Mendadak Jodoh

Mendadak Jodoh
Menjual Keperawanan


__ADS_3

Kini Zaira sudah berganti pakaian dengan pakaian yang super seksi, tubuh mungil dan wajah cantiknya tampak sangat mempesona, dia pun, duduk di meja dan menenteng minuman, Bos club itu mengizinkan Zaira untuk mencari orang yang mau memakai jasanya malam ini, asal mahal dan bisa menjamin hidupnya selama di Jerman ini.


"Hey, Baby, hmmm, boleh aku duduk di sini?" ucap seorang pemuda yang terlihat seperti orang blesteran indonesia, dan juga berbahasa indonesia.


"Boleh, kenalin, aku Za," ucapnya.


"Aku Bram,"


Mereka pun ngobrol asyik, obrolan biasa-biasa saja.


"Hey, Bram, lama tak kemari, ke mana aja kamu?" ucap Bos Club.


"Mami, lagi ada kerjaan di luar Mami," ucapnya.


"Ada barang bagus nih... " Si Mami tampak berbisik di telinga Bram, dan Bram pun tampak angguk-angguk.


"Jadi kau ingin...," Bram menggantung kalimatnya karena ingin jawaban langsung dari Zaira.


"Ya, berapa kau berani untuk membawaku pergi dari sini?" tanya Zaira.


"Seumur hidupmu, bagaimana?" tanya Bram lagi.


"Maksudnya? Seumur hidup gimana?" Zaira bingung dengan jawaban lelaki itu.


"Ya, aku akan memniayai seumur hidupmu, asal kau mau menjadi simlananku, bagaimana?" tanya nya lagi.


"Apa kau sanggup membiayai hidupku yang mahal ini?" Angkuh Zaira, menatap tajam ke arah Bram.


"Kau lihat saja! Kalau kau mau, sekarang juga kita pergi," ajak Bram.


"Baiklah, tapi aku ada permintaan," ucapnya.


"Apa?" tanya Bram sambil mengangkat sebelah alisnya.


"Aku membawa Mama dan juga Adik bayiku," ucapnya.


"Cuma itu?" tanya Bram.


"Ya," sahutnya.


"Baiklah aku menerima syaratmu, oh ya, Siapa nama panjangmu?" tanya Bram sambil berjalan menuju sofa dan duduk di sana.


"Zaira," sahutnya.


"Mami, aku akan membawa gadis ini, dan dia akan tinggal denganku, terima kasih ya Mam," ucap Bram.


"Tinggal denganmu? Apakah kau hanya perlu Dia? Apakah tidak ingin yang lain?" ucap Mami.


"Mam, aku bukanlah yang dulu, banyak hal yang aku dapat setelah perjalananku 2 bulan ini ke suatu tempat," ucap Bram.


"Oh, baiklah, itu terserah kau saja,"


Bram dan Zaira pun pamit.


"Maaf, boleh aku panggil nama atai ala ya?" tanya Zaira.

__ADS_1


"Terserah kau saja, asal yang baik-baik," sahut Bram.


"Baiklah, Bram saja, biar lebih akrab, kau sudah menikah?" tanya Zaira lagi.


"Belum, hampir," sahutnya.


"Kok hampir?" tanya Zaira penasaran.


"Ya, karena aku di tinggalkan, dia lebih memilih lelaki yang lebih kaya dari ku, sekarang aku baru merintis usahaku, dan sudah berhasil," ucapnya.


"Oooh, kita mau ke mana?" tanya Zaira.


"Ke Apartemenku, apa kau mau langsung membawa ibu dan adikmu?" tanya Bram.


"Oh, tidak, biar aku selesaikan dulu tugasku, baru aki menjemput mereka."


"Tapi___mengapa kau ingin melakukan ini? Sepertinya kau bukan orang,seperti mereka?" tanya Bram.


"Aku harus berhati hati pada siapa pun, aku tidak boleh membuka kartuku sendiri," gumam hati Zaira.


"Zaira? Kok bengong?" tanya Bram.


"Oh, nggak, aku terpaksa, aku tidak ada pekerjaan, sedang ada 2 orang yang harus ku tanggung hidupnya, demi mereka, aku rela melakukan apa lin," ucap Zaira terlihat minta balas kasihan.


"Oooh, baiklah, kita sudah sampai," ucap Bram.


Mereka turun dan menaiki lift menuju kamar Bram. Memasuki kamar Bram,yang sangat luas dan rapi.


"Tuan sudah datang?" tanya seorang pembantu yang ada di Apartemen itu.


Dengan cekatan Bibi pun mengambil makanan yang memang sudah di sediakan nya di dalam lemari, menyusunnya di atas meja makan.


"Ada yang bisa saya bantu lagi Tuan?" tanya Bibi seraya menunduk.


"Tidak, kau pergilah!" ucap Bram.


Bram dan Zaira pun makan romantis malam ini, Zaira yang memang anak orang kaya, dan pengusaha di kotanya bisa mengimbangi cara makan Bram yang juga terlihat sangat mahir. Sesekali Bram mencuri pandang pada Zaira.


"Orang ini pasti bukan orang sembarangan," lirih hati Bram.


"Bolehkah aku mengetahui asal usulmu?" tanya Bram kemudian.


"Aku dari Indonesia, seperti kau lihat dari bentuk tubuh dan juga kulitku ini 'kan?" ucap Zaira.


"Mengapa kau ingin melakukan ini? Tolong jawab jujur!" tanya Bram lagi.


"Aku sudah mengatakannya dari awal, aku butuh pekerjaan," sahutnya.


"Hmmmm, tapi kalau kau ada masalah lain, maka katakanlah padaku," ucapnya.


Bram pun berdiri dan masuk ke kamarnya, membiarkan pintu terbuka, kemudian berbaring di ranjangnya dengan posisi telentang. Zaira yang baru selesai makan pun juga berdiri dan menuju kamar Bram.


"Apakah lelaki ini mengajakku tidur sekarang?" lirih hatinya.


Zaira menatap tubuh lelaki itu tajam, tubuh yang kekar, wajah yang tampan ke bule bu-lean, membuat,hatinya tergelitik ingin mendekat. Kakinya pun berjalan pelan mendekati ranjang itu, di lepasnya baju kaosnya perlahan, entah mengapa, kini di pikirannya sedang membayangkan sedang bersama Ezra. Perlahan dan pasti, Zaira pun membelai dada bidang itu.

__ADS_1


***


"Ra, bangun! Ayo mandi!" ucap Bram saat terbangun dari tidurnya tadi malam.


"Uaaaaaah, kok badanku sakit semua... Ada apa ini?" tanya Zaira heran.


"Yadi malam kita...," Bram terdiam dan menatap Zaira.


"Ha? Kita? Kita sudah...," Zaira menatap ke bawahnya, menatap sprei yang kini di penuhi darah.


"Iya, maaf, aku tidak bisa mengendalikan diri," ucap Bram.


Jam 8 tadi malam.


"Zaira... Kau?"


Zaira dengan agresif menggerayangi tubuh Bram, Brsm yang sedang tertidur pun kaget dan terbangun.


"Kau sangat menggoda Zra," ucap Zaira penuh nirahi.


"Zra? Siapa itu?" tanya Bram.


"Oh, Bram maksudnya, ayo! Akan ku berikan semuanya hari ini, ambilah!" ucap Zaira.


Zaira yang memang sudah tidak bisa mengendalikan diri seperti minum obat terus bermain lincah. Hingga Br pun akhirnya tunduk dan menuruti keinbinan Zaira malam itu.


"Zaira, ayo bangun! Kita akan menjemput ibu dan adikmu 'kan?" tanya Bram kemudian.


Zaira pun mencoba berdiri.


"Sakiiiit... Kenapa perih gini?" rengeknya meringis, dan memegangi Mis V nya.


"Sini aku gendong!" ucap Bram.


Bram pun merasa bersalah pada gadis itu dan membawa Zaira di gendongannya mengantarnya sampai dalam kamar mandi.


"Apa ingin ku mandikan juga?" goda Bram.


"Nggak, aku nisa sendiri,"


Bram pun keluar dan menutup pintu. Zaira menambah air hangat, dan berendam di bathub sambil melamun.


"Ezra, kini semuanya sudah habi, bagaimana lun aku ingin kembali, pasti kau tidak akan mau lagi kembali padaku, aku bersumpah, mulai saat ini, aku akan membalaskan dendamku ini sampai kalian,semua menangis darah."


Lirih hatinya.


"Zaira! Cepatlah, aku juga ingin mandi, sudah satu jam ini, kamu ngapain?" teriak Bram dari luar kamar mandi.


"Iya,"


Bram dan Zaira udah tampak rapi, mereka keluar bersamaan. Ketika Hp Bram berdering.


"Assalamualaikum, ustadz!" saap Bram.


"*Ustadz? Apakah Dia seagama denganku?" tanya Zaira heran.

__ADS_1


BERSAMBUNG*...


__ADS_2