Mendadak Jodoh

Mendadak Jodoh
Ezra Panik


__ADS_3

Betapa kagetnya rina saat menarik masker Yola, dia sangat gugup dan panik. Rina pun mencengkeram tangan yola kuat.


"Yola? Kau? I__ini bisa ku jelaskan. tolong... tolong... Jangan kau katakan pada Huda. Katakan, apa yang bisa aku lakukan untuk ini," ucap rina memohon.


"Aku tidak meminta apapun. Untuk apa aku mengatakannya pada Huda? ini urusan kau dan dia, aku hanya ingin tahu siapa lelaki yang sedang bersamamu semalam, lepaskan aku! kau jangan khawatir aku tidak akan mengatakan apapun pada Huda," ucap Yola. "Apa kau berjanji padaku?" tanya Rina.


"Untuk apa aku berjanji padamu? Heh, perempuan licik," ucap Yola seraya menghempaskan tangan Rina dari lengannya.


Rina pun terhentak mundur.


"Yola, tolong jangan katakan pada Huda!" pintanya lagi.


"Paman ayo kita pergi dari sini, aku merasa jijik dan muak kalau berlama-lama di sini," ucap Yola.


Yola pun berjalan menjauh dari rumah Rina. Namun Rina menyusul.


"Yola! tunggu! aku mohon jangan katakan ini pada Huda!" ucap Rina lagi.


Rina pun ingin mencengkram kembali pergelangan Yola. Namun paman sopir lebih sigap dan menghalangi tangan Rina yang akan mencengkram pergelangan tangan penumpangnya.


Yola dan paman sopir sudah berada di dalam mobil.


"Nona... apakah Nona tidak apa-apa?" tanya Paman sopir.


"Tidak apa-apa Paman, malah Aku sangat puas dan bahagia," ucap Yola Saraya tersenyum penuh kemenangan.


"Kenapa Anda bahagia? Bukankah di dalam sana, adalah suami Anda yang sedang berselingkuh?" tanya paman sopir.


"Bukan paman, laki-laki itu bukan suamiku. Perempuan itu adalah istri muda suamiku. Dan laki-laki yang ada di dalam itu adalah selingkuhan istri mudanya. Bukankah aku sangat beruntung Paman? aku diselingkuhi, tapi ternyata dia juga diselingkuhi, ini adalah karma yang setimpal bukan, ha ha ha," ucap Yola seraya tertawa puas.


"Oh begitu ya nona, Iya nona, kalau laki-laki itu selingkuh, pasti suatu saat juga kena batunya 'kan? Terus... apa yang akan Nona lakukan?" tanya Paman sopir.


"Entahlah paman. Mungkin aku akan menjadi penonton yang baik saja sementara ini, aku ingin fokus memperbaiki diri dulu," ucapnya.


Tak berapa lama, Yola pun sampai di halaman rumahnya. Terlihat wajah Yola berseri-seri.


"Yola... Ada apa? Kok kamu terlihat senang? Apakah ada kabar baik?" tanya Zahwa yang sedang duduk manis di ruang tamu menemani Arsy.


"Kakak... Tentu saja aku sangat bahagia, hari ini karena kesabaran ku selama ini, akan terbayar lunas, Kakak... tolong dukung aku. aku akan bersiap untuk melepaskan diri dari Adik Kakak tersayang itu," ucap Yola.

__ADS_1


"Adik tersayang? bukankah kau adalah adikku? kenapa kau berkata begitu?" tanya Zahwa.


"Kakak... aku ini hanya Adik iparmu saja, walau begitu Aku ingin kakak tetap mendukung ku apapun yang akan kulakukan pada Adik tersayang Kakak itu," ucap Yola lagi.


"Sebenarnya... kabar Apa yang membuatmu sangat bahagia seperti itu Yola?" tanya Zahwa.


"Itu rahasia, Nanti Kakak akan tahu sendiri. Sekarang ini aku ingin meyakinkan hati, bahwa Pilihanku kelak tidak akan membuatku menyesal," ucapnya.


"Apakah kau ingin berpisah dengan Huda?" tanya Zahwa.


"Insya Allah, iya, dan aku merasa tidak sanggup lagi untuk meneruskan semua ini Kak," ucapnya.


"Mungkin itu yang membuat hatimu tenang, maka lakukan saja," ucap Zahwa.


"Mungkin aku akan pergi dari rumah," ucap Yola lagi.


"Kenapa kau harus pergi? ini adalah rumah masa kecilmu, dan sampai kapanpun ini akan tetap menjadi rumahmu," kata Zajwa lagi.


Ketika Hp Zahwa berbunyi. Zahwa pun mengambil hp-nya.


"Hello Bang ,Ada apa?" tanya Zahwa.


Ternyata Ezra yang menelpon.


"Sayang... apa kabar?" tanyanya


"Baik... Abang bagaimana? apakah sudah ada kabar dari Arsya?" tanya Zahwa.


"Untuk saat ini belum...." ucap Ezra.


Saat ini Ezra tidak ingin memberi harapan palsu walau Sebenarnya hari ini dia janjian bertemu dengan Bram, namun hingga siang ini Bram masih tidak bisa di hubungi.


"Baiklah Bang, udah ya Bang, Arsya cerewet ini mau di gendong," ucap Zahwa.


Telepon pun di tutup.


***


Ezra tampak uring-uringan di kamar hotelnya dia pun bolak-balik mondar-mandir tak karuan. Akhirnya dia mengambil jaket dan dompetnya kemudian pergi meninggalkan hotel. Dia meluncur ke apartemen Bram untuk memastikan sesuatu.

__ADS_1


Sesampainya di Apartemen Bram, Dia pun bertanya dengan security dan memperlihatkan foto Bram saat mereka sempat berfoto berdua.


"Maaf Tuan, sepertinya mereka telah meninggalkan gedung ini Tuan, dan sepertinya Tuan yang Anda maksud ini sedang sakit. Tadi siang dia dibawa oleh istrinya, didorong dengan kursi roda meninggalkan gedung ini, mereka juga tampak membawa koper ransel sepertinya mereka pindah gedung Tuan," ucap security


"Apa? Benarkah? kira-kira ke mana mereka pergi?" tanya Ezra.


"Entahlah Tuan, mereka hanya menyerahkan kunci, dan pergi begitu saja," ucap security.


"Baiklah... terima kasih banyak, permisi," ucapnya.


Ezra pun meninggalkan paman security itu dan kembali ke halaman gedung, dia pun menelpon mata-matanya yang telah dia letakkan di gedung itu.


"Hello... kau di mana?" ucapnya.


"Aku di balkon Tuan," jawabnya.


"Apa kau melihat Zaira pergi dari gedung ini?" tanyanya.


"Tidak Tuan, tadi pagi mereka masih tidak keluar dari apartemennya. Ada apa Tuan? celaka! mereka sudah pindah gedung. Sepertinya mereka mencurigai kita. bagaimana sekarang?"


"Kapan mereka pergi? tanya mata-matanya.


"Security bilang mereka baru pergi siang tadi.


"Baiklah, aku akan menyusul Tuan, sekarang Tuan ada di mana? tanya mata-mata.


"Aku ada di halaman gedung."


Zaira yang memantau dari jarak jauh pun tersenyum.


"Heh... Ezra... Kau masih sangat tampan di mataku, setiap ku menatapmu, hatiku slalu bergetar, mengapa kau tinggalkan aku?"


ucapnya.


Ezra sangat panik, berulang-ulang dia mengucek ucek rambutnya kesal.


"Apa mungkin Bram telah membohongiku? Apakah Dia berubah pikiran?" batinnya.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2