Mendadak Jodoh

Mendadak Jodoh
Erza Marah Besar


__ADS_3

"Tapi apa...? ayo Katakan padaku! kali ini aku harus membawa Arsya kembali pada Zahwa," bentak Ezra lagi.


"Tapi Arsya...." Zaira tak berani melanjutkan kata katanya. Dia pun menunduk merasa takut.


"Zaira! cepat katakan! apa yang terjadi pada Arsya? "bentak Ezra.


"Arsya dibawa kabur oleh Mamaku, karena dia tidak mau menyerahkan Arsya padamu, " kata Zaira lagi.


"Apa? tidak! jangan lagi, kau harus menemukan ibumu, Kemana dia membawa Arsyaku? cepat katakan padaku! mungkin saja ini akal-akalan mu saja, Zaira! Aku tidak akan memaafkan mu kali ini, aku akan menjebloskan mu ke penjara!" bentak Ezra, seraya mencengkram pergelangan Zaira.


"Aku mohon, beri aku waktu, aku akan mencari ibuku Aku mohon padamu Ezra, lepaskan tanganku, aku kesakitan, " ucap Zaira seraya meringis karena menahan sakit di tangannya.


"Tidak! aku tidak akan melepaskan mu kali ini, kau harus masuk penjara hubungi, ibumu! Sekarang! mungkin dia akan menolong mu," bentak Ezra dangat nyaring.


Orang yang ada di luar kamar pun ad yang oenasarn dan menengok kamar Bram.


Ezra pun kemudian mengambil teleponnya dan menelpon polisi setempat.


"Ezra... tolong ampuni aku... beri aku waktu... aku mohon... aku pasti menemukan Mamaku..." ucapnya lagi.

__ADS_1


"Aku tidak akan percaya lagi dengan janjimu, Aku tidak akan tertipu lagi oleh kata-katamu!" Bentaknya kembali.


"Aku sedang hamil, aku tidak ingin dipenjara, kalau aku di penjara, aku pasti stress, Aku sedang hamil anak Bram," ucapZaira lagi memohon.


"Apakah kau memikirkan Zahwa istriku, saat kau juga menculiknya dari kami? kau tidak memikirkannya dari awal, kau sedang hamil?


Tapi kau bersama dengan anakmu di sana nanti, tapi Zahwa? Dia hampir gila karenamu! Dia kehilangan anaknya di saat anaknya masih lucu-lucunya, aku harus membalas semuanya Zaira," bentak Ezra lagi penuh emosi.


Tak berapa lama rombongan polisi pun datang dan menangkap Zaira, Zaira tampak bersimluh dan menangis.


"Ezra Tolong maafkan aku, aku mohon, aku sedang hamil Ezra, kasihani aku. Aku tidak ingin dipenjara," rintihnya lagi.


"Tidak! kalau kau bisa menemukan Arsya anakku, aku akan melepaskan mu, tapi selama Arsya tidak aku temukan, aku tidak akan mengampuni mu. Pak silakan bahwa dia, nanti aku akan menyusul, sementara ini aku akan mengurus Bram dulu," titah Ezra.


Zaira pun dibawa polisi. Sementara Zaira sepanjang jalan dia terus berteriak-teriak memanggil Ezra, namun sepertinya Ezra tidak tersentuh sama sekali Ezra.


"Ke mana lagi aku harus mencari Arsya?" gumam Ezra.


Dia pun duduk di bawah brangker Bram, sambil memegangi kepalanya dengan kedua tangannya. Air mata pun menetes di ujung matanya. Dia sangat sedih dan membayangkan wajah Zahwa yang kecewa, karena tidak dapat menemukan Arsya.

__ADS_1


Ezra pun kemudian menelpon Pasha yang ada di apartemen.


"Paman... aku sudah bertemu dengan Zaira dan Bram. Namun ternyata Arsya tidak bersama mereka," ucap Ezra.


"Lalu ke mana Arsya kalau tidak bersama mereka?" tanya Pasha.


"Ternyata mama Zaira membawanya kabur, sebelum Zaira sempat membawa dia ke apartemen itu. Mama Zaira tidak rela kalau Dia menyerahkan Arsya padaku, karena mama Zaira sangat dendam padaku, dikarenakan suaminya meninggal, dan dia bilang Akulah penyebabnya."


"Kok gara gara kamu?"


"Iya, karena suaminya sakit-sakitan setelah aku memutuskan hubunganku dengan Zaira,"


"Benarkah? sekarang kau ada di mana?" tanya Pasha.


"Sekarang aku ada di rumah sakit, menemani Bram, dan Zaira juga telah menyakiti Bram dengan memberikan obat perusak saraf, sehingga saat itu Bram tidak jadi menemui ku untuk menyerahkan Arsya."


"Zaira di mana sekarang?" tanya Pasha lagi.


"Sekarang Dia sudah ku serahkan ke kantor polisi, mungkin dengan begitu, kita bisa memancing namanya Zaira untuk datang ke kantor polisi."

__ADS_1


"Baiklah, aku akan menyusul kau ke rumah sakit," ucapnya.


__ADS_2