Mendadak Jodoh

Mendadak Jodoh
Telepon Rahasia


__ADS_3

Jam menunjukkan baru jam 3 siang, Rumah Shaina tampak sepi, mungkin penghuninya lagi istirahat siang.


"Hemmm, aum aum... Enak betul ini cemilan, nyesel aku beli cuma 1 kilo,"


Weiiiit, ternyata ada bumil di ruang tamu yang lagi nyemil sambil chat, eh chat sama siapa dia? Kok senyum-senyum, apa dia selingkuh? Nggak mungkin laaah, pasti sama kekasih halalnya.


"Sayang, makan apa sih? kok dari tadi nggak berhenti-berhenti geol-geol tu mulut?" Ezra


"Ini tadi neli di mall, enk banget Bang, aku beli cuma satu kili, nyesel aku ah, mau neli lagi nanti malam, temenin ya?" Zahwa


"1 kilo? Mau di habisin langsung? Nggak! stop, nggak bagus itu buat anak kita sayang, makan buah saja, ayo stop!" Ezra


"Tapi enak sangat Bqng," rengek Zahwa.


"Nggak bo-leh, ayo stop, apa aku pulang saja nih!"


"Iya, ini udahan kok, assalamualaikum."


Zahwa pun menutup telepon, dan kembali mengambil cemilannya satu genggam, lalu menutupnya.


"Assalamualaikum," ucap salam dari seseorang.


Zahwa pun mendekati pintu.


"Wa alaikum salam, oooh ini om yang tadi di pasar 'kan?" tanya Zahwa.


"Iya, aku Faruz, dan ini ibuku, sia sedang sakit keras."


Zahwa pun mempersilahkan mereka masuk.


"Mama kamu ada?" tanya Faruz,


"Ada, duduk dulu, biar aku panggilin mama," Zahwa pun berjalan menuju pintu Shaina.


Tok tok tok


Ceklek


"Mama, ada tamu mama," Karena pintu tidak di kunci, Zahwa pun menengok ke dalam.


"Ooh, tunggu sebentar, aku mau cuci muka dulu,"


Shaina pun pergi mencuci mukanya, dan mengambil kerudungnya.


"Oh Ma Faruz," Shaina pun memindai wanita yang duduk di kursi roda, tentu saja dia masih ingat, wanita yang duku menghina dan mencacinya saat Shaina hamil di luar nikah.

__ADS_1


Di:


(Pembunuh bayaran palsu perenggut keperawananku)


"Ibu," Shaina pun salaman dan mencium tangan keriput itu. Walau pun dia pernah di hina, namun dia tidak mendendam.


"Shaina, aku mewakili ibu, ingin meminta maaf sama kamu, dulu ibu pernah berkata kasar, dia sangat menyesal, sekarang ibu stroke dan tidak bisa berbicara lagi." ucap Faruz.


"Aku sudah memaafkannya kok Mas, itu sudah 2t tahun silam, aku sudah sangat lupa akan hal itu," jawab Shaina jujur.


"Kedatangan kami ke mari, aku ingin melamar mu kembali, aku akan menebus kesalahanku dulu," ucapnya lagi.


"Ooh, itu___ aku belum siap untuk itu, lagian aku masih dalam iddah di tinggal mati," sahut Shaina.


"Aku akan menunggumu, akan menunggu sampai kau siap," ucapnya.


"Hups, mungkin akan lama, sangat lama, dan mungkin saja tidak pernah bisa untuk kembali," ucap Shaina galau. Walau dari matanya ada secercah harapan buat Faruz.


"Aku akan tetap menunggu, kalau begitu, kami pamit saja," ucap Faruz.


"Terima kasih sudah mampir."


"Terima kasih juga udah di sambut,"


Faruz, adik dan mamanya pun pergi meninggalkan kediaman Shaina dengan perasaan tidak enak dan kecewa, karena telah di tolak Shaina.


"Ma, berarti dia sangat mencintai mama, di mall tadi 'kan Mama sengaja pakai masker, biar tidak di kenali orang, tapi dia tetap kenal Mama! tapi kenapa dulu mama tidak menikah dengannya?" rasa penasaran Zahwa membuatnya berani bertanya demikian.


"Dulu, kami bertunangan, dan hampir menikah, saat kejadian pagi itu, aku pun menceritakan kejadian yang sebenarnya sama dia, dia pun bercerita pada orang tuanya, sebenarnya dia menerima Mama, namun, Mamanya menolak keras, bahkan saat itu dia mencaci Mama habis-habisan."


25 tahun silam.


Shaina di perkosa oleh Fathir di rumahnya sendiri, saat Fathir bersembunyi di rumah Shaina, lewat pintu dapur yang tidak di kunci. Dan kebetulan Shaina mandi dan lups membawa Handuk, dia netlari ke kamarnya, karena memang kamarnya dekat dengan kamar mandi, namun saat itu Fathir melihatnya, dan mengikutinya ke kamarnya, dengan mengancamkan pestol, karena saat itu Fathir baru saja melakukan tugasnya sebagai pembunuh bayaran. Saat itu Shaina di bius, hingga hal buruk itu terjadi.


"Ooh jadi begitu ya Ma, tapi__ apakah Mama akan menerima lamaran itu? jika iddah Mama sudah ha?is?" tanya Zahwa.


"Entahlah Zahwa, aku perlu memikirkannya lagi, sebenarnya untuk apa Mama menikah lagi, hanya nafsu? Atau karena Allah?" ucapnya lagi.


"Hmmm,"


Zahwa menghela nafasnya dalam.


***


"Bang sudah datang? Mau makan?" tanya Zahwa.

__ADS_1


"Mana cemilan yang kau neli tai?" tanya nya, sambil menggandeng pundak istrinya habis pulang dari kerja.


"Tuh, aku ambilkan teh panas ya?"


Zahwa pun berpaling.


Hap.


"Nggak usah, kalau aku haus, cukup menghisap bibir manis mu itu, sudah cukup, yang penting, temani aku dulu, sini!"


Ezra pun membawa istrinya duduk di sofa.


"Udah cuci tangan?" tanya Zahwa.


"Udah, aku akan membiasakan diri, sebelum masuk rumah aku cuci tangan dulu di depan, apa lagi, sebentar lagi kita akan mempunyai bayi lucu, 2 orang sekaligus, aku membayangkan, mereka akan menyambut kepulangan ku sambil berlari 'Papaku papaku ini papaku' mereka saling berebutan untuk ku gendong," hayalannya sambil tersenyum.


"Iiiish, udah sejauh itu? ini baru jalan 7 bulan kok, do'ain dulu biar Hwa dan debay sehat," ucap Zahwa.


"Tentu lah sku slalu do'ain untuk kalian bertiga, bahkan setiap nafasku hanya do'a untuk kalian nerempat yang ku lafaskan,"


"berempat?" heran Zahwa.


"Sama Ummi!" sahutnya.


"Oooh, ha ha ha, ya juga ya!"


Ezra tampak menikmati cemilan yang di beli Zahwa.


"Enak 'kan?" tanya Zahwa.


"Iya enak betul ini, Ummi pasti suka, kita beli lagi nanti malam, sekalian kita mampir ke Kastel ya?" ajak Ezra.


"Oke, ayo mandi dulu!"


Zahwa pun,berdiri di iringi Ezra menuju kamar untuk membersihkan diri.


Sementara Bibi sedang asyik memasak di dapur.


"Syukurlah sudah masak semua, mau mandi dulu, Kemana sih Sasa? kok lama banget ambil jemurannya?" gumam Bibi.


Dia pun berjalan ke belakang rumah untuk mengambil baju ganti yang di jemur.


"Aku sedang berusaha ini, lagian aku juga udh bosan di sini,"


"Ngomong sama Siapa Sasa?" tanya Bibi

__ADS_1


"Pokoknya secepatnya, kamu tenang saja, ini juga aku lagi cari kesempatan kok, biar sekalian menggelepar kayak ikan, ha ha,"


Bersambung...


__ADS_2