
Bini akhirnya diam saat melihat isyarat Ezra.
"Mau makan Non?" tanya Bibi.
"Ya Bi, biar aku saja yang ambilin." ucap Ezra.
Ezra pun mengambil piring, nasi dan lauk pauk.
"Sedikit aja Bang, perasaanku nggak enak banget ini," ucap Zahwa.
"Maafin aku Sayang, aku terpaksa merahasiakan ini duku sampai kau mau makan," lirih hati Ezra.
"Ini, ayo buka mulutnya!"
Zahwa pun mulai membuka mulut, sesuap demi sesuap Zahwa mulai mengunyah sisa beberapa suapan lagi.
"Assalamualaikum,"
"Waalaikumsalam,"
Ternyata Mita yang datang, karena dia mendengar suara dari dapur, Mita sang mertua pun langsung masuk ke dapur.
"Sayang, yang sabar ya!"
Hap, dia mengelus kepala Zahwa yang sedang makan disuapin Ezra.
"Ummi, makan Mi!" ajak Zahwa.
"Iya, sebentar lagi Papa sampai rumah 'kan? Biar aku tunggu di depan saja," ucap Mita.
"Papa sampai rumah? Kenapa di bawa ke mari?" ucap Zahwa bingung.
"Hah?" Mita malah bingung sendiri dengan jawaban Zahwa, dia pun melirik Ezra anaknya. Ezra mengedipkan mata, namun sayang, Zahwa melihat adegan itu.
"Bang! Apa maksud Ummi?" tanya Zahwa seketika berhenti makan dan menatap Ezra tajam.
"Kamu makan dulu, mubazir ini sisa 2 suapan," ucap Ezra.
"Papa... Huaaaa," Yola berjalan menuju dapur sambil menangis dan berteriak Papa. Dia pin mengambil minum, dan meneguk dengan sekali tegukan.
Zahwa pun mencengkram yangan Yola.
"Dek, ada apa denganmu? mengapa kau menangis begini?" tanya Zahwa.
"Kakak, hiks hiks, Papa udah pergi Kak hiks hiks," ucap Yola.
Dooor
__ADS_1
Zahwa melepas cengkraman nya dan mundur beberapa langkah hingga dia tersandar di pelukan Ezra yang sudah siap untuk kondisi ini.
"Bang___kau___ menyembunyikan ini? Kau?"
Bruk
Zahwa kembali pingsan, mungkin karena kondisinya yang lagi hamil, makanya dia mudah lemes dan tak tahan.
"Jadi Zahwa belum tau ini?" tanya Miya.
"Belum Mi, aku akan mengatakannya, kalau dia selesai makan, aku takut dia tidak akan makan, jadi aku merahasiakannya sebentar," ucap Ezra.
"Maaf Kak, ku kira dia sudah tau,"
Yola pun merasa bersalah dan meminta maaf dengan menundukkan pandangannya dalam.
"Tak apa, Alhamdulillah, dia juga sudah makan banyak," ucap Ezra.
"Oooh, kamu lelaki ku yang siaga Nak, benar pemikiran kamu, kalau seandainya Dia tau, sebekum makan, tentu nafsu makannya akan hilang," sanjung sang Mama.
Ezra pun membawa Zajwa masuk ke kamarnya dengan menggendong tubuh kurus Bumil itu.
"Kamu semakin berat Sayang, sehat terus ya!" ucap Ezra sa'at meletakkan tubuh Zahwa di ranjangnya.
Terdengar suara riuh amnulance di halaman rumah, Ezra pun meminta Umminya untuk menjaga Zahwa, sementara Ezra ikut mengangkat jasat mertua masuk ke dalam rumah.
"Ezra, tolong hubungi tukang pemandian dan sebagainya," ucap Shaina saat sudah berada di rumah.
"Zahwa mana Nak?" tanya Shaina.
"Dia di kamar ma, sama Ummi, dia lingsan lagi___ di pemakaman Papah Izzam ya Ma?" tanya Ezra.
"Terserah kau saja,"
Shaina pun berjalan menuju kamar Zahwa.
"Shaina... " Ummi pun memeluk tubuh Shaina, dan mengelus pundaknya untuk menguatkan.
Shaina berjalan menuju ranjang mendekati anaknya.
"Sayang... Kamu harus kuat, ada bayi yang mengharapkan kesehatanmu Nak! Kamu harus kuat," ucap Shaina sambil mengelus pipi Zahwa.
"Shaina, sabar ya, aku juga pernah di posisi ini, dan bahkan saat Ezra masih sangat kecil," ucap Mita.
"Iya Mbak, insyaa Allah aku kuat, tapi aku khawatir dengan kondisi Zahwa yang sedang hamil, dia sangat sensitif," ucap Shaina.
"Iya, tadi syukurlah Ezra pintar, Zahwa sudah makan banyak sebelum tau tentang meninggal ayahnya."
__ADS_1
Mita pun menceritakan kejadian tadi, saat Zahwa sedang makan.
"Oooh, syukurlah, kau mendidik anakmu dengan sangat baik, hingga hal seperti ini pun dia sudah paham," sanjung Shaina pada Besannya.
Mereka pun kembali berpelukan.
"Mama, papa sudah selesai di mandikan, apakah mama ingin melihatnya untuk yang terakhir? sebelum dikafani dan di beri bedak cendana," ucap Rangga.
"Bagaimana dengan Kakakmu?" tanya Shaina khawatir, kalau Zahwa juga ingin melihatnya.
"Kita bangunkan dia, olesi minyak kayu putih," ucap Mita.
Shaina pun mengolesi dada dan belakang Zahwa, juga meletakkan minyak kayu putih di hidung Zahwa.
"Uaaaah, Baaaang," Zahwa mulai membuka mata.
"Nak, bangun ayo! Kamu harus kuat, ayo kita temui Papamu Nak!" ajak Shaina.
"Papa, mana Papa, Papa tidak apa-apa 'kan?" Zahwa pin berusaha duduk.
"Kamu harus kuat kalau ingin bertemu Papa, ayo!" ajak Shaina, Mita pun memapah Zahwa menuju pintu kamar.
"Sini, biar Rangga saja,"
Rangga pun menggandeng Kakaknya menuju ruangan yang mengafani Fathir.
"Papa... Hiks hiks hiks," Zahwa tak bisa membendung air matanya, Lelaki yang ia kenal baik dan slal memanjakannya itu kini telah menutup mata, walau saat Fathir menyatu dengan Shaina Zahwa sudah berusia 2tahun lebih, namun dia sangat ingat Papanya itu sangat menyayanginya.
"Sayang, jangan begitu, tidak boleh," ucap Shaina mengingatkan Zahwa. Zahwa pun membenamkan wajahnya di dada sang Mama. Mereka berdua sama-sama terisak.
Sementara di luar rumah, banyak rekan bisnis Fathir berdatangan, termasuk Zaira dan keluarga juga hadir di sela-sela mereka untuk menebar gosip.
"Bu, tau nggak sih? ini mungkin karma yang dia dapatkan, karena telah menzholimi orang lain," ucap Mama Zaira pada ibu-ibu yang ada di sampingnya.
"Kok Ibu ngomong begitu sih? setahuku, mereka orang-orang baik, dan mereka terkenal dermawan," sahutnya.
"Masa Ibu nggak tau sih? itu si Zahwa, telah merebut tunangan orang lain yang sedang hamil, kasian sekali gadis yang ia tinggalkan demi Zahwa yang sok alim itu," ucap mama Zaira lagi.
"Maaf bu, kalau Ibu mau ngegosip, sana aja bu! kasian Tuan Fathir, aku yakin, Zahwa tak seperti itu, lagian suaminya juga orang beragama, orang alim, keluarganya juga sholehah semua, jadi nggak mungkin lah suami Zahwa mau begituan sama orang lain, mungkin saja wanitanya hamil dengan orang lain 'kan?" ucap wanita itu membela Zahwa.
"Iiih nggak percaya," mama zaira pun menjauh dan sewot karena ternyata dia kalah dukungan.
***
"Selamat jalan Papa___hiks hiks___ kasih sayangmu nggak akan pernah aku lupain, Selamat jalan, mudahan Allah menyambut mu dengan sambutan yang indah aamiin," do'a Zahwa mengiringi kepergian Ayahnya, saat tanah satu persatu mulai menutupi kuburan itu menjadi gundukan.
"Beng, maaf kalau selama ini aku tidak menjadi istri yang baik untukmu, aku banyak kekurangan Beng, maafkan aku!" ucap Shaina juga dengan tangis yang pelan dan mulai bisa menahan diri.
__ADS_1
"Pa selamat jalan, salam untuk pa Izzam kalau kelian beremu," sapa Ezra juga dengan meneteskan air matanya.
BERSAMBUNG....