Mendadak Jodoh

Mendadak Jodoh
Cemburu Membakar Hati


__ADS_3

Shaina pun kembali masuk kamar. Dia pun mandi dan mempersiapkan diri untuk pergi ke kantor.


Dret dret


Hpnya bergetar.


"Helo, mbak Mita, ada apa?" Shaina


"Apa kau sudah lihat berita pagi ini?" Mita


"Berita apa?"


Shaina pun menyalakan Tv yang ada di kamarnya.


"Berita tentsng,perusahaanmu yang,sudah di jual ke bapak Robi kemaren," Mita.


"Ha? Baik lah, aku akan memeriksa."


Shaina pun menutup telepon dan mencari chenal berita.


Dan benar saja, Robi sedang duduk manis sambil memegang kamera mengarah dirinya sendiri di ruangan Fathir. Dengan tulisan


Akhirnya perusahaan ini menjadi milikku.


"Rangga, Nak, ayo turun!",Shaina pun memanggil Rangga dari tangga paling bawah menatap kamar kakaknya yang ada di atas.


"Ada apa Ma? Aku belum mandi ini," sahutnya, rambutnya pun masih berantakan.


"Kita segera ke kantor sekarang, ayo! Tidak ada waktu untuk berdandan, oh iya, coba kau tengok kamar Huda, apa dia di kamar?"


"Iya____tidak ada orang di kamarnya, bahkan Saila juga tidak ada Ma," ucap Rangga.


"Baik, ayo turun cepat!"


Rangga pun memasang baju dan celananya tergesak-gesak, mengambil kunci mobil dan meluncur ke garasi menemui mamanya yang berdiri tegak di samping pintu mobil.


"Ayo!"


Mereka pin nerangkat menuju kantor tanpa sarapan.


"Sebenarnya ada apa Ma? kok panik gitu?" tanya Rangga.


"Perusahaan kita di jual seseorang, pada pa Robi yang kemaren memprotes presentasi ku," ucap Shaina.


"Benarkah? Apakah mungkin Huda dan Saila?" tanya Rangga.


"Ya, mungkin saja, tadi malam juga mereka tak terlihat pulang ke rumah, sampai pagi ini pin mereka tidak ada,- ucap Shaina lagi.


"Keterlaluan mereka,"


Ternyata Ezra sudah duluan sampai ke tempat perusahaan Shaina.


"Bang,"


Mereka pun bersama-sama menaiki lift menuju ruangan utama.


Ceklek


"Selamat datang kalian para tamuku, silahkan duduk!" ucap Robi pada mereka bertiga.

__ADS_1


"Apa maksudmu heh? kau apakan perusahaan ku?" tanya Shaina pada Robi.


"Ini sudah menjadi perusahaan ku, lihatlah! ini tanda tangan ahli waris perusahaan ini, Huda," ucap Robi congkak.


"Ya Allah, ternyata benar, dia telah menjualnya, sekarang kemana mereka pergi!" ucap Shaina lagi pasrah.


"Mana aku tau! Aku hanya membayar dan mereka menerima,"


"Kurang ajar kau, kau pasti membujuknya 'kan? Dasar licik," ucap Rangga marah sambil mengepalkan genggamannya siap menghantam.


"Ayo kita pulang!" ajak Ezra sambil mencengkram tangan Rangga.


"Aku akan mencabut saham ku di sini," ucap Ezra.


"Aku juga," ucap Rangga.


"Heh, cabut saja, masih ada investor lain yang mau bekerjasama denganku," ucapnya angkuh.


Rangga pun keluar dari ruangan itu.


"Tesssss"


"Semua karyawan di sini, karena perusahaan di sini telah di jual kepada orang jahat, oleh orang jahat pula, maka kalian boleh memilih, pergi ke perusahaan Linggar Pratama, atau Mahendra grop, atau kalian mau tinggal di sini,"


Semua karyawan pun kaget, dan membuka medsos. Mereka semua kaget, dan semua karyawan pun mulai mengemasi perkakas mereka.


"Kita pindah kantoooor!" teriak seseorang.


"Ayoooo!" ucap yang lainnya.


Robi yang mendengar pun panik dan berlari ke luar.


"Kami akan mengikuti, ke mana Bos kami pindah Pa, maaf, kami tidak bisa bekerja pada Bos baru, sedang perusahaan ini hasil rampasan,"


"Betuuuul."


Mereka semua turun bergantian menggunakan Lift, Robi pin jadi bingung dan stres di buatnya.


"Kurang ajar, silahkan kalian pergi, aku akan mencari karyawan baru," teriaknya.


Tak menunggu lama, media sosial pun berbondong-bondong mendatangi perusahaan milik Alm.Fahir itu dan meminta keterangan dari security dan karyawan lainnya. Berita pun jadi viral dalam sekejap.


Satu persatu investor mencabut saham mereka, hingga tak tersisa satu pun di perusahaan Robi itu.


***


"Mas, ayo!"


Tampak Saila ketagihan oleh belaian Huda, mereka tampak di atas kapal pesiar, berada di tengah laut lepas tak bertepian.


"Hemmm, enakkan? kenapa menunggu selama ini baru kau mau di ajak bercinta hem?" ucap Huda menggoda.


Saila pun menarik tangan Huda ke dalam kamar khusus dan menikmati suasana laut yang geol-geol. Saila tampak agresif, dan Huda sangat menikmati itu.


*


"Sayang, kita apakan uang sebanyak ini?" tanya Huda pada Saila. Saat mereka sudah selesai bercumbu.


"Kita puasin liburan, baru kita bikin usaha kecil-kecilan." ucapnya.

__ADS_1


"Oke, Hemmmmh," Huda kembali menggulat istrinya itu mesra, hingga tak terasa sudah 5 jam perjalanan mereka di tengah laut.


"Aduuuuh, Mas, perutku sakit, sakit banget aduuuh,"


Saila meringis kesakitan, dia memegangi perutnya snil terduduk.


"Kenapa? ada apa?" Huda pin jadi panik.


"Sakit, bawa aku ke dokter, sakit," pekik Saila nyaring, dia begitu kesakitan.


"Ayo! Tahan dulu, kita ini ada di tengah laut, butuh beberapa jam baru bis ke pantai dan menemui dokter," ucap Huda.


***


"Bang, mengapa bisa seperti itu? Mengapa Huda tega melakukan ini pada mama," ucap Zahwa merasa sangat sedih.


"Aku juga tidak tau, mungkin saja pa Roni membujuk dan meracuni otak Huda dengan macam-macam bujukan, bisa juga Saila ikut andil dalam penjualan ini," ucap Ezra.


"Iya mungkin, Bang, kita periksa ke Bidan,sore ini ya?" ajak Zahwa.


"Iya, sekarang kamu jangan memikirkan apa-apa, kalau mama ingin bekerja, sia bisa bekerja di kantorku kok," ucap Ezra.


"Mana mungkin mama mau, paling dia bekerja di kantor Rangga," sahur Zahwa lagi.


Tak terasa hari sudah mulai sore, Zahwa pun bersiap untuk pergi ke bidan.


Mereka menaiki mobil mewah milik Ezra keluaran terbaru.


Sesampainya di rumah Bidan.


"Linda? kau juga ke mari?"


Ternyata, Linda dan Bima pun ada di situ, Bima sekarang sudah baikan sama Linda, mereka tinggal serumah.


Spontan Bima pun menatap Zahwa yang berbadan 2 dan terlihat agak gendut dari sebelumnya. Zahwa pun terlihat lebih cantik dan berisi.


"Sayang, aku lupa, ada hal sangat penting, ayo! Nanti kita kemari lagi!" ajak Ezra sambil menarik tangan Zahwa tanpa memberi kesempatan Zahwa bertanya.


"Kenapa?"


Zahwa bertanya saat sudah di dalam mobil. Linda yang melihat tingkah Ezra pun paham, dia cemburu melihat tatapan Bima.


Jangan pernah ketemu mantan, mungkin mantan akan terpesona ketika melihat wanita mu😄


"Nggak papa, tiba-tiba aku lapar, kita makan dulu!" ajak Ezra.


"Hups, kok mendadak sih Bang?" Zahwa malah nggak paham-paham gelagat sang suami.


"Iyalah, aku bisa mendadak lapar, juga mendadak haus kalau wanitaku di pandang oleh lelaki lain," ucapnya kemudian merasa sangat gemes dengan istrinya itu nggak mudeng mudeng.


"Ha? Ha ha, jadi tadi Abang cemburu dengan Bima?" tanya lugu Zahwa.


"Hemmm," sahutnya.


Ezra pun menggenggam tangan Zahwa.


"Hatiku terbakar saat ada lelaki lain menatap wajahmu intens, apalagi dia adalah mantanmu" ucapnya kemudian.


Zahwa tersenyum dalam hati, dia merasa senang karena lelakinya itu sangat mencintainya.

__ADS_1


__ADS_2