
Tiga bulan telah berlalu. Tampak Yola sedang berada di rumah lamanya, karena sedang berkunjung menemui Arsya dan Arsy.
Dia pun asik bermain di ruang keluarga, Arsya yang pendiam dan Arsy yang sangat aktif, mungkin karena sejak lahir Arsya tidak banyak dibawa bergaul oleh Zaira, sedangkan Arsy selalu bermain bersama sepupu-sepupunya anak Lili dan juga anak Ayana.
"Hello Sayang... lagi ngapain nih? Tante ikutan dong."
Kemudian Arsy yang sudah bisa berjalan cepat berusia 13 bulan itu tampak memberikan beberapa maina, kepada Yola, sementara Arsya hanya bermain sendiri dan menatap dingin ke arah Yola.
"Arsya, sini! ikut tante dong," ajak Yola.
Barulah Arsya berdiri dan mendekati Yola intinya, si Arsya ini orangnya kayak gengsian gitu, dia tidak akan mau menxekat kecuali ada yang memanggilnya.
Sementara di kamar Huda dan Rina.
"Rina, Aku tidak tahu aku harus ngomong mulai dari mana. Yang jelas aku sudah mengetahui semua hubunganmu dengan Toto," ucap Huda.
"Mas aku khilaf Mas, aku mohon maaf, aku tidak bermaksud berselingkuh darimu, sungguh, aku akan memutuskannya," ucap Rina.
"Aku tidak percaya lagi padamu, dan kau jangan hiraukanku lagi Aku ingin menyendiri."
Huda pun membuka pintu dan keluar dari kamarnya.
"Tunggu Mas! tunggu! kau mau ke mana?" tanya Rina.
Rina mencengkram tangan Huda. Namun Huda menepis tangan Rina, dan tidak menghiraukannya.
Dia terus berjalan menuruni snak tangga.
"Mas tunggu!" teriak Rina lagi.
Namun Huda tetap tidak peduli. Sementara Yola yang mendengar teriakan dari atas pun menoleh seketika, tatapan Yola dan Huda beradu pandang.
Yola segera berpaling karena merasa tidak enak. Sementara Huda terus berjalan namun terus menatap Yola yang terlihat semakin cantik di matanya.
Tak Berapa lama, terdengar deru mobil berhenti di depan rumah Zahwa, saat ini Huda sedang berjalan ke dapur untuk makan pagi.
"Assalamualaikum," suara tamu di depan rumah.
"Waalaikumsalam," sahut Yola.
Yola Pin kaget karena seperti mengenali suara itu.
"Kak Zahwa... ada tamu," ucapnya.
Zahwa pun keluar dan menengok ke depan teras.
"Ayo silakan masuk! Yola... ada tamu untuk kita," ucap Zahwa.
"Siapa?" tanya Yola.
"Ayo cepat keluar! bang Ezra, ayo keluar," ajak Zahwa.
Ezra pun keluar dengan berpakaian rapi dari kamarnya.
"Bang Ezra kok Rapi banget sih, mau ke mana? hari ini 'kan hari libur?" tanya Yola.
"Maau nemuin tamu lah, hari ini 'kan ada tamu Istimewa," ucap Ezra.
"Benarkah? Aku di sini saja kak, nemenin Arsya dan Arsy," ucapnya.
"Kok di situ? Ini 'kan tamu buat kamu," ucap Ezra.
__ADS_1
"Buat aku? aku nggak ada janji kok Kak?" ucap Yola.
"Ayo cepat! ke sani bawa Arsy sekalian, biar aku yang bawa Arsya," ucap Ezra.
Ezra pun mengangkat Arsya dan Yola mengangkat Arsy. Mereka pun ke depan, alangkah kagetnya Yola saat melihat siapa yang datang.
"Mamah, Papah dan... Bima."
Yola sangat kaget saat melihat mantan mertua dan juga mantan suaminya itu ada di rumah Zahwa, dengan sopan Yola bersalaman kepada ibu mertua, kemudian mempersilahkan mereka duduk.
"Yola, apakah bisa menebak mengapa mereka kemari? tanya Ezra.
Sedangkan Zahwa membantu bibi di dapur menyediakan makan dan minuman.
"Tidak... emangnya ada apa?" tanya Yola.
Padahal di dalam hatinya pun sudah berbisik.
Satu minggu yang lalu
Di depan kosan Yila.
"Assalamualaikum."
"Waalaikumsalam, ada apa?" tanya teman Yola.
"Apakah Yola ada di dalam?" tanya Bima.
"Oh iya, ada... sebentar ya," ucap teman Yola.
Dia lun masuk ke dalam kos Yola.
"Ada yang nyariin loe tuh," ucapnya.
"Ada apa?" tanya nya gugup. Karena ini pertemuan yang sungguh tidak terduga, Yola juga belim mandi, karena libur kuliah.
"Aku ingin bicara sebentar," ucapnya.
Yola pin duduk di bangku panjang yang ada di depan kamar kosnya.
"Yola... Aku ingin memperbaiki hubungan kita, bukankah Iddah mu sekarang sudah genap?" tanya Bima.
"Iddahku? jadi kau menghitungnya?" tanya Yola.
"Ha ha ha iya... aku menghitungnya," tawa Bima terlihat tersipu.
"Entahlah, aku belum tahu, mungkin aku harus menanyakan dulu kepada Kak Zahwa, karena saat ini merekalah orang tuaku," ucap Yola.
Flashback End.
Zahwa pun keluar bersama bibi membawa cemilan dan air sirup, terlihat sangat enak.
"Ayo sekalian diminum dulu, airnya dan cemilannya juga, bisa sambil dimakan," ucap Zahwa.
Zahwa pun duduk di samping Ezra sambil menggendong Arsya.
"Alhamdulillah sekarang Arsya sudah ditemukan, kami baru hari ini bisa berkunjung kemari," ucap Mama Bima.
"Iya mah, alhamdulillah, mungkin karena takdir kami berkumpul baru sekarang," sahut Zahwa.
"Yola, Bagaimanakah kabarmu sekarang? kuliahmu bagaimana?" tanya Mama Bima basa nasi.
__ADS_1
"Alhamdulillah baik Mah," sahut Yola.
Yola merasa deg-degan karena dia sudah menyangka apa yang akan terjadi hari ini.
"Oh ya Bim, sebaiknya kau katakan saja keinginanmu, kenapa kau kemari bersama orang tuamu," ucap Ezra mendesak.
"Mmmmm... begini... bukanlah aku sudah mengatakannya seminggu yang lalu, kalau aku ingin melamar mu kembali, Yola," ucap Bima.
Kemudian dia terhenti... dan menatap wajah wanita yang pernah bersamanya dulu.
"Itu... " Yola menatap Zahwa.
"Eh kenapa menatap wajahku? sono tatap calon suaminya, bukan aku," ucap Zahwa menggoda.
"Ih kakak apaan sih? Biasanya juga nggak boleh natap wajah laki laki," shut Yola.
"Jadi.... bagaimana?" tanya Bima lagi menatal Yola.
Yola hanya diam.
"Zahwa... Mama juga mohon maaf, kalau anak mama dulu sangat membuatmu kecewa, tapi kami sudah menerima akibatnya, dan kita semua sudah saling memaafkan kan," ucap Mama Bima.
"Iya Mah," sahuy Zahwa.
"Jadi bagaimana?" tanya Bima lagi medesak.
"Apanya?" tanya Yola.
"Apa kau menerima lamaran ku?" tanya Bima.
Saat itu Huda yang berdiri di depan pintu dapur pun kaget, saat mendengar wanita yang pernah dicintainya itu kini akan diambil orang lain. Kemudian Huda pun kembali ke dapur.
"Mungkin ini balasan bagiku, Karena aku telah menyia-nyiakannya, dan kini Rina pun berselingkuh dengan orang lain," lirih hati Huda.
Sementara di luar.
"Ayolah... Yola! Kau masih terdiam, apa kamu tidur?" tanya Zahwa saat melihat Yola uang menunduk, dan memainkan jemari-jemarinya.
"Kakak, aku terserah Kakak saja," ucap Yola
"Loh? kok terserah Zahwa? Emang yang akan menikah itu Zahwa, atau kamu?" tanya Ezra.
"Yola Ayo jawab!"
"Kalau kakak Zahwa dan kakak Ezra setuju, aku pun setuju," ucap Yola.
"Lho? kenapa begitu? yang ingin menikah ini kamu loh, coba tanya hatimu sendiri, atau mungkin kamu perlu waktu," ucap Zahwa.
"Apa kamu baru istikharah dulu? tapi aku takut saat kamu istirahat nanti malah Bima sudah berpaling ke lain hati," ucap Ezra menggoda lahi.
"Ih kakak apaan sih," tanya Yola tersipu malu. Begitu juga Bima dia tampak menghentak-hentakan kakinya di lantai karena merasa gugup.
"Bismillahirohmanirohim, baiklah, Insya Allah, aku mau kok menerima lamaran Bima," ucap Yola. Dia pin menghela nafas lega. begitu juga Bima dia pun menghela nafas lega.
Sementara Huda yang ada di dapur meremas gelas yang dia pegang, hingga Gelas itu pun pecah, orang luar kaget saat mendengar baling itu terjatuh ke lantai, karena setelah di cengkram oleh Huda, gelas itu pun dilepasnya dan jatuh ke lantai, tangannya berdarah.
"Den..."
Teriak Bibi saat melihat darah yang begitu banyak menetes ke lantai.
Orang liar pun kaget.
__ADS_1
Bersambung