Mendadak Jodoh

Mendadak Jodoh
Bertemu Wanita Pesakitan.


__ADS_3

Fathir, Saila dan Huda akhirnya berangkat menuju sebuah desa terpencil yang sangat jauh dari kota. Pertama-tama, Fathir ingin bertemu ibu Saila, dan ingin meminta maaf, kemudian, dia akan membantu Saila bertamu dengan ayahnya, walau pun Fathir belum yakin, siapa ayah Biologis Saila sebenarnya.


"Mama sakit, sudah sangat lama dia sakit, sejak kejadian saat itu, dia mulai goyah, kadang dia berbicara sendiri, itu yang nenek bilang, namun saat kehamilannya membesar, dia mulai membaik dan ceria kembali, namun sekarang dia sakit lagi, dia kadang memanggil semua orang yang lewat dengan mengejarnya sampai orang itu menghilang,"


Cerita Saila tentang ibunya yang sekarang kurang waras. Jiwanya terganggu karena telah di tinggal suaminya begitu saja.


"Lalu dengan siapa dia sekarang?" tanya Huda.


"Kami tinggal dengan Nenek, namun Nenek juga sekarang sudah tua dan sakit-sakitan," ucapnya.


"Bagaimana kau bisa menemukan aku?" tanya Fathir.


"Perjalanan yang sangat panjang, saat aku menginjakkan kakiku di kota ini sejak 5 tahun silam, aku bertekat akan menemukan orang yang telah menodai ibuku, hingga suaminya pun meninggalkannya, dan aku menuju Vila itu, alamat yang tertulis di buku diary kusam milik Mama," ucap nya.


"Lalu? Bagaimana kau bisa mengira, bahwa aku lah pelakunya?" tanya Fathir kembali.


"Aku menemui penjaga Villa, dan dia mencurigai bahwa pengusaha yang bekerja sama Pak Manae lah yang melakukan semua itu, karena Pak Manae terkenal sebagai agen pembunuh bayaran, walau Dia tidak pernah bisa di sentuh hukum karena tidak ada bukti, aku oun mulai menyusuri perjalanan Pak Manae dan menantunya, hingga menemukan data, pengusaha yang kaya raya yaitu nama Anda."


Saila terdiam dan menghela nafas berat. Ketika butiran bening mengalir di pipi mulusnya..


"Saila, aku akan membantumu sampai kau bisa menemukan orang yang telah melakukan semua ini padamu," ucap Huda membujuk.


***


"Nduuuk, kau sudah datang? Kau bawa Mas Eno kan?" racau mama Saila yang menyongsong kedatangan Saila bersama Fathir dan Huda.


"Mama... " Saila pun meraih tangan Mamanya dan membawanya masuk.


"Nek, aku datang!"


Saila pun memanggil Neneknya. Rumah terlihat sepi, mungkin Nenek lagi di dapur memasak.


"Ayo masuk! Maaf berantakan," ucap Saila.


Rumah yang tak terawat dan berantakan, bau pesing, mungkin sang ibu sering kencing sembarangan karena sakitnya.


"Terima kasih," balas Fathir.


Huda pun tampak merasa jijik dengan lingkungan rumah Saila, berbanding terbalik dengan pakaian Saila yang seksi dan kulit mulus itu. Sementara Fathir lebih bisa mengendalikan diri dan bersikap biasa.


"Apa maksud kedatangan kalian kemari?" tanya Nenek Saila.


"Kami ingin menanyakan perihal kejadian 25 tahun silam, apakah Wulan ad bercerita sesuatu?" tanya Fathir.


"Ya... Saat dia pulang, kondisinya sangat memprihatinkan, dia bercerita di buang oleh suaminya, karena dia hanya istri sirri. Sejak saat itu dia sempat tidak makan satu minggu, dia hanya melamun, termenung, hingga akhirnya suka mencegat pejalan kaki yang lewat di depan rumah kami. Namun, saat kehamilannya semakin besar, dia semakin membaik, obat rawat jalan karena kami tidak punya biaya untuk mengobatinya."

__ADS_1


Sang Nenek pun meneteskan air mata sambil bercerita.


"Apakah suaminya tau kalau dia hamil?" tanya Fathir.


"Tidak, kami tidak tau siapa lelaki yang menikahinya, karena Wulan tidak pernah tau dan tidak pernah di beri tahu tentang pekerjaan atau pun identitas lainnya," sahut Nenek lagi.


"Aku dengar, Saila punyq alamat Villa suaminya, dari mana dia menemukan itu?" tanya Huda. Selain simpati, Huda juga sepertinya menaruh hati pada Saila.


"Itu dia temukan di tas Wulan, aku bahkan tidak pernah membuka tasnya hingga Saila lah yang membukanya."


"Apakah kita bisa menggeledah barang-barang Wulan? Mungkin saja ada petunjuk lain," ajak Fathir.


"Silahkan, Saila, bawa mereka ke kamar ibumu," titah Nenek.


"Tapi kamarnya berantakan dan tak terurus, mungkin kalian tidak akan tahan ke sana," ucap Saila.


"Ayo! Bagaimana kita tau kalau kita belum mencobanya!" ucap Fathir seraya berdiri mengajak ke kamar Wulan ibunya Saila.


Mereka pun menuju kamar Wulan. Sangat berantakan dan berbau yang menyengat, Huda mau pun Fathir menutup hidung mereka dan mulai membuka lemari mencari sesuatu.


Huda membuka tas dan dompet.


"Lihat ada foto," ucap Huda seraya memperlihatkan sebuah foto jadul yang terselip di dalam dompet Wulan. Fathir mengambilnya.


"Wah sayang sekali, ini sudah rusak, tapi kita akan memperbaikinya, kau simpan dulu ya!" linta Fathir pada Huda.


Mereka pun kembali mencari.


"Mau apa kalian ke kamar pengantinku heh?"


Tiba-tiba Wulan datang dan marah ketika kamarnya di obrak-abrik. Sang Mama pun tidak bisa menahan Wulan karena dia mengamuk ingin masuk.


"Lihat ada amplop tebal di buntalan kain dalam tasnya paling bawah," ucap Fathir.


"Ayo kita keluar, Mama sangat marah, nanti otaknya malah semakin drop," ajak Saila.


Mereka pun keluar. Fathir yang lenasaran dengan amplop berwarna coklat itu lun membukanya di jalan menuju ruang tamu.


"Uangku,"


Bruk


Tiba-tiba Wulan merampas amplop coklat muda itu, dan berserakan lah uang sangat banyak. Bukankah 500 juta waktu itu di berikan suaminya saat di usir. Nah ini dia uangnya.


"Uang?"

__ADS_1


Nenek mau pun Saila kaget melihat uang sebanyak itu, dan uang itu tentu saja sudah kadaluarsa.


Mereka pun mengambil uang yang berserakan, Fathir mau pun Huda ikut membantu, sementara Wulan dia hanya mengambil amplop yang sudah sobek dan membawanya ke kamarnya dengan tertawa-tawa kecil.


Selesai merapikan uang.


"Semua uang ini sudah tidak berlaku, pantas saja Wulan sering mengatakan Uangku, uangku. Aku tidak pernah menduga ada uang sebanyak ini, dari mana dia mendapatkannya?" tanya Nenek Saila.


"Nek, apakah lelaki itu memberikannya pada Mama saat, itu?" tanya Saila.


"Ya, mungkin saja, karena aku tidak pernah membuka tasnya, karena dia akan marah kalau barangnya di sentuh, dan aku tidak berpikir apa pun, ku kira itu paling baju lusuh yang dia bawa, karena dia di usir, tidak mengira kalau dia punya uang sebanyak ini," ucap Nenek.


"Kita akan ke kota, dan menukarkan uang ini ke BI!" ajak Fathir.


"Apa bisa?" tanya Saila, matanya pun berbinar penuh harap.


"Kita akan mencobanya."


Akhirnya mereka memutuskan untuk kembali ke kota.


"Tolong jaga cucuku baik-baik, jangan sampai terulang kejadian di masa lalu," ucap Nenek.


"Iya Bu, aku akan menjaganya kayaknya anak kami sendiri, Ibu jangan khawatir.


***


Mereka semua sudah kembali ke kota. Mereka akan menyelidiki Villa, tempat kejadian perkara. Fathir juga memanggil Baron, orang yang dulu menggilir Wulan bersama teman-temannya, namun, ujang dan 1 teman lainnya menghilang bagai di telan bumi.


" Assalamualaikum," ucap Zahwa dan Ezra brsamaan.


Tak ada sahutan.


"Ke mana mereka?" Tanya Zahwa.


Sementara di samping rumah belakang tampak berisik, karena penasaran, Zahwa pun berjalan mendekati arah suara, ternyata tukang sedang membuat ruangan yang menyambung dengan dapur. Di sana juga ada Shaina dan juga Fathir yang sedang memandori tukang.


Sementara Ezra bersandar di Sofa ruang tamu dengan memejamkan mata dan merentangkan kedua tangannya.


"Siapa dia? Sangat tampan,"


Tiba-tiba Saila mendekati Ezra dan duduk di samping Ezra. Ezra yang mengira itu adalah Zahwa pun cuek, malah dia merebahkan kepalanya ke paha Saila tanpa membuka matanya. Saila yang terpesona merasa sangat senang.


"Kak Ezra!"


Ketika panggilan yang sangat nyaring membahana di telinga Ezra, Ezra pun kaget dan sontak membuka matanya.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2