
Akhirnya Ezra tidak mau menyimpannya dalam hati, dia tidak mau bersu'uzhon, dia harus tau kebenarannya daripada menebak-nebak. Ezra pun berdiri dan berjalan mendekati Huda.
"Huda! Kamu di sini juga?" tanya Ezra.
Spontan Huda kaget dan salah tingkah, saat Ezra mendekati mereka.
"Kak Ezra, i__ iya nih, oh iya, kenalin, ini Rina, teman aku di kampung, kami baru ketemu hari ini." ucap Huda menjelaskan.
Rina pun ingin mengulurkan tangannya, namun Ezra sudah menyatukan tangannya di depan dadanya tanda menerima perkenalan.
"Aku Ezra, Kakak ipar Huda, boleh aku ikut makan di sini?" ucap Ezra, Dia memang sengaja gabung, karena tidak ingin adik iparnya itu cuma makan berdua dengan wanita lain.
"Boleh kok!" sahut Rina, matanya menatap wajah ke arab-araban Ezra tajam, sementara Ezra sibuk dengan Hpnya karena merasa tidak enak di pandangi begitu.
"Tampan sekali Dia!" lirih hati Rina.
Makanan pun datang, mereka bertiga melahap makanan masing-masing. Dan selsai makan dengan tanpa suara.
"Oh iya, aku duluan ya, biar aku yang bayar," ucap Ezra.
"Waaaaah, terima kasih Kak, nanti kapan-kapan aku yang traktir," ucap Huda lagi.
"Oke," sahut Ezra sambil melangkah mendekati kasir dan membayar makanan mereka. Sepeninggalan Ezra.
"Emang Kakak ipar kamu kerja apaan? Sepertinya dia sanga kaya," tanya Rina.
"Dia kaya keturunan, pewaris tunggal perusahaan Mahendra Adinata grop,"
"Ha, serius? Itu 'kan perusahaan yang sangat besar, suamiku juga bekerja sama dengan Perusahaan itu kok, aku beberapa kali ikut menghadiri acara undangan makan malam dengan perusahaan itu, tapi aku tidak pernah bertemu Bosnya sih," ucapnya lagi.
"Kak Ezra emang jarang klo acara makan-makan di luar mau ikutan, dia anak yang taat, dia lebih sering makan bersama keluarga, dari pada orang lain," ucap Huda.
"Waaah, beruntung sekali Kakakmu ya? Pasti Dia sangat di sayang Bos itu," puji Ina lagi.
"Oooh, tentu saja, dia sangat menyayangi istrinya, bahkan, istrinya ketemu mantan aja dia sangat cemburu," ucap Huda.
"Pasti Kakakmu cantik, suaminya saja sangat tampan."
"Sangat, sangat cantik, di balik kerudungnya siiih, dia sangaaaaat sholehah, nggak kayak aku, ha ha ha, banyak bobroknya," Huda tertawa dan mengejek dirinya sendiri.
"Oh iya, aku ada urusan mendadak, jadi harus segera pergi, kamu mau kemana? Biar aku antar!" Huda berdiri dan menawari tumpangan.
"Sebenarnya kamu kerja apa? Apa kamu kerja di perusahaan Kakakmu tadi?" tanya Rina penasaran.
"Oh enggak dooong, aku punya bisnis sendiri kok, walau kecil-kecilan," ucap Huda.
"Hemmm, boleh juga ni cowo," lirih hati Rina.
__ADS_1
"Ayo!"
Huda pun mengantar Rina ke Hotel tempat Rina menginap, karena Rumahnya yang selama ini dia tempati bersama suami, telah di tempati wanita baru istri suaminya. Mereka sudah sampai di bangunan hotel. Saat turun dari mobil.
"Aduuuh, kepalaku sangat sakit," ucap Rina. Pasti alasannya saja.
Huda pun segera turun dan menggandeng Rina berjalan memasuki Hotel dan mengantarnya ke kamarnya.
"Anak kamu di sini juga?" tanya Huda.
"Enggak, dia di kampung sama Ibu," sahutnya
Pintu kamar di buka, mereka masuk, namun kaki Rina mendorong pintu hingga menutup.
"Kok di tutup?" tanya Huda.
"Nggak enak nanti kelihatan orang yang lewat, dikira ngapain 'kan?" Pintar juga sahutan Rina.
Huda mengantar Rina ke ranjangnya dan bermaksud membaringkannya, namun....
Rina malah menarik tubuh Huda dan merebut bi***r lelaki itu hingga dia tidak bisa berkata apa apa. Huda menarik diri, namun Rina memeluknya sangat erat.
"Ayo kita mulai dari awal!" ajak Rina kemudian.
"Aku sudah menikah, aku ingin pulang maaf," ucap Huda, sambil berusaha melepaskan diri, namun tidak bisa.
"Tapi aku sudah menikah Rin," ucap Huda lagi.
"Jadikan aku yang ke dua! Aku mau menjadi istri rahasia mu, pleaaaase!" bujuk Rina lagi.
"Lepaskan aku, aku mohon, kalau mau masih ingin berteman denganku, lepaskan aku!" ucap Huda lagi mengancam.
"Baiklah, tolong pikirkan tawaranku, bukankah dulu kau tergila-gila padaku?"
Rina pun melepaskan pelukannya, dan membiarkan Huda menjauh. Sebenarnya pentongannya sudah mengeras akibat gesekan tadi. Huda pun melangkah pergi meninggalkan Hotel tersebut.
"Aku akan berusaha lebih keras lagi, aku harus bermain cantik," akal licik Rina bekerja.
Huda tampak sudah berada di bawah dan memasuki mobilnya, kemudian terdiam sesaat sambil menyandarkan dirinya di sandaran mobil.
"Mengapa aku jadi begini ya? Ini juga kok bangun sih! malu-maluin, apakah Rina tadi menyadarinya?" Gumamnya pelan. Sepertinya dia juga berbicara dengan pentongannya😄
***
Ezra sudah berada di kantornya untuk memuai Meeting siang ini. Wajah tampan nan coll, baju yang rapi dan mahal, membuat Bos muda ini sangat menawan. Tapi Bos ini sholeh dan tak mudah tergoda.
"Hey, Ezra." Seorang wanita muda menyapanya.
__ADS_1
"Humairo!" sapa Ezra spontan saat melihat wanita yang ada di hadapannya itu. Wanita, yang dulu pernah di lamar Umminya untuknya kini ada di hadapannya, namun Ezra tidak akan menatap wanita lain selain Zahwa.
"Aku sekarang bekerja di perusahaan ternama, dan sekarang aku akan ikut meeting di sini," ucapnya.
"Oooh, silahkan tunggu di ruang Meeting!"
Ezra pun berjalan meninggalkan Humairo, sementara Humairo sedikit terlihat kesal, karena Lelaki tampan itu meninggalkannya begitu saja. Jam meeting akan segera di mulai, Ezra pun memasuki ruangan. Acara di mulai. Mata Humairo tak berkedip menatap ke arah Ezra, sementara Ezra bersikap biasa, karena memang hatinya tak lagi memikirkan masa lalu. Meeting selesai para undangan bubar.
"Zra, apa kau sibuk?" tanya Humairo saat berada di luar ruangan.
"Oh, iya, aku harus segera pulang, karena harus membantu istriku mengurus si kembar," sahutnya.
"Kembar? Jadi kau punya anak kembar?" tanya Humairo untuk menghilangkan kecewanya.
"Iya, kembar pengantin, udah ya, maaf, assalamualaikum," ucapnya tergesak-gesak.
"Wa alaikumsalam."
***
"Sayang... "
Tiba-tiba Huda datang masuk kamar dan langsung menyambar tubuh Yola.
"Ada apa? Kok bringas gini sih?" Yola heran dengan tingkah suaminya, saat datang pun pentongan suaminya sudah bangun duluan.
"Apa nggak boleh ku merindukanmu heh? Daripada aku merindukan istri orang?" ucapnya sambil terus menciumi wajah sang istri.
"Iya boleh sih, tapi kok tiba-tiba gini? datang-datang langsung nyamber kayak ambil beras pembagian, takut nggak kebagian," ucap Yola.
"Aaaah, kebanyakan komen ah, ayo!"
Huda pun sudah siap melancarkan aksinya. Mereka berbicara pelan, hingga tak terdengar keluar kamar. Karena mereka sudah pindah ke kamar bawah.
"Uweeeek... Uweeeek..."
Suara tangisan bersahutan dari kamar sebelah.
"Mas, kembar bangun, Kaka Zahwa sedang membeli susu ke depan, ayo! Bantu aku!" ucap Yola berdiri. Dan memperbaiki kancing baju yang sempat di buka Huda.
"Aaaaah, masa harus ngurus bayi sih? Kita pindah rumah yuk!" ajak Huda.
"Kasihan kembar, mereka nggak ada yang jaga, tadi Kakak Zahwa nitip sama aku Mas."
Terpaksa Huda Pun mengikutinya, lagian si kembar 'kan ponakan Huda.
BERSAMBUNG...
__ADS_1