Mendadak Jodoh

Mendadak Jodoh
Balasan dari Alam


__ADS_3

Huda sudah sampai di komplek perumahannya yang dia beli untuk Rina. Dia pun bergegas turun dari mobil dan mendekati pintu rumahnya, kemudian dia ingin membuka pintu dengan kunci serep yang dia bawa, namun tidak bisa karena di dalam sudah ada kunci Rina .


"Rina! apa kau di dalam? teriak Huda.


Rina yang sedang nganu dengan toto pun kaget, bergegas Toto mengambil semua pakaiannya dan masuk ke kolong ranjang. Sedang Rina bergegas berlari ke dalam kamar mandi, pura-pura sedang mandi, kemudian memasangkan handuk di dadanya dan keluar membukakan pintu Huda.


"Mas Huda?" tanyanya pura-pura kaget.


Huda pun langsung masuk ke rumah.


"Ada apa mas?" tanya Rina lagi.


"Untuk apa kau ke rumah ini sendirian?" tanya Huda.


"Aku hanya bosan di rumah Mas, lagian kayaknya Kak Zahwa selalu menyindir aku di sana, Aku merasa kesel," ucapnya bohong.


"Terus ngapain kamu mandi di sini?" tanya Huda.


"Aku belum mandi Mas, tadi pagi aku bete, ketika aku di dapur, terus di sana ada Zahwa dan juga suaminya, yang sedang makan, mwrwka seeprti nyindir nyindir aku pelakor gitu," bohong Rina lagi.


"Masa merekq gitu, kamu salah paham mungkin?" ucap Huda.


"Nggak kok, aku dengar dengan jelas, lalu aku pergi saja ke sini untuk mandi, sekalian aku akan makan pagi di luar, Aku juga belum makan," ucapnya.


Huda pun memindai isi ruangan rumah itu, namun tidak ada yang mencurigakan.


"Ya sudah, kita makan bersama, tapi benar 'kan nggak ada yang lain?" tanya Huda.


"Kenapa sih curigaan mulu? aku ini sedang hamil lho Mas, aku ini juga perlu diperhatikan. Jangan dicurigai terus dong, aku merasa tertekan," ucap Rina terlihat kesal. Padahal dia sedang bersandiwara.


"Nggak kok Sayang, aku hanya terlalu cinta sama kamu" bujuknya.


Huda pun duduk di atas ranjang dan Rina mendekati suaminya itu dan juga duduk di sampingnya, sambil menyandarkan kepalanya di dada Huda.


Huda yang tadi marah-marah kini menetap wajah Rina, dan ke seluruh raga Rina yang hanya menggunakan handuk, di da danya perlahan Huda pun mulai bermain membuka kain penutup itu, tentu saja vitamin mata membuat Huda seger. Perlahan Huda pun memainkan tangan nakal itu, membuat Rina lupa kalau di bawah kolong ranjang ada seseorang yang sedang mendengar kebersamaan mereka. Toto hanya bisa mengepalkan tangannya merasa marah. namun tidak bisa berbuat apa-apa Huda dan Rina sudah asik bermain di atas kolong tersebut sampai selesai. Toto merasa sangat marah jiwanya terasa panas dingin.


Mereka bermain hingga selesai, akhirnya barulah Rina sadar kalau di bawah kolong ranjang ada seseorang yang mendengarkan permainan mereka.


"kenapa aku lupa ya?" lirih hati Rina.


"Mas ayo mandi! setelah ini aku mau makan pagj, laler nih," ucap Rina.


"Baiklah, ayo!"


Huda menggandeng istrinya sampai kamar mandi.

__ADS_1


Mereka pun mandi bersama, dan setelah mengganti baju yang rapi, mereka pun pergi meninggalkan rumah itu. Sementara Toto yang ada di bawah kolong ranjang, keluar dengan keringat seperti biji jagung.


"Kurang ajar mereka, tega sekali Rina melakukan ini padaku. Masa dia lupa kalau aku ada di bawah sana?" gerutu Toto


Kemudian Toto pun membersihkan diri dan pergi meninggalkan rumah tersebut dengan hati yang sangat jengkel.


***


Bram tampak duduk termenung di atas kursi rodanya, Dia menatap Arsya yang sedang asyik bermain di halaman ranjang, Zaira sedang pergi ke dapur untuk mengambil makan.


Arsya sekarang sudah berusia 10 bulan, Dia sudah bisa duduk sendiri.


"Pa...."


Ngoceh Arsya, Dia juga sudah bisa mengucapkan Pa yang artinya papa.


"Arsya Maafkan Paman, Paman belum bisa mempertemukan kamu dengan orang tua aslimu," lirih hati Bram.


Ceklek.


Zaira datang dengan membawa makanan.


"Arsya... Yuk makan!" Arsya tampak tertawa-tawa sambil mengulurkan kedua tangannya tanda Dia sangat senang akan diberi makan.


"Mas Bram, mau makan sekarang? Ini," Zaira pun menyerahkan piring nasi punya Bram yang telah di isi lauk pauk.


"Mas kenapa?" tanya Zaira.


Bram melambai menyuruh Zaira mendekat, sekarang Zaira mulai mengurangi obat Bram. Zaira mendekat ke arah Bram.


"Aaaaaa..." entah apa yang ingin di katakan Bram, Dia pun mengelus perut istrinya lembut. Zaira merasa senang.


Bruk


Prang


Tiba-tiba terdengar suara berisik dari arah dapur, sangat keras. Zaira pun menatap pintu kemudian berjalan cepat keluar dari kamar, untuk memeriksa apa yang terjadi di dapur.


Sesampainya di dapur.


"Mama!" teriak Zaira histeris saat melihat mamanya terkapar di lantai dengan kepala penuh darah, karena kepalanya menimpa dinding kamar mandi.


"Mama ada apa?" teriak Zaira lagi sambil membantu kepala mamanya meletakkan di pangkuannya. Mamun sang Mama terlihat tidak sadarkan diri.


"Mas Bram!" teriak Zaira.

__ADS_1


Ngapain manggil Bram? Bram juga nggak bisa bantu karena olah mereka juga.


Bram yang di kamar pun segera mendorong kursi rodanya menuju dapur, namun apa daya Bram, yang hanya pesakitan, hanya bisa duduk di atas kursi rodanya tanpa bisa berbuat apa-apa.


Tetesan air mata bening pun menetes satu persatu dari sudut mata Bram.


"Mama terjatuh, kayaknya dia pingsan. Bagaimana ini?" ucap Zaira.


Kemudian Bram pun mengangkat tangannya, seperti memberi isyarat agar Zaira bisa menghubungi seseorang.


"Oh iya, Baiklah... aku akan menelpon taksi dan membawa Mama ke rumah sakit, tapi bagaimana dengan Arsya?" tanyanya.


Sekali lagi Bram merasa sedih karena tidak bisa membantu Zaira, untuk menjaga Arsya. Tapi 'kan ini juga sekali lagi salah Zaira yang tidak mengembalikan Arsya pada Ezra.


"Ya ampuuuun... bagaimana ini? apakah ini karma bagiku?" tanya Za ira sambil menatap Bram, namun yang ditatap malah mengangguk, menandakan bahwa Bram saat ini sedang menjawab 'iya ini Karma untuk kalian'


Tak berapa lama, taksi pun datang Zaira membawa Mamanya ke rumah sakit dan menggendong Arsa. Sementara Bram hanya menatap dari rumah kepergian istri dan mertuanya itu, di dalam hati Bram pun berdoa.


"ya Allah semoga ini adalah awal sadarnya Zaira , dan akan mengembalikan Arsya pada orang tua aslinya" liriknya


Sementara Zaira sudah sampai di rumah sakit. Mama Zaira pun diperiksa, di tes dengan beberapa alat.


"Nona... apakah Anda anak Ibu ini?" tanya perawat.


"Iya Bu," ucapnya.


"Maaf... sepertinya ibu anda mengalami kelumpuhan total," ucap perawat itu.


"Hah... Benarkah? tolong Bu, periksa lagi Bu," ucap Zaira memohon.


"Iya Nona, Kami sudah berapa kali memeriksa dengan alat ini, namun hasilnya sama, sepertinya ibu Anda mengalami stroke total. Jadi dia tidak bisa melakukan aktivitas apapun," ucap perawat.


"Apakah ada kemungkinan sembuh?" tanya Zaira.


"Entahlah, setahu kami, kalau sudah mengalami stroke seperti ini, kemungkinan sembuh itu sangat sedikit Nona," ucap perawat.


"Jadi maksud anda... Mama saya selamanya hanya bisa duduk di kursi roda?" tanya Zaira merasa frustasi.


"Iya Nona," sahut perawat.


"Terus... Apakah Mama saya bisa sadar?" tanya Zaira lagi.


"Iya, Ibu Anda akan sadar, ibu anda juga mungkin masih bisa merespon ucapan dari kalian, namun dia tidak bisa menggerakkan syaraf-syarafnya, karena sepertinya syaraf-syaraf yang ada di tubuhnya sudah tidak berfungsi lagi nona,"


"Ya Allah apa ini Akhirnya yang aku terima?" lirih hatinya Apakah Zaira akan sadar setelah ini.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2