Mendadak Jodoh

Mendadak Jodoh
Penyelidikan


__ADS_3

"Aku akan menuruti permintaanmu, asal kau bisa merahasiakan ini dari semua orang orang rumah!" pinta Yola.


"Benarkah? bagaimana kalau aku memintamu mengasingkan diri dari kami, sampai kau melahirkan?"


Sepertinya Rangga hanya menguji ke sungguhan Yola.


"Apa kau memintaku agar pergi dari kehidupan kalian?"


"Ya."


Sahut Rangga serius.


"Aku perlu memikirkannya lagi."


"Sudah ku duga."


"Menduga apa?"


"Tentu kau tidak akan mau kan?"


"Aku hanya bilang, aku akan memikirkannya lagi."


Mereka sudah sampai di halaman.


Yola masuk tanpa bicara apa pun.


***


Bugh bugh


"Hey...mengapa kau mem*k*liku? apa salahku padamu?"


Bima memegangi pipinya yang sudah mem*r dan bibirnya yang berd*r*h.


"Kau jauhi Yola, dan dengan Kakakku Zahwa, mungkin aku perlu memikirkannya lagi," ucap Rangga, ternyata Rangga yang mem***li Bima.


"Heh, kau lihat saja nanti, mungkin ke dua wanita mu itu akan h*ncur di tanganku," ancam Bima.

__ADS_1


"Kau berani menyentuh kakakku Zahwa, kau tidak hanya berurusan denganku, namun mungkin saja kau berurusan dengan k*buran mu sendiri, ingat itu!"


Rangga pun pergi meninggalkan Bima yang meringis. Sementara dari kejauhan, tampak Zahwa mengintip dari balik pepohonan yang ada di halaman kampusnya.


Zahwa pun berjalan mendekati Rangga lewat jalan lain.


"Dek, aku ingin bertemu seseorang, tolong antar aku!" pinta Zahwa.


"Ke mana kak?"


"Antar saja, nanti kau akan tau."


Zahwa pun masuk ke dalam mobil Rangga. Rangga pun melajukan Mobil mewahnya melaju menuruti arahan Zahwa.


"Kok seperti menuju perkampungan gini sih kak?"


Rangga jadi penasaran, Zahwa terus memandu menuruti google map menuju pinggiran kota.


"Aku ingin mencari bukti tentang Bima, kau ikuti saja jalan yang di tunjukan google ini,"


Tak terasa mereka pun sampai di sebuah rumah mungil.


"Assalamualaikum."


"Wa alaikumsalam. Apa kau teman Linda?" tanya wanita paruh baya.


"Iya, Bu, Linda nya ada?" tanya Zahwa.


"Masuklah! Linda, ini temanmu sudah datang." ucap wanita itu. Mungkin Linda sudah berpesan pada ibunya bekal datang teman kampusnya.


"Oh Zahwa. Selamat datang di gubuk ku, ayo duduk! maaf, beginilah rumahku."


Zahwa dan Rangga pun masuk dan duduk di kursi rotan yang terlihat lapuk.


"Terimakasih."


"Apa yang ingin kau ketahui?"

__ADS_1


"Kau pasti sudah bisa menebaknya, namun untuk lebih jelas, biar aku tanyakan lagi, apakah bayi yang kau kandung itu anak Bima?" Rangga melongo dan menatap perut Linda yang memang sudah terlihat muncul, sudah 6 bulan kandungan Linda sekarang.


"Ha? kau hamil? anak Bima?"


Rangga tak tahan untuk mengunci mulutnya. Sehingga dia pun spontan bertanya.


"Ya, dan ini murni anak Bima, aku tidak pernah berhubungan dengan siapa pun selain dia, karena ini juga terpaksa, semuanya demi uang," jawab Linda sayu.


"Oooh."


Zahwa syok dan menutup wajahnya dengan ke dua telapak tangannya.


"Syetttt."


Bruk


Rangga berdiri sambil memukul meja yang ada di depannya hingga patah. Tangannya berdarah.


"Rangga!"


Zahwa menjadi khawatir. Sedang Linda tidak tau kalau Rangga dan Zahwa adalah kakak adik.


"Kenapa kalian menanyakan Bima? apa hubungan kalian?"


"Aku___aku tunangan Bima," jawab Zahwa sambil ngelap sedikit d*r*h yang meleleh di tangan adiknya.


"Tunangan? lalu? siapa Dia?" Linda menunjuk Rangga.


"Dia adikku, Rangga."


"Adik? ku kira selama ini Dia pacar mu karena sering antar jemput kamu."


"Seminggu lagi kami akan menikah, aku ingin kau ikut ke kota denganku."


"Ha?" Linda kaget


BERSAMBUN....

__ADS_1


__ADS_2