
Preman itu kaget, kini pipinya tampak biru, tangannya terasa nyeri karena pukulan dari Fathir.
"Kurang ajar kau!" Preman kembali mendekat, namun Fathir sudah lebih dulu melumpuhkannya. Mantan pembunuh bayaran di lawan.
"Aduuuuh, ampuun,"
Akhirnya ketua Preman kalah dan bersimpuh di kaki Fathir.
"Kalau kau mengulanginya lagi, kau akan tau rasanya kalau tulang-tulang mu ini ku patahkan, " gertak Fathir.
"Maaf Tuan, kami akan pergi dan takkan mengganggu lagi," ucapnya.
Mereka pun pergi, semua tamu warung itu pun kembali menikmati makanan mereka.
***
Di sebuah pinggiran kota di desa yang sejuk dan terlihat indah. Disebuah gubuk yang sudah mulai lapuk. Duduk seorang wanita di sebuah bangku panjang, dengan rambut yang tampak acak-acakan, kaki dan tangannya penuh lumpur.
"Wulan sayang, makan dulu yuk!" ajak seorang wanita yang terlihat sudah berusia 60 tahun lebih.
"Mas Eno.... Ulan nunggu Mas Eno," ucapnya sambil memintal-mintal rambutnya.
"Kamu harus makan dulu, biar Mas Eno mau datang ya!"
Wanita paruh baya itu pun menyuapi Wulan dengan sendok makan, namun Wulan malah menggigit sendok nya.
Bram...
Ketika mobil rombongan Huda sampai di pekarangan rumah itu, Wulan pun berdiri dan berlari mendekati mobil mewah milik Fathir.
"Mas Eno... " teriak Wulan girang, dan mengetuk-ngetuk kaca. Handono pun segera turun dan sesaat menatap wajah yang ada di depannya. Diapun terperanjat saat menyadari, wanita yang ada di hadapannya, adalah wanita yang dulu dia cintai sepenuh jiwanya.
"Wulan, hiks hiks hiks," sapa Handono seketika sambil memeluk wanita itu, dia pun menangis.
"Mama sudah begini sejak 25 tahun silam, bahkan Mama sudah begini sejak mengandungku, itu kata Nenek." ucap Saila.
"Saila, siapa dia?" tanya Neneknya.
"Dia orang yang telah membuat Mama begini Nek, aku membawanya untuk Mama." ucap Saila.
"Kurang ajar kau! "
Bughhhh...
Bughhhh...
Bughhhh...
Hantaman keras berulang-ulang mengenai punggung Handono, Nenek Saila sangat marah dan emosi, kini lelaki yang membuat anaknya gila berada di depannya dengan jelas, kalau selama ini, Nenek tampak tabah, tapi tidak kali ini, air matanya pun banjir seketika.
"Kau jahat, kau brengs*k, bajing*n"
Nenek terus memukuli Handono, sementara Handono masih memeluk tubuh Wulan sambil juga menangis.
"Hey, hentikan, Mas Enoku jangan di pukul, nini sihir berhenti!" teriak Wulan memarahi ibunya sendiri, sehingga sang ibu pun berhenti dan terduduk di tanah sambil terus menangis.
"Nek, ayo bangun! kita masuk!"
__ADS_1
Mereka semua pun masuk dan duduk di lantai beralaskan tikar terbuat dari purun.
"Kalau Papa berkenan, ajak Mama untuk mandi dan potong kuku, setiap hari dia bermain di sawah, dia jarang mau di mandi-in. Mungkin kalau Papa yang ngajak dia mau," ucap Saila.
"Sayang, kita mandi yuk! " ajak Handono.
"Hmmmmm, " Wulan menggiling.
"Tapi bau kalau tidak mandi sayang, ayo! "
"Nanti di tinggal lagi, aku nggak mau," sahutnya.
"Nggak di tinggalin kok, biar aku yang mandi-in ya! " ucap Handono lagi.
"Nggak, hiks hiks hiks, "
Tiba-tiba Wulan menangis dan mendorong tubuh Handono.
"Kalian jahat, kalian meninggalkanku, hiks hiks hiks___ sayang, ayo kita pergi! Mereka semua jahat, mereka tidak menyayangi kita, "
Wulan mengelus perutnya dan berlari menuju luar rumah.
"Wulan, ini aku Mas mu, Mas Eno sayang, ayo! " Handono mencoba membujuk dan memegangi tangan Wulan lembut.
"Mas Eno? benarkah kau Mas Eno ku?" ucap Wulan sambil menatap wajah Handono, sampai kepalanya pun di miring-miringkan untuk menatap serius wajah itu.
"Ya, ayo kita mandi!"
Wulan pun mulai mengiringi langkah Handono menuju belakang rumah, Mama Wulan mengambil gunting dan meminta Handono memotong rambutnya. Handono dengan telaten memandikan Wulan di bantu Saila. Selesai memandikan dan memotong rambut Wulan, dia juga di dandani secantik mungkin karna akan di bawa ke kota bersama Saila.
"Nek, ayo ikut kami, aku dan Huda akan membiayai hidup Nenek di Kota, jangan khawatir," bujuk Saila pada neneknya, namun neneknya bersikeras tidak mau pergi, cukup sawah dan kebun lainnya yang menemaninya di sisi hidupnya yang sudah tua.
***
"Assalamualaikum," tiba-tiba ada tamu yang mengetuk pintu depan.
"Wa alaikumsalam, ooh Ibu yang tadi di pasar? Masuk Bu!" Zahwa pun memberi tempat duduk di sofa.
"Di sini aja Non," ucap ibu tua itu, dia membawa dua anaknya.
"Jangan bu, ayo duduk di atas!" ajak Zahwa.
"Kotor Non, nggak papa di sini aja,",mereka bertiga duduk di lantai rumah.
Hups
Zahwa pun ikut duduk di lantai rumah dengan menyilangkan kakinya.
"Hwa! kok di lantai, nanti susah berdirinya," ucap Ezra yang baru keluar dari kamar karena mendengar ada tamu.
"Nggak papa Bang,"
"Bu, apa yang ingin ibu pinta, pinta saja sama saya, tolong di pikirkan baik-baik dulu," ucap Zahwa.
"Maksudnya apa Nona," tanya ibu itu.
"Ibu noleh meminta satu permintaan, nanti biar Suami saya ini yang mengabulkan," ucap Zahwa. Ezra pun menatap istrinya itu heran.
__ADS_1
"Aku?" tanyanya.
"Iya Bang, emang suami Zahwa siapa lagi?" ucap Zahwa sambil sedikit tersenyum.
"Boleh meminta sesuatu? Apa saja?" tanya ibu itu.
"Iya, pinta saja," jawab Zahwa.
"Sebelumnya Saya ingin bercerita Nona, suami saya di penjara karena ketahusn mencuri sepeda tetangga, kami kelaparan saat itu, sangat yerpaksa suami saya melakukan itu, hiks," ibu itu terisak saat menceritakan kisah hidupnya.
"Astagfirullah, Bu, emang nggak ada tetangga yang mau membantu?" tanya Zahwa.
"Kami sudah banyak hutang Non, suami saya hanya seorang kuli, dan dia sudah tidak bekerja selama 2 bulan ini karena sepi tawaran,"
"Oooh, jadi ibu mau minta apa? Pinta saja satu, apa aja," ucap Zahwa lagi.
"Kami ingin kalau Non berkenan, bisa membayarkan tunggakan kontrakkan kami selama 2 bulan ini, dan mungkin sedikit sembako buat kami makan," pinta ibu itu.
"Bang, gimana?" tanya Zahwa.
"Kok aku? 'kan kamu yang nyuruh dia ke mari," ucap Ezra becanda.
"Kalau Suami Non keberatan, nggak papa kok, kami minta sembako aja seikhlasnya." ucapnya merasa malu.
"Nggak bu, lebih dari itu akan kami kasih___Bi... Tolong sediain makanan semuanya yang ada di meja untuk Ibu dan anak ini ya!" ucap Zahwa pada Bibi yang memang sedang berada di dapur untuk memasak makan malam.
"Iya Non,"
"Sekarang ayo kita ke dapur, hari ini maukah kalian tidur di sini, besok kami akan mengurus tempat tinggal kalian," ucap Zahwa lagi.
"Terimakasih Non,"
Ibu itu sangat senang dan berdiri mengiringi Zahwa ke dapur.
Dret dret dret.
Telepon Eza bergetar.
"Helo, Pa ada apa?" Ezra
"Maaf, apa ini Hp orang ini?" orang
"Iya, ini siapa?" Ezra
"Maaf Pa, pemilik Hp ini kecelakaan, dan mereka terluka parah, sekarang mereka sudah di bawa ke Rumah sakit."
Dooor
Zahwa yang memang memasang telinganya pun syok dan kaget.
"Papa___"
Tiba-tiba pandangannya gelap.
Bruk
Terjatuh.
__ADS_1
BERSAMBUNG...