
Saila sudah di bawa ke sebuah rumah sakit yang tak begitu jauh dari pantai. Dia masih meringis kesakitan, perutnya terasa sakit luar biasa.
"Kita akan memeriksanya, Mas, harap tunggu di luar!" ucap perawat.
Setelah memasang infus dan lain-lain, Saila pun di bawa keruangan khusus untuk di periksa.
"Mas silahkan masuk!" Huda pun duduk di sisi ranjang Saila.
"Apakah Nona pernah kecelakaan sebelumnya?" tanya perawat.
"Iya, sebulan yang lalu, kami mengalami kecelakaan hebat, dia bahkan sempat koma beberapa hari," ucap Huda. Sementara Saila tampak masih meringis kesakitan.
"Dia mengalami pecah usus, dan ini sangat berbahaya, kita akan mengoperasinya, mudahan ini akan berhasil," ucap Perawat.
"Apa? Pecah usus? bagaimana bisa? Bukankah waktu itu sudah di periksa?" tanya Huda lagi.
"Mungkin saat itu tidak bisa terdeteksi," ucap perawat.
Saila pun menangis mendengar kabar itu.
Dia pernah membaca, orang yang ususnya telah rusak akan meninggal dalam waktu dekat.
"Kamu sabar dulu, apakah ini karena dosa kita? Kita telah minggat dan membawa kabur uang Mama tiri aku, dan menjual perusahaannya," ucap Huda.
"Jangan sebut-sebut dosa doong. Aduuuh sakit banget ini," ucapnya meringis dengan wajah pucat.
"Apa kita menelpon mama saja? dan meminta maaf padanya," ucap Huda.
"Jangan, aku pasti tidak apa-apa, tolong beri aku dokter termahal ya, operasi aku segera, hari ini juga," ucap Saila.
"Hari ini kita harus menyelesaikan pemeriksaan dulu, kami perlu mempelajari terlebih dahulu," ucap perawat.
"Bius aku, aku kesakitan, tolong bius aku!" pintanya lagi.
Akhirnya Saila pun di beri obat tidur agar tenang.
***
"Mama, ayo makan!" Zahwa pun menyodorkan sendok berisi nasi ke mulut ibunya.
"Aku kehilangan nafsu makan ku Zahwa, aku tidak bisa mempertahankan perusahaan Papamu, hiks hiks," Shaina pun menangis di pelukan Zahwa yang ada di dekatnya.
"Ma, itu hanya perusahaan, biarlah, mama istirahat di rumah saja, ada aku dan Rangga yang menjamin hidup mama, mama nggak usah kerja, sebentar lagi punya cucu, pasti mama pengen bercanda sama cucu mama, apalagi ni kembar lho ma," bujuk Zahwa.
Di usia yang sudah mencapai 45 tahun, Shaina yang masih terlihat muda, karena terawat dengan wudhu nya itu hari ini tampak kusut, suaminya meninggal perusahaannya raib, hatinya sangat sakit. Zahwa slalu menemani mamanya, dan tak pernah meninggalkannya, sementara Rangga mengurus bisnisnya sambil kuliah.
"Helo cucu nenek, aduuuh, makin tua saja mama Zahwa! tapi mama masih belum berubah, perasaan memiliki masih ada, hingga sakit saat kehilangan," ucap Shaina, sambil membelai perut Zahwa.
"Nggak papa ma, Zahwa juga lagi belajar, makan ya ma!"
Zahwa terus memaksa mamanya makan, dan akhirnya berhasil.
"Ma, kita jalan-jalan yuk! Belanja kebutuhan debay, kemaren belum lengkap, ya nggak banyak-banyak juga, cuma beberapa lembar aja," ajak Zahwa.
"Sama siapa? Ezra lagi ngantor 'kan? sedang Rangga juga lagi meeting," ucap Shaina.
__ADS_1
"Sama sopir saja, kita makan-makan, ayo!"
Shaina sudah selesai makan, dia mengajak mamanya belanja, Shaina pun mengangguk.
"Mbak mau ikut?"
Kini pembantu baru itu mau menuruti Shaina, mengenakan kerudung saat berada di luar kamar, karena Saila sudah tidak ada di rumah itu.
"Iya Non, sebentar,"
"Bi, tolong nanti periksa Bu Wulan ya, kalau dia lapar kasih makan, tolong awasi dia, mu gkin besok akan kita antar lagi ke kampungnya, biar dia hidup sama mak dia, kasian dia,"
Ternyata Saila meninggalkan mamanya di rumah itu, sadis banget, untuk Shaina dan keluarga baik.
"Iya Nya,"
Sahina dan Zahwa pun berangkat di temani Mbak dan sopir pribadi.
"Ma, misal ni ya, ada lelaki yang melamar Mama, bagaimana?" tanya Zahwa iseng.
"Ih apaan sih? Mama udah tua, dan baiknya mama diem menyendiri buat merenungi dosa," Sahut Shaina.
"Ah mama, tapi 'kan mungkin saja tiba-tiba ada pengusahaan kaya yang ingin melamar mama!" ucap Zahwa lagi.
"Nggak ah, mending mama ngurus cucu mama, kamu bikin anak yang banyak ya! Biar mama nggak kesepian menjelang hari tua mama," ucap Shaina sambil tersenyum.
"Insyaa Allah, mau nya sih 4 atau 5 hi hi," sahutnya lagi.
Tak terasa mereka pun sampai di sebuah mall yang terlihat sepi sepi aja, karena mungkin hari kerja.
"Ma ayo, Mbak, mau beli apa?" tanya Zahwa.
Mereka berjalan santai sambil sesekali bercanda, sampai di sebuah toko.
Dor
Dada Shaina berdetak begitu keras, saat lelaki yang dulu hampir menjadi suaminya kini hadir lagi, dia pun mencengkram tangan Zahwa dan membawanya berpaling ke arah lain.
"Ada apa ma___"
"Shaina!"
Belum sempat Zahwa bertanya banyak, ternyata lelaki itu sudah melihatnya.
"Oo__oooh kau? Kau juga di sini?" tanya Shaina.
"Siapa dia?" bisik Zahwa.
"Mantan mama," sahutnya.
"Shaina, aku sudah lama mencari mu, aku ingin menyampaikan permintaan maaf mamaku, bolehkah kita bicara sebentar?" tanya Faruz.
"Di sini saja, ada apa?"
"Aku juga mendengar, kalau suami mu sudah meninggal, aku melihat beritanya di TV, oh iya, boleh aku minta nomor mu?"
__ADS_1
"Maaf, aku lupa nomorku, Zahwa, kasih nomormu saja, nanti kalau ada apa-apa, kabarin saja dia," ucap Shaina.
"Baik lah," setelah menyalin no HP. Faruz tampak bingung.
"Anu... Bolehkah aku ke rumahmu?"
"Noleh, sekalian ajak istri dan anakmu ya! Oh iya, masf, kami ada perlu mendadak, permisi,"
Shaina menarik tangan Zahwa.
Zahwa merasakan, bahwa ada cinta di sana, Shaina tidak pernah menceritakan soal lelaki ini, apakah dia ayahnya, karena Shaina dulu hanya bercerita bahwa dia di perkosa dan hamil, namun dia tidak yakin, apakah Fathir yang melakukannya, atau orang lain.
"Ayo kita beli keperluan cucuku!"
Zahwa pun menyimpan rasa penasarannya.
"Maaf Nyonya, aku ke sana sebentar, ada telepon dari ibu,di sini berisik" izin mbak pada Zahwa
"Iya, baiklah, jangan lama-lama."
"Ya."
"Helo, ada apa? Aku lagi di pasar sama Zahwa nih," mbak
"Bagaimana? Apakah kau sudah memberinya obat seperti perintahku?" orang
"Tidak bisa, tidak ada celah, karena bukan aku yang masak, aku hanya tukang cuci dan membersihkan dapur," mbak
"Coba kau masukkan saja di air galon," orang
"Mana bisa? Alon 'kan sudah di pasang," Mbak
"Mbaaak, sini!"
"Udah ya, aku sibuk di mall ini,"
Mbak memutus telepon. Dia pun berjalan mendekati majikannya.
"Mbak, tolong bawakan ini ya," Zahwa menyerahkan satu kantong kecil belanjaan baju bayi pada mbak. Mbak hanya mengangguk.
"Heh, gini amat jadi jongos, hilang nih kecantikan gue," lirihnya kesal. Sebenarnya siapa sih dia ini?
Mereka selesai belanja, dan menuju parkiran mobil.
"Shaina!"
Suara panggilan yang tak begitu jauh, Zahwa dan yang lainnya lun menoleh.
"Mas Faruz? Ada apa lagi?" tanya Shaina.
"Nanti sore aku mau ke rumahmu ya?" ucapnya.
"Iya, boleh, bawa sekalian keluargamu ya!" ucap Shaina.
"Hmmm," Faruz mengangguk.
__ADS_1
Mereka pun berpisah, sementara Faruz tampak senyum-senyum.
BERSAMBUNG...