
Yola pun kaget dan terpana saat melihat ada Bima di belakangnya, Yola menatap bayi yang sedang menangis itu. Bima pun mencoba untuk menenangkan bayi itu, namun anaknya tetap menangis tak mau berhenti.
Yola merasa kasihan saat melihat Bima kerepotan oleh anaknya, yang sedang ngamuk. Semakin ditenangkan, anak Bima semakin menangis, akhirnya Yola pun berdiri dan mendekati Bima.
"Sini, biar ku gendong," ucap Yola pada Bima.
Bima pun menoleh dan kaget saat melihat ada Yola di depannya. Sesaat Bima terdiam.
"Ayo! biar aku yang gendong," ucap Yola lagi.
Akhirnya Bima pun menyerahkan anaknya. Yola berjalan meninggalkan warung makan menuju teras. Menimang-nimang bayi yang sangat lucu itu. Perlahan bayi itu pun mulai mengurangi power tangisannya.
Fitri yang masih asik makan heran saat melihat Yola menggendong anak kecil.
"Hei Yola, anak siapa yang kau gendong? Ayo, biar aku yang gendong! kau makan saja sana!" kata Fitri.
"Kau saja yang makan, habiskan saja semua makanan itu, aku sudah kenyang," ucap Yola
"Ayo kita ke sana! dia sudah berhenti nangis tuh."
Mereka pun masuk ke dalam dan makan kembali. Sementara Bima berdiri dan mendekati Yola.
"Yola... sini biar aku gendong! kamu makan dulu,"ucap Bima terlihat grogi.
"Tidak usah, kau saja yang makan, nanti kalau selesai makan aku akan mengantarkannya padamu," ucap Yola lagi.
Akhirnya Bima pun duduk dan memakan makanannya. Namun tatapan Bima selalu tertuju kepada wanita itu, dan hatinya pun berkata : Seandainya dulu aku tidak menyia-nyiakan dirimu, tentu sekarang kita sudah bahagia. lirih Bima penuh penyesalan.
Bima pun menyelesaikan makannya dan kemudian kembali mendekati Yola, Dia mengambil anaknya dari Yola.
"Aku udah selesai makan, kami akan pulang," ucap Bima.
Bima yang jauh berbeda dari penampilannya dulu, sekarang tambah fresh, dia mengenakan baju koko dan celana kain biasa. Wajahnya terlihat sangat tampan di mata Yola, namun Yola menatapnya hanya sebentar, karena takut tergoda oleh ketampanan mantan suaminya itu.
"Oh, ini," Yola pun menyerahkan anak Bima
"Terima kasih telah menjaga anakku," ucap Bima lagi.
"Oh iya, kalau boleh tahu, siapa namanya?" tanya Yola.
"Namanya Salima," ucap Bima.
"Salima? Nama yang sangat cantik," puji Yola.
Bima pun pamit duluan. Kemudian Fitri dan Yola melanjutkan makan mereka.
"Ayo makan lagi! habiskan!" ucap Yola.
"Aku sudah kenyang," ucap Fitei.
"Ya udah, kalau begitu biar kita bungkus aja ya, Ini buat makan besok," ucap Yola.
Yola pun memanggil karyawan warung makan tersebut, dan membungkus semua makanan yang masih tersisa banyak. Ssebenarnya bukan tersisa banyak, Yola sengaja memesan semua itu agar bisa dibawa pulang oleh Fitri. Saat mereka ingin membayar.
"Berapa semuanya Bu?"ucap Yola pada ibu pemilik warung.
" Maaf Nona... semuanya sudah dibayar Tuan tadi," ucap pemilik warung.
"Sudah dibayar?" heran Yola.
"Iya Nona," ucap ibu itu.
__ADS_1
"Oh baiklah. Terima kasih Bu,"
Dan akhirnya Fitri dan Yola pun pulang.
"Wah kamu beruntung sekali ya, punya teman yang sangat baik," ucap Fitri.
"Iya," sahutnya pendek.
"Sebenarnya siapa dia? apa cuma teman kamu saja? atau keluarga?" tanya Fitri.
"Nantilah aku ceritakan, malam ini kamu nginep di kamarku aja ya! biar kita bercerita," ucap Yola.
"Boleh...." jawab Fitri.
akhirnya malam ini Fitri bermalam di kamar Yola. Yola pun menceritakan kisah hidupnya yang sebenarnya dan menceritakan juga tentang Bima yang sebenarnya dia adalah mantan suaminya.
***
Huda dan Rina sudah pindah rumah ke rumah utama. Pagi ini Rina tampak muntah-muntah. Dia pun pergi ke dapur dan memuntahkan sarapan rotinya ke dalam wastafel.
Bibi yang sedang asyik memasak pun membantu memijatkan belakang Rina.
"Tolong ambilkan minyak kayu putih!" perintahnya.
Bibi pun mengambilkan minyak kayu Putih yang ada di ruang tamu.
"Sebentar non," jawab Bibi.
"Cepetan! lama banget sih kayak siput," teriak Rina marah marah.
Zahwa yang baru keluar dari kamar pun mendengar teriakan Rina, Zahwa pun ke dapur.
"Kalau ngomong sama orang tua itu sedikit sopan," ucap Zahwa.
"Bibi 'kan lagi nyari, belum ketemu," sahut Zajwa.
Walau Zahwa kesal dia ikut memijat-mijat pundak Rina.
"Nggak usah, aku bisa pijit sendiri kok," ucap Rina terlihat kesal, dan marah dengan Zahwa yang membela bibi. Zahwa pun menjauh dari Rina dan duduk di meja makan.
"Bau apa sih ini? Bi kamu masak apaan sih?" tanya Rina.
Mungkin maklum Rina tidak menyukai bau-bauan tertentu, karena dia sedang hamil
"Aku sedang membikin capcay kesukaan Tuan Ezra Nona," ucap Bibi.
"Bau banget ini, aku tambah pusing, singkiran makanan itu dari sini!" ucap Rina lagi kasar.
Zahwa yang mendengar itu merasa sangat kesal tapi dia pendam dalam hati
"Capcaynya biar aku bawa ke kamar saja, biar kami makan di kamar," ucap Zahwa.
Bibi pun mengambilkan mangkok dan memindahkan capcay dari wajan ke mangkok itu, kemudian Zahwa membawanya ke kamar Mereka.
"Lho? Kok di bawa ke mari sih?" tanya Ezra heran melihat Zahwa tampak rempong membawa beberapa makanan ke kamar mereka.
"Kita makan di kamar saja Bang, itu si Rina dia tidak bisa mencium bau-bauan masakan Bibi," ucap Zahwa.
"Tapi kok wajahmu cemberut begitu? Ada apa Sayang?" tanya Ezra.
"Nggak apa-apa kok, Ayo kita makan! sebelum sebelum Arsi bangun," ajak Zahwa lagi.
__ADS_1
Akhirnya Ezra pun memilih diam dan menikmati makanan yang sudah dihidangkan oleh istrinya tercinta.
"Hemmm, enak banget Sayang, kalau yang nyuguhin makan ini langsung dari tanganmu," ucapnya.
"Ih gombal ah," sahut Zahwa tersipu.
"Eh kok gombal? tapi nggak papalah gombal sama istri sendiri, dari pada gombal sama istri orang 'kan?" sahut Ezra.
"Emang Abang mau gombalin istri orang?" delik mata Zahwa menikam.
"ha ha ha, nggak lah, mana berani aku, nanti malah babak belur," ucap Ezra.
"Ih apaan, emang aku body guard apa?" sahut Zahwa.
Mereka pun makan dengan tenang, setelah selesai makan Ezra pun berdiri bermaksud untuk pergi bekerja pagi ini, namun...
"Aduh... aduh Sayang... sakit," pekik Ezra tiba-tiba.
"Ada apa sayang?" tanya Zahwa.
"Kakiku sakit sekali, kaki yang ini," ucap Ezra sambil menunjuk arah kaki yang menggunakan kaki palsu.
Ezra pun terduduk tidak mampu untuk berdiri.
"Baiklah, kita akan menelpon dokter dulu," ucap.
Zahwa pun mengambil hp-nya dan menelepon dokter. dokter menyuruh Ezra untuk ke rumah sakit agar dokter bisa memeriksa keluhan Ezra saat ini.
Ezra pun dibawa ke rumah sakit dibawa oleh sopir dan Zahwa. Arsy pun terpaksa dibawa. sesampainya di rumah sakit, Ezra langsung diperiksa oleh dokter.
"Tuan Ezra, tampaknya kakek Anda mengalami kram, dan untuk beberapa hari ke depan, mungkin anda istirahat dulu memakai kaki palsu ini," ucap dokter
"Jadi bagaimana kalau saya jalan? ucap Ezra.
" Mungkin anda terpaksa harus menggunakan tongkat dulu," ucap dokter.
Wajah Ezra pun tampak pasrah mungkin ada perasaan minder di dalam dirinya, sementara dia adalah seorang bos ternama di kota itu.
Zahwa pun membelai pundak suaminya
"Sayang... tidak apa-apa, nanti kalau ada meeting, biar aku dan Rangga yang akan menghadirinya," ucap Zahwa menghibur.
Ezra pun tersenyum walau seperti terpaksa. Setelah diberi obat, Zahwa dan Ezra pun kembali ke rumahnya.
Di rumah Ezra tampak termenung duduk di atas ranjangnya.
"Sayang ada apa? tanya Zahwa.
"Maafkan aku, aku seperti lelaki yang tidak berguna saat ini," ucapnya.
"Kenapa kamu ngomong begitu?" tanya Zahwa.
"Lihatlah aku! Aku ini hanya seorang laki-laki yang lumpuh, yang tidak bisa melindungi mu, kalau dalam bahaya," ucapnya.
"Bang... kenapa Abang berpikiran begitu? aku sangat bahagia memiliki Abang," ucap Zahwa.
Kemudian Zahwa pun mendekat dan memeluk erat suaminya.
"Abang... terima kasih... terima kasih atas semua yang telah abang berikan kepadaku. Jangan pernah Abang berpikir yang tidak baik tentangku, apapun kekurangan Abang dan apapun kekuranganku, tolong kita bisa menerimanya dengan lapang dada," ucap Zahwa.
Mereka pun berpelukan. Ezra tampak meneteskan air mata, dia sangat bahagia memiliki wanita sholehah seperti Zahwa.
__ADS_1
Bersambung...