Mendadak Jodoh

Mendadak Jodoh
Mengirim Intel


__ADS_3

Suara ketusnya, membuat Rangga kaget, tak biasanya Diba marah hanya masalah hal sepele ini. Dia merasa sangat mual kemudian dia pun keluar untuk memuntahkan isi perutnya.


"Huak..."


Tiba-tiba Diba merasa sangat mual saat mencium bau parfum suaminya Rangga. Padahal parfum itu yang balikan adalah Diba sendiri waktu baru menikah duku.


Akhirnya Diba pun memuntahkan semua makanan yang dia makan tadi pagi, Rangga pun sangat panik.


"Sayang... Sayang ada apa?" tanya Rangga.


Rangga pun panik dan menyusul Diba ke dapur sambil melepaskan bajunya, dan melemparkannya sembarangan.


"Sayang ada apa?" tanya Rangga lagi pada Diba.


"Jangan mendekat!" ucap Diba seraya menjulurkan tangannya mengisyaratkan tanda stop.


"Bibi... Bibi, tolong Diba Bi!" panik Rangga.


Bibi yang baru ingin menjemur cucian pun kaget dan mendatangi Rangga yang berteriak panik.


"Ada apa Tuan Muda!" tanya bibi.


"Lihat Diba! tolong Bi! ada apa dengan dia?" tanya Rangga.


"Nyonya Muda... ada apa?" tanya Bibi yang belum tahu kalau Diba sedang hamil.


"Aku mual saja Bi... karena mencium bau parfum Rangga," jawabnya.


"Benarkah? Apakah Nyonya muda sudah periksa ke bidan kandungan?" tanya bibi .


"Sudah Bi, dan Alhamdulillah sekarang aku sedang hamil," ucapnya.


"Alhamdulillah... berarti itu namanya ngidam Nyonya Muda, biasa kalau pagi biasanya mual-mual apa lagi mencium bau yang tidak sedap atau yang tidak cocok di hidung Nyonya Muda. Maka Nyonya akan merasa mual, Nyonya bisa mencari makanan atau aroma yang Nyonya sukai, agar mengurangi rasa mual itu," ucap Bibi.


Bibi pun memijet mijet pundak Diba dengan minyak kayu putih. Sambil bercerita pengalaman Bibi waktu hamil dulu.


"Bagaimana Sayang, apakah sudah berhenti mual nya?" tanya Rangga.


"Lumayan, enak kok dipijat sama Bibi," ucap Diba.


Rangga pun mendekat untuk menggantikan Bibi memijat Diba, namun...


"Huak... Jangan mendekat," ucap Diba.


"Ada apa lagi Sayang?" tanya Rangga.

__ADS_1


"Aku mual bau parfum mu masih tercium olehku," ucp Diba lagi.


"Ya Tuhan... apalagi ini? aku sudah melepas bajunya Sayang," ucap Rangga.


"Tapi bau parfumnya masih tercium olehku Ga," ucap Diba lagi.


"Jadi aku harus bagaimana ini?" tanya Rangga.


"Sana kau mandi lagi! terus pakai baju yang baru, jangan pakai parfum ya!" ucap Diba lagi.


"Baiklah (Apa begini ya nasib pengen punya anak?)." tanyanya dalam hati.


Rangga pun masuk ke kamar mandi untuk membersihkan diri kembali, setelah selesai mandi dia mencari baju dan memakainya tanpa menggunakan parfum kemudian dia kembali ke dapur.


"Sayang... Kau sudah tidak apa-apa?" tanya Rangga sambil memijet pundak Diba yabg sedang duduk di kursi ruang makan.


"Iya, hemmmmh, gini enak Ga bau tubuhmu," ucap Diba.


"Jadi bayi kita tidak suka bau parfum ya? Apa jenis kelaminnya ya? Aku jadi penasaran... kita USG aja yuk!" ajak Rangga.


"Belum ketahuan Tuan muda, kalau masih umur begini mah... belum ketahuan jenis kelaminnya, nanti setelah usia 7 bulan keatas baru bisa dilihat. Nanti kalau 7 bulan baru bisa, ini baru 2 bulan jalan 3 bulan, paling juga masih segumpal darah," ucap Bibi lagi.


"Iya, ada ada saja kau ini Ga," tambah Diba.


"Ooh gitu ya... Sekarang aku mau makan lagi," pinta Rangga lagi.


"Aku merasa lapar," tambahnya


"Aku yang muntah kok kamu yang lapar?" ucap Diba heran.


"Jangan-jangan Tuan muda kena sindrom.... Coved eh apaan ya, lupa Bibi," ucap Bibi.


"Sindrom Coved? Apaan itu Bi?" tanya Rangga bingung.


"Itu, yang istri hamil, suami yang ngidam," ucapnya.


Sementara Diba pun bingung dan menatap bibi heran. Sementara Rangga malah garuk-garuk kepala.


"Masa aku yang ngidam Bi, aneh mah Bibi," ucap sang suami.


"Ya Bisa dong Tuan, itu namanya satu hati, satu jiwa, satu raga, hi hi hi," Bibi tertawa melihat pasangan muda itu bingung.


"Ini Tuan, piringnya," Bibi meletakkan piring di depan Rangga.


Diba pun mengambil piring itu karena ingin mengambilkan nasi.

__ADS_1


"Eh Sayang, tidak usah, biar aku saja," ucap Rangga.


"Lho! Ada apa? Biasanya juga manja minta di ambilin," ucap Diba.


"Kamu 'kan sedang hamil Sayang," ucap Rangga sambil mengambil lauk pauk dan memakannya.


"Yakin nasi segitu habis?" tanya Diba yang melihat Suaminya kamaruk.


"Nafsu makan ku tiba-tiba meningkat Sayang," ucapnya.


"Oooh, ya sudah, jangan mubazir, aku mau ke kamar duluan ya, kepalaku terasa berputar ini," ucap Diba.


"Iya Sayang, sini.-


Rangga berdiri ingin membantu Diba.


"Nggak usah, aku masih bisa jalan kok, kayak pesakitan aja," ucap Diba.


"Oh baiklah," ucap Rangga.


***


Ezra sudah sampai di Indonesia. Sesampainya di Indonesia Ezra segera mencari taksi dan meluncur menuju kediamannya. Perasaan galau melanda dirinya, dia tidak tahu apa yang harus dikatakannya pada Zahwa, karena gagal menemukan Arsya. Tak Berapa lama Ezra pun sampai di rumahnya.


"Bang... Kau datang? Mana Arsyaku?" seru Zahwa sambil,berlari dari teras rumah mendatangi Ezra yang baru turun dari taksi.


"Zahwa... Ayo kita masuk dulu!" ajak Ezra.


Zahwa pun mengiringi Ezra yang terlihat lesu. Zahwa sudah bisa menebak apa yang akan di katakan Ezra padanya.


Ezra duduk di ruang tamu di ikuti Zahwa.


"Arsya tidak ada 'kan?" tanya Zahwa.


"Maafkan aku, aku gagal membawa Arsya kembali," ucap Ezra, seraya memeluk Zahwa erat.


Ezra dan Zahwa pun sama -sama menangis.


Sementara Mita yang juga ternyata ada di sana pun ikut meneteskan air mata.


Mitha segera menuju dapur dan menchat seseorang.


"*Aku ingin kau ke Jerman hari ini juga, dan temukan Zaira dan cucuku!" titahnya.


"Baik Bos!" sahut orang itu.

__ADS_1


BERSAMBUNG*...


__ADS_2