Mendadak Jodoh

Mendadak Jodoh
Gadis Bohay


__ADS_3

Kini Yola dan Shaina tampak duduk di ruang makan, Shaina mengupas buah untuk Yola.


"Sayang, mulai sekarang apa pun yang terjadi kamu harus ceritakan semuanya sama Mama! kamu jangan menganggap Mama ini orang lain, Mama mohon!" pinta Shaina pada anak sambungnya.


"Hmm," Yola hanya menggumam sambil memakan buah yang di kupas mamanya.


"Ma, aku juga mau buah ya!" ucap Huda yang baru datang dari kamar. Terlihat rambutnya basah, mungkin dia baru saja mandi pagi.


"Tampan," batin Yola spontan. Namun, dengan cepat dia menundukkan pandangannya.


"Aku tidak boleh jatuh ke lobang yang sama," batinnya kemudian.


"Yola, apakah kau jadi terminal? atau masih lanjut?" tanya Shaina.


"Mungkin lanjut saja ma," jawabnya.


"Emang kamu kuliah di mana?" tanya Huda sok akrab.


"Sono, sama Kak Zahwa juga kok."


Kayaknya Yola udah nggak marah sama Zahwa, sekarang udah mau manggil kakak lagi.


"Ma, aku mungkin akan tetap tinggal di kota Kakek, karena dekat dengan Kampusku, aku nggak mungkin pindah kampus, karena sebentar lagi juga udah lulus," ucap Huda.


"Itu terserah kau saja, asal kau bisa jaga diri, tapi inget! Kalau liburan, kau kemari tengok Ayahmu, dia sudah semakin tua," ucap Shaina.


"Iya ma, Yola, nggak papa kan aku sering ke mari?" niat Huda ingin menggoda Yola, karena memang Huda suka bercanda.


"Ha?" Namun Yola malah melongo dan menatap wajah Huda takjub.


"Ya Tuhaaaan, jangan lagi, jangan lagi ku tergoda oleh makhluk Mu yang bernama manusia," lirih hatinya lagi.


"Yola! Kok bengong?" tanya Huda.


"Pasti dia sedang menikmati ketampanan ku," lirih hati Huda juga.


"Oh iya... Nggak papa kok, ini kan rumahmu___Ma, aku ke kamar dulu ya?"


"Iya, nggak nunggu makan lagi?" tanya Shaina heran.


"Nggak Ma, mau mandi dulu."


Yola berdiri ingin meninggalkan ruang makan.


"Pantesan bau, ternyata ada yang tidak mandi, ha ha ha," tawa Huda menggoda Yola.


"Assalamualaikum, Mama... "


Suara panggilan di depan rumah sangat di kenal Shaina, Shaina pun menyongsong arah suara dengan terburu-buru.


"Sayaaaaang, Zahwa, mau ke mana ini, kok pagi sekali?"


Zahwa memegangi pinggangnya yang terasa nyeri hanis naik mobil.

__ADS_1


"Mau makan pagi di sini Ma, katanya pengen banget makan sama Mama," ucap Ezra, sambil menggandeng istrinya menaiki teras rumah.


"Oooh, ayo masuk!"


"Mama... Mana dasi ini? kok nggak ada?" Teriakan Fathir dari dalam kamar.


Ezra yang mendengar pun tersenyum.


"Bentar Pa!"


Shaina pun pamit mendatangi suaminya yang lagi sibuk berdandan mau ngantor.


"Emang kalau udah berumah tangga kayak gitu ya? Dulu waktu sendiri, semuanya di kerjain sendiri, setelah menikah, malah semuanya di kerjain istri, padahal itu hal sepele 'kan?" tanya Ezra.


"Papa memang begitu, sejak awal menikah, semua serba Mama,"


Mereka pun menuju dapur dan mendapati Huda yang nangkir di depan buah.


"Wooooow, Hmmmm, minta dooong!"


Zahwa yang biasa kalem dan pendiam kini agresif, hanya melihat mangga yang ada di hadapan Huda, dia langsung mengambil dan membawanya di hadapannya.


"Eeeeh, kok gitu sih Sayang? Ngomong dulu baik-baik mintanya," ucap Ezra merasa tidak enak dengan Huda, walau mereka sedarah, tapi 'kan mereka baru ketemu.


"Nggak sempat Bang, netes ni liur," ucap Zahwa.


"Nggak papa kok Kak, apa pun akan ku berikan untuk Kaka ku yang cantik ini, apalagi dia sedang hamil, Kakak mau apa lagi, biar aku ambilin?" ucap Huda.


"Nggak usah, biar aku aja, lagian mungkin kamu mau ikut Papa ke kantor hari ini 'kan? Kamu 'kan pewaris PT. Shin perusahaan Papa?"


"Nggak papa kok Kak, aku mau mengganti waktu yang telah hilang bersama Kakak," ucapnya lagi.


"Terima kasih, tapi aku nggak perlu apa-apa kok selain buah mangga ini," ucap Zahwa. Dia paham saat ini ada kecemburuan Ezra di matanya.


"Eeeeeh, ada Bumil, emch," Fathir tanpa enggan mencium kepala Zahwa yang sedang asyik makan mangga.


"Iya Pa, waaah... Papa tampan sekali, pasti banyak karyawan yang kepincut sama Papa, walau sudah berumur dan sebentar lagi jadi kakek, namun pesona ketampanan Papa masih terlihat." goda Zahwa sambil terus tersenyum.


"Sejak kapan kau gombal begini heh? Kau salah makan apa?"


Fathit heran, sedang Huda dan Ezra hanya menatap Zahwa sambil sedikit tersenyum lucu.


"Nggak tau Pa, yang pasti sekarang ini, aku nggak bisa diem, mulut ini terasa gatel kalo nggak ngomong, hi hi hi."


"Waaah ngomongin apa ini? ayo kita makan!"


Shaina dan Bibi pun membenahi keperluan makan, sementara Zahwa mau berdiri ingin membantu.


"Eeet, mau ke mana? Biar aku saja___Ma, perlu bantuan?" tanya Ezra, dia melarang Zahwa membantu mempersiapkan makan lagi.


"Waaah, aku nggak akan was-was ninggalin anakku sama kamu Z'ra, kamu lelaki siaga banget," ucap Fathir.


"Papa jangan khawatir, aku sangat aman sama dia," sahut Zahwa.

__ADS_1


Akhirnya Ezra mengambilkan beberapa piring dan meletakkannya di atas meja makan.


Mereka makan bersama di pagi ini.


***


"MaasyaaAllah... Tampan sekali dia, kok mirip Pa Bos ya?"


Beberapa karyawan berbisik saat melihat Huda yang ikut ke kantor bersama Fathir. Huda yang memang awalnya lelaki biasa, kini saat di sanjung rupanya hatinya tidak kuat juga menahan godaan syaiton. Sifat angkuhnya mulai muncul.


"Waaah, perusahaan Papa besar sekali, jadi tajir dadakan ini." batinnya.


"Huda, kamu akan ku kenalkan dengan sekretaris ku ya!" ucap sang ayah.


"Iya Pa," jawabnya.


Fathir membawa Huda berjalan melewati beberapa karyawan yang termangu-mangu melihat ketampanan Huda. Sementara Huda merasa semakin tinggi dan bangga dengan kantor Papanya.


"Nah ini, sekretaris Papa," ucap Fathir.


Seorang wanita cantik yang mengenakan hijab, tanpa polesan wajah, alami."


"Ini?" Huda heran, karena dia tau, biasanya kalau sekretaris perusahaan itu pasti cantik seksi bohay dan lain-lain.


"Iya, kenapa? Kok bingung gitu?"


Sekretarisnya pun ikut menatap Huda.


"MaasyaaAllah, tampan bangeeet, astagfirullah," lirihnya.


Sekretaris pun segera menundukkan kepalanya.


"Ini sekretaris pilihan Mamamu, aku nggak akan nolak, ayo!"


Fathir pun mengajak Huda masuk keruangan nya.


Ceklek...


"Ha? kau siapa? kenapa ada di ruangan ku?"


Fathir kaget ketika menemui gadis seksi bohai dan bahenol tiba-tiba duduk manis di sofanya, dengan pakaian yang sangat minim dan kekurangan bahan, Fathir pun segera memalingkan pandangannya. Sementara Huda malah memindai seluruh tubuh gadis cantik itu.


"Mbak Lala! Ke mari!" teriak Fathir memanggil Sekretarisnya.


"Iya Pak,"


Lala pun masuk dan menunduk merasa takut dan cemas, karena baru kali ini dia di panggil dengan begitu nyaring.


"Siapa yang mengizinkan orang lain masuk ke dalam ruangan ku heh?" tanya Fathir marah.


"Ha? Tidak ada pa?" sahutnya.


"Kau heran tuan? mengapa aku bisa masuk ke mari?" ucap gadis itu.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2