Mendadak Jodoh

Mendadak Jodoh
Ezra Cemburu


__ADS_3

Ezra terus membelai-belai pipi dan kepala Zahwa, dia membaringkan kepala istrinya itu di pahanya.


"Sayang, jangan lagi, tolong jangan sakit, tidak bertemu denganmu beberapa hari ini membuatku hampir kehilangan ingatanku, aku mohon jangan sakit!" Ezra terus membelai sang istri, sementara Zahwa terus meringis kesakitan, setelah kurang lebih 30 menit, mereka pun sampai di Rumah sakit swasta terdekat.


"Bima, kau tunggu di sini! jangan ke mana-mana! urusan kita belum selesai," ucap Ezra sambil pergi menggendong istrinya. Bima yang melihat Zahwa kesakitan pun merasa sangat bersalah. Kemudian Bima mengambil HPnya dan membrosing masalah sakit perut saat hamil.


"Zahwa, mudahan kau tidak apa-apa, di sini tercatat, kalau lagi hamil kram perut itu bisa terjadi, dan bisa bahaya, tapi bisa juga hanya kram biasa," gumam Bima sambil membaca mbah google.


Sementara di ruangan IGD Ezra terus mendesak perawat untuk memeriksa dan segera menangani sakit Zahwa.


"Mas tenang dulu, ini kami masih memeriksanya Mas," ucap perawat.


"Tolong Bu, ada apa dengan kandungan istri saya ini, kenapa dia kesakitan?" pertanyaan yang di ulang-ulang itu membuat Perawat tambah mumet.


"Iya Mas, kami akan memeriksanya terlebih dahulu,"


Setelah beberapa saat perawat memeriksa. Mereka pun menanyakan perihal sebelum perut Zahwa sakit.


"Begini Pa, ini hal biasa di usia kandungan 5 bulan, semakin tua usia kandungan, kram perutnya pun semakin sering, karena setiap ibu hamil itu berbeda-beda kondisi yang di alaminya, hanya saja, dia tidak boleh terlalu cape, olahraga jalan kaki seadanya, jangan angkat-angkat berat."


"Oooh, jadi dia cuma sakit biasa? Apakah tidak berbahaya pada janinnya?" tanya Ezra khawatir.


"Tidak, dia baik-baik saja," jawab perawat.


"Baiklah, tapi untuk sebaiknya di rawat saja Bu, biar lebih aman," pinta Ezra.


"Maaf Mas, dia baik-baik saja, dia akan kembali sehat kalau istirahat yang cukup, mungkin berbaring sekitar 2 jam, dia akan kembali pulih," ucap asisten dokter tersebut.


"Benarkah? Tapi aku takut," ucap Ezra.


"Bang, sudahlah, ini sudah berkurang kok, mungkin,tadi karena kaget saja kok," ucap Zahwa


Akhirnya Zahwa pun boleh pulang, kali ini Ezra membawanya pakai kursi roda sangat pelan.


"Bagaimana Ezra? mengapa pulang?"


Ternyata Bima masih setia menunggu Ezra, mungkin bukan menunggu Ezra, tapi menunggu kabar Zahwa.


"Antar kami pulang!" titah Ezra.


Bima pun segera masuk dan menjalankan mobil Ezra.


"Pelan-pelan!" bentak Ezra.


Bima pun memelankan mobilnya seperti pejalan kaki.


"Bang, kalau begini, kapan sampainya?" tanya Zahwa.


"Biarin, yang penting kamu aman," ucap Ezra.


"Tapi nanti malah sopirnya ke tiduran," ucap Zahwa lagi.


"Bima, awas kalau Loe tidur! gue tuntut Loe!" ucap Ezra ketus.

__ADS_1


"Iya... Iya," sahut Bima, sebenarnya Bima bukan menuruti kemauan Ezra, melainkan karena dia perduli sama Zahwa. Bima pun lebih santai dan malah sering melirik ke arah kaca Spion yang ada i dalam mobil menatap Zahwa.


Seeet


Bruk


Tiba-tiba Ezra menarik kaca Spion itu hingga lepas.


"Lho, kok di lepas?" protes Bima.


"Bang!"


Zahwa juga kaget.


"Jaga mata Loe, kalau nggak mau gue cungkil!" ucap Ezra menatap tajam ke arah Bima.


Rupanya Ezra tidak terima kalau Bima menatap Zahwa intens lewat kaca spion itu.


"Ya elllah," ucap Bima santai.


setelah kurang lebih satu jam, akhirnya mereka pun sampai.


"Zahwa__ Sayang,"


Mita yabg memang sengaja duduk di teras rumah pun segera menyongsong kedatangan mobil Ezra.


"Ummi... Mama mana?" tanya Zahwa, yang sangat merindukan mamanya. Zahwa pun memeluk mertuanya itu.


"Zahwa... Sayaaaaang,"


"Sayang, Mama sangat merindukanmu Nak,"


"Zahwa juga Ma,"


Mereka saling berpelukan. Hingga begitu lamanya.


***


1 Minggu telah berlalu, kini Zahwa pun sudah pulih dan sehat kembali.


"Kak, apa Kakak mau jalan-jalan, biar aku ambil mobil dulu ke Bengkel," ucap Rangga pada Zahwa.


"Mobil kamu rusak? masa mobil baru udah rusak? rugi doong beli mahal kalau mudah rusak, hi hi," canda Zahwa.


"Nggak rusak sih, cuma babak belur bekas tabrakan," sahutnya.


"Tabrakan? Kamu tabrakan, makanya jangan ngebut," Zahwa yang tidak tau ceritanya pun mengira, bahwa, Rangga lah yang mengendarainya.


"Bukan aku siiih, tapi tuh, anak Papa," ucap Rangga sambil menatap kamar atas.


"Kok bisa? Papa aja nggak pernah minjem?" tanya Ezra heran.


"Bukan minjem, tapi nyuri," ucap Rangga ketus, sepertinya dia masih kesal.

__ADS_1


"Lho! Nggak boleh gitu Rangga! Emang gimana ceritanya? Kok tabrakan?" tanya Zahwa lagi.


"Dia pergi sama Saila, tiba-tiba nabrak trotoar, aku juga nggak tau kalau dia bawa mobil itu, soalnya dia asal pakai saja tanpa izin,"


"Hmmmm, kok mereka pergi berduaan? Apa Papa nggak ngelarang?" tanya Zahwa.


"Nggak, kalau Mama kayaknya males berdebat, Kakak kan tau, Mama orangnya nggak suka ribut. Jadi gimana nih, mau jalan-jalan lagi nggak?" tanya Rangga.


"Nggak ah, aku mau di rumah aja, oh iya, apa di kantormu ada pekerjaan? Mungkin kau bisa mempekerjakan Bima di kantormu," ucap Zahwa.


"Bima?"


Ezra dan Rangga kaget bersamaan.


"Iya, kamu 'kan tau! sejak perusahaannya tidak ada yang mau nanam saham lagi, mereka udah kayak gelandangan, setidaknya kita masih punya hati untuk membantu mereka."


"Sayang, boleh nanya nggak?" tanya Ezra.


"Boleh,"


"Jangan marah ya, cuma nanya doang,"


"Iya,"


"Sebenarnya selama kamu di sandra Bima, apa dia nggak bersikap kurang ajar sama kamu?" tanya Ezra.


"Nggak, bahkan aku nggak tau kalau dia itu Bima, dia selalu memakai topeng, dan tak pernah berbicara," jawabnya.


"Trus, saat kamu tau itu Bima kapan?" Ezra penasaran.


"Saat aku mau teh panas, dan dia bikinin, saat dia ngantar, aku tarik tangannya, trus aku buka topengnya," sahut Zahwa.


"Berarti kamu nyentuh tangannya 'kan?"


Ezra kini mulai cemburu kayaknya.


"Ya harus gimana lagi, habis aku penasaran, aku syok saat tau itu dia."


"Trus, saat kami datang, mengapa tiba-tiba dia ada di dalam kamar mandi? Dan juga pintu itu dalam keadaan terkunci," tanya Ezra.


"Ya___ aku juga bingung, saat kalian menggedor-gedor pintu, dia langsung masuk dan mengunci pintu dari dalam, sebelum dia masuk kamar mandi, dia seperti menatapku, memohon untuk tidak di beritahukan ke pada kalian," sahut Zahwa tanpa perasaan curiga, bahwa kini Ezra mulai terbakar api cemburu.


"Kok kamu nggak bilang sih kalau Bima ada di dalam saat kami datang?" Ezra semakin bersemangat memberi pertanyaan.


"Bang kok nanyanya banyak amat sih? Apa Abang tidak percaya? Atau jangan-jangan Abang sekarang mencurigai ku telah bermain-main di belakang Abang?" ucap Zahwa, kini dia sadar, bahwa pertanyaan itu, bukanlah pertanyaan biasa.


"Bang, Bima pasti punya taktik itu, agar di kira penculik tidak ada di rumah,"


"Tapi mungkin saja mereka memang sedang ada apa-apanya,"


Tiba-tiba Saila nongol dan nyerucus seenaknya.


"Saila!" bentak Rangga.

__ADS_1


Kini hati Ezra pun jadi bimbang.


BERSAMBUNG...


__ADS_2