
Ezra melihat Mai tertawa. Tawa yang aneh.
"kenapa dia tertawa? Mengapa dia terlihat senang saat melihat orang yang sedang sakit itu? Siapa sebenarnya Mai?" gumam Ezra dalam hati.
Saat Mai berbalik dan akan keluar ruangan itu, Ezra pun segera menjauh dan bersembunyi di ujung lorong.
"Aku ingin tau, siapa sebenarnya yang ada di dalam sana." ucap Ezra.
Mai terlihat sudah keluar dari ruangan itu dan berjalan meninggalkan kamar pasien. Ezra pun berjalan pelan dan mendekati pintu. Ezra memegang gagang pintu dan ingin mauk.
"Pak, maaf, anda siapa?" Tanya seorang perawat yang datang riba-tiba.
"Maaf, saya ingin melihat pasien di dalam." ucap Ezra sedikit gugup, karena telah tertangkap basah ingin masuk tanpa izin.
"Maaf pa, pasien itu khusus, jadi tidak bisa sembarang orang boleh menemuinya." ucap perawat.
"Ooh, apakah wanita tadi keluarganya?" tanya Ezra.
"Dia adalah anak pasien, maaf, kami harus memeriksa kondisi pasien." ucap perawat lagi.
"Ooh, baiklah."
Ezra pun pergi meninggalkan tempat tersebut, walau masih penasaran dengan rahasia,yang di miliki pelayanannya itu, namun itu bukan urusannya, jadi dia pun kembali memendam rasa ingin taunya.
Ceklek
Ezra memasuki Ruangan Zahwa, terlihat Ummi nya sudah memakan rujak pwmbwlian Mai dengan lahapnya.
"Hemmm, enak sekali Z'ra, kamu mau? Ini, Hm hm seger." ucap Mita sang ibu.
"Mi, kok bisa? Ummi kan nggak terlalu suka makanan kecut begini, ini juga terlalu pedes Mi, nanti malah Maag Ummi kabuh lho!" Ezra memperingati ibunya.
"Nggak tau ni Nak, rasanya lezat sekali, bahkan ini sudah habis satu bungkus, kayaknya benar, aku lagi ngidam ni." Mita terus menikmati buah yang di celup dengan sambel petis dan kacang, terlihat seperti memakan kerupuk, kriuk... kriuk.
"Sudah Mi, cukup, kebanyakan nanti Mi!" ucap Ezra, sambil mengambil rujak dari hadapan ibunya.
"Z'ra, kok di ambil? Lagi enak banget nih, sini!" Mita mau mengambil lagi buah yang ada di tangan Ezra.
"Nggak Mi, nanti Maag Ummi kumat, saat kumat sejak kecil Ummi tau kan, aku sangat takut." ucap Ezra.
Ezra merasa trauma kalau melihat umminya lagi kumat, sampai bicara saja lemes kayak sakaratul maut, infus sampai habis beberapa botol.
"Iya deh, kayaknya aku beneren ngidam ni Z'ra, Mantuku... Mudahan kamu bisa cepat bangun, biar kamu bisa menikmati masa-masa ngidam mu ya Nak!" ucap Mita sambil menatap ke atas ranjang pasien.
"Kalau memang begitu, kalau Ummi mau apa-apa di tengah malam, Ummi bilang saja ya.
__ADS_1
Dret dret dret
Hp Ezra berdering.
"Helo Pa, ada apa?"
"Ada sesuatu yang aku temukan, apakah kau bisa keluar dari Rumah sakit?"
"Baik pa, papa di mana?"
"Di depan Rumah sakit."
"Iya pa,"
"Mi, ada paap di luar, kayaknya beliau tergesak-gesak, jadi tidak sempat masuk, aku akan melihatnya keluar." ucap Ezra.
"Baik Nak"
Ezra pun keluar menuju halaman Rumah sakit, Sementara Mai terlihat biasa saja, dia sedang membaca chat yang ada di Hpnya.
Ezra sudah sampai di halaman parkir.
"Ezra, masuk!"
"Ada Pa?" tanya Ezra.
"Ada yang mencurigakan dengan ART yang kau pekerjakan itu! memangnya dia berasal dsri mana" ucap Fathir.
"Maksudnya, Mai? Bukankah dia orang suruhan Papa dan Mama Shaina?" Ezra bertanya balik.
"Ha? Aku tidak pernah mengirim pembantu buat kalian! Shaina juga tidak tau, waktu itu Shaina bilang' Ezra sudah mencari pembantu buat mengurus Zahwa, dia pasti sangat khawatir, aku yakin, sekarang Ezra sangat mencintai gadisku itu' nah begitu dia bilang." ucap Fathir.
"Berarti dia bukan orang suruhan Papa dan Mama?-
"Hmmm, oh iya, aku sudah menemukan orang yang membawa Shaina dan Rangga saat kecelakaan, dan mereka bilang, dia membawa mereka ke Rumah sakit B, dan aku sidah menyelidikinya, dan ternyata Istriku di bawa ke Rumah sakit ini oleh seseorang,"
"Lalu?" Ezra terlihat tegang.
"Aku telah melihat CCTV yang ada di depan pada hari dan jam penjemputan Shaina. Dan hasilnya mengejutkan, Mai pembantu barumu itu yang mengiringi Perawat membawa Rangga dan Shaina sat itu." ucap Fathir.
"Apa? Jadi maksud Papa, Mai itu punya rahasia? atau mungkin___?" Ezra memggantung kata-katanya seakan sambil berpikir keras.
"Apa ada yang kau ketahui?" tanya Fathir.
"Iya pa, aku baru saja mengikutinya ke sebuah Ruangan di sudut Rumah sakit ini, dan___ ah apakah itu?" Ezra pun terlihat ragu.
__ADS_1
"Sebenarnya siapa Mai itu? Jadi kalian lun tak memanggil pembantu untuk membantu kalian di sini?" tanya Fathir.
"Ayo Pa! Kita harus tau ala yang di sembunyikan Mai di ruangan itu."
Ezra pun turun dari Monil, begitu juga Fathir. Ezra sangat berjalan menuju ruangan yang tadi sudah dia datangi.
"Kita mau ke mana Z'ra?" tanya Fathir.
"Kita perlu memeriksanya biar kita bisa tau."
Ezra dan Fathir pin berjalan terburu-buru menuju sebuah tempat yang Ezra curigai. Tak berapa lama mereka pun sampai.
Klek klek klek
"Terkunci Pa." ucap Ezra.
"Emang di sini ada apa?" tanya Fathir heran.
"Aku tadi melihat Mai masuk kesini, saat aku mau ke dalam, perawat melarang ku, katanya dia pasien khusus." ucapnya.
"Ayo kita temui perawat dekat sini saja."
Mereka pun berjalan menuju loket yang ada di depan tak jauh dari ruangan rahasia itu.
"Maaf, kami ingin masuk ke ruangan yang sda di ujung sana!" pinta Fathir.
"Maaf, kami tidak bisa La, karena itu Pasien khusus." jawab perawat.
"aku oerlu tau, siapa nama pasien di sana?" tanya Fathir lagi.
"Maaf, tidak bisa Pa."
"Baiklah, aku ingin kau jujur."
Fathir mengambil Hp nya dan membuka galerinya.
"Lihat ini! Apakah ini wanita yang ada di dalam? Dia istriku." ucap Fathir berharap ada keajaiban.
"I___itu, saya tidak bisa mengatakannya Pa, maaf." jawab perawat itu.
"Baiklah, aku akan memanggil polisi, kau! kalau benar yang di dalam wanita ini, maka kau terlibat telah menyembunyikan istriku selama seminggu lebih." Fathir emosi.
Perawat itu pun tampak gugup. Fathir menekan nomor bantuan.
...BERSAMBUNG......
__ADS_1