menunjukkan jam 5 sore.
"Ya Allah, tolong tunjukan kebenaran ini, siapa ayah dari bayi yang di kandung Yola? lindungi dia dari syaitan yang menggodanya untuk menggugurkan kandungannya Aamiin.
"Aku tidak ingin bertanya padanya, mungkin itu membuatnya makin terluka, aku akan menunggunya bercerita sendiri."
__ADS_1
Gumam Zahwa.
Selesai sholat dia pun ke dapur.
"Rangga mana Ma?"
"Di kamarnya mungkin, dia jarang makan malam, katanya biar nggak ngerusak postur tubuhnya. Papa juga dulu gitu, apalagi saat papa terg*la gil* sama mamamu ini, ha ha ha, bahkan satu minggu pun papa nggak bisa makan." ucap Fathir.
"Gombal." sahut Shaina.
Zahwa ikut tersenyum.
"Emang Papa sama Mama ketemunya di mana?"
Pertanyaan ini yang sangat ingin Zahwa utarakan dari dulu.
"Mmmmm..." Shaina bingung mau jawab apa.
"Aaaah itu sudah lama, Papa sudah lupa, yang penting sekarang Papa sudah memiliki Mamamu seutuhnya."
"Oooh, Zahwa udah selesai nih, mau nemuin Rangga dulu, mau minta bantuannya, biasa..."
Zahwa pun pergi meninggalkan Shaina dan Fathir yang mungkin ingin mengenang masa lalunya yang aneh dan sedih juga lucu.
Tok tok tok.
"Masuk."
"Assalamualaikum."
"Wa alaikum salam, kakak? ada apa?"
Rangga heran, melihat kakaknya berkunjung ke kamarnya, karena sangat jarang kakaknya melakukan ini.
"Ada yang ingin aku bicarakan denganmu, ini sangat penting."
__ADS_1
BERSAMBUNG....