Mendadak Jodoh

Mendadak Jodoh
Anak Siapa Dia?


__ADS_3

Di sebuah kampung yang sejuk dan Asri. Tampak seorang lelaki renta sedang duduk memandang persawahan yang luas, di temani seorang pemuda yang tampan dan mempesona.


"Kakek, ayo kita pulang!" ucap pemuda itu.


"Baiklah Huda, ayo!"


Pemuda yang di panggil Huda itu pun mendorong kursi Roda lelaki yang di panggilnya kakek.


"Ayah... Mengapa kau coret namaku dari ahli waris mu? Ingin kau apakan warisan sebanyak itu? ladang, sawah, kontrakan, dan juga warung makan yang ada di pinggir kota itu heh?" ucap kasar seorang lelaki yang memanggil ayah lada kakek Huda.


"Pah, jangan begitu sama kakek, kakek sedang tidak sehat." ucap Huda.


"Justru karena dia tidak sehat, harusnya dia memberikan warisan itu pada anak-anaknya, mengapa malah mencoret namaku?"


"Hei, kau! Kalau aku memberikannya padamu, satu minggu pun semua hartaku itu bekal ludes kau jual, tidak! Aku tidak akan memberikannya padamu, aku akan memberikan semua hartaku pada Huda, besok, aku akan mengurusnya, kalau hartaku di urus Huda, aku yakin, dia tidak akan membiarkanmu kelaparan. Sana! Pergilah cari wanita-wanita mu itu! bersenang-senanglah, aku sudah tidak bisa menghalangi mu, bisa-bisa aku langsung mati di tempat." ucap sang ayah.


"Ayah, tidak! kau harus mencantumkan kembali namaku di situ, bagaimana bisa Ayah memberikan semua harta Ayah pada dia, dia itu cucu, sedang Ayah masih ada Anak, yaitu aku, Ayah, itu tidak bisa, tidak bisa!" bentaknya.


"Warisan itu kalau aku sudah mati, tapi aku masih hidup, dan aku akan menghibahkan semua hartaku pada Huda! ayo Huda, kita masuk, sudah hampir ashar."


Huda pun mendorong kursi roda menuju pekarangan rumah yang sangat besar, berada di pinggiran sungai di penuhi bebatuan.


"Tunggu! Tidak bisa, ayah tidak bisa.l!"


Ayah Huda pun menarik kursi roda ayahnya dan membawanya menuju mobil yang terparkir di luar pagar jalan.


"Pah, tunggu! Jangan!"


Huda mengejar ayahnya dan memegangi kursi roda kakeknya.


"Alaaah jangan ikut campur kau anak pung___ alaaaah, sana-sana!" Sepertinya papah Huda ingin mengatakan sesuatu. Namun dia menggantung kalimatnya.


"Apa maksudmu dengan mengatakan Huda pung... ? Pung apa? dasar Ayah tidak beradab."


Kakek pun memukul keras tangan Anaknya yang masih menggenggam kursi rodanya.

__ADS_1


"Ayah, pokoknya kita harus ke Notaris untuk kembali menyematkan namaku di sana!" ucapnya lagi.


"Pah, buat apa semua itu, semua itu akan jatuh pada Papah juga nanti, tidak usah mempersulitnya sekarang, aku juga tidak menginginkannya kok." ucap Huda.


"Alaaaaah... Sok-sok an aja loe, nanti juga kau embet. Tidak! Aku mau sekarang!" Ayah Huda terus menarik kursi roda menuju mobil dengan kasar, tanpa sengaja kaki ayah Huda kesandung, sedang halaman itu sedikit menurun.


"Aaaaa."


Bruk


Kakek pun terguling dan terjatuh ke bawah sangat keras. Wajahnya sempurna mencium tanah.


"Kakeeeek."


"Ayaaah."


Teriak mereka bersamaan.


Kakek Huda yang memang kurang sehat pun yang sedang bermasalah dengan jantungnya pingsan.


...***...


Kakek sudah berada di sebuah rumah sakit di kota. sakit jantungnya semakin parah, kata dokter dia harus di rujuk ke Rumah sakit yang berada di kota.


Sudah 5 jam kakek belum juga bangun.


"Huda, kau harus membujuk Ayah untuk memberikan hak ku, kalau kau tidak berhasil, maka kau akan menyesal." bentak ayahnya.


"Pah, kasian Kakek kalau terus Papa desak, biarkanlah Kakek tenang,"


"Dasar anak pungut, kau membuat aku emosi saja heh." eh keceplosan.


"Pah, apa maksud Papah menyebutku anak pungut? Papah hanya mementingkan harta di banding kesehatan Kakek," ucap Huda.


"Kau memang anak pungut, apa kau ingin tau heh? Jadi kau tidak ada hak untuk harta Ayahku, heh, apa sekarang kau masih berani melawanku?" tantang ayahnya.

__ADS_1


"Pah, sadar, begitu marah pun Papah padaku dan juga Kakek, tak pantas Papah mengatakan itu."


Jadi benar kecurigaan ku selama? Pantas saja sifat Huda dengan jery ini sangat berbeda. Lalu di mana anaknya yang sebenarnya? dan siapa Huda ini?


Ternyata kakeknya sudah sadar, cuma masih berpura-pura pingsan.


Ah siapa sih Huda ini?


"Itu memang benar, aku menukar mu dengan gadisku malam itu? Aku membayar mahal untuk itu, apa kau tau? ha ha ha."


"Pah!"


Kali ini Huda sedikit menekan suaranya karena merasa kesel, ia meyakini saat ini ayahnya hanya kesal dan marah jadi dia berucap demikian.


"Ha ha ha, kau tidak percaya? Kau jangan bermimpi menjadi orang kaya, aku bahkan tidak tau, siapa orangtuamu yang sebenarnya." ayahnya terus meracau tak karuan.


"Sudahlah Pah, sebaiknya kita fokus pada kesehatan kakek saja," ucap Huda.


"Dia ini sudah tua, dia juga tidak bisa berjalan, mungkin memang sudah waktunya dia pergi 'kan?" ucapnya lagi.


"Astagfirullah, Pah. Sudahlah, Papah sebaiknya pulang saja, biar aku yang mengurus Kakek."


Huda pun berjalan dan memijit-mijit kaki kakeknya pelan.


...***...


"Ezra, tolong carikan Ummi bubur kacang ijo dong, suruh paman yang beli, tubuh Ummi rasanya sakit semua ni, aduuuh, ada apa ini?"


Mita terlihat membaringkan tubuhnya di sofa.


"Baik Mi, tunggu sebentar."


Ezra pun berjalan keluar dan meminta paman membeli bubur.


Kayaknya ngidamnya Ummi masih berlanjut.

__ADS_1


BERSAMBUNG...


__ADS_2