
Sementara di kediaman pengantin baru. Diba dan Rangga, setiap pagi Rangga punya pekerjaan yang tidak bisa dia tinggalkan. Setiap pagi, Rangga selalu mengeloni istrinya yang sedang hamil, namun setelah Diba mual dan muntah, pasti Rangga otomatis merasa sangat lapar.
Setiap pagi Rangga selalu makan dua kali sebelum berangkat kerja.
"Gaga... kamu pergi aja kerja, aku sudah baikan kok," ucap Diba
"Benarkah? kalau begitu aku makan dulu ya," jawab Rangga.
"Ih kebiasaan, yang mual yang muntah itu aku, yang laper Kamu, aneh...."
"Eh kamu lupa ya? Kata Bibi... dia bilang 'kan emang begitu, istri yang hamil, suami yang ngidam, berarti ikatan batin kita sangat erat dong," ucap Rangga.
"Kata Bibi, kalau istri hamil namun suami yang ngidam, berarti suaminya itu yang duluan bucin," ucap Diba sambil tersenyum centil.
"Ih siapa bilang? mana ada wajah tampan kayak aku ini bucin sama kamu yang B aja," sahut Rangga.
"B apaan tuh?" Dib ayak mengerti.
"B-I-A-S-A- aja," jawab Rangga
"Ya emang bener 'kan kamu yang duluan suka sama aku," jawab Diba lagi.
"Siapa bilang?" dia masih tidak terima.
"Ah masa? Gaga bohong terus sih, tidak mau mengakui kalau sebenarnya Gaga itu sangat mencintai aku, berarti waktu aku sering ke rumah sama Zahwa, kamu sering dong perhatian aku ya 'kan?" gida Diba sambil menyandar nyandarkan kepalanya di baji Rangga.
"Ih siapa bilang?"
Rangga masih nggak mau ngaku.
Terkilas beberapa bulan lalu, saat Diba mampir ke rumah bersama Zahwa. Dirinya terpana melihat gadis mungil itu begitu cantik, walau usianya lebih tua darinya. Namun Rangga tetap terpesona oleh pesona gadis imut itu.
"Gaga... Hei, Gaga," panggil Diba
__ADS_1
"Oh iya Sayang, aku makan dulu," ucap Rangga.
Dia pun segera berlalu meninggalkan Diba yang tampak menyisir rambutnya. Dia berjalan menuju dapur sambil tersenyum senyum sendiri.
"Tuan Muda, ada apa? Kok senyum senyum?" tanya Bibi yang heran melihat majikannya.
"Nggak kok Bi, aku, mau makan... Huak, bau apaan ini Bi, kok nggak enak banget?" tanya Rangga saat mencium bau asing di dapurnya.
"Itu opor ayam Tuan, bukankah itu opor kesukaan Tuan? Rencana Nyonya muda, itu bekal Tuan untuk di bawa ke kantor hari ini," ucap Bibi.
"Nggak Bi, aku mual, nggak usah, huak..."
Rangga menuju wastafel dan memuntahkan makanannya.
"Tuan Muda, ini...," ucap Bibi seraya menyerahkan minyak kayu putih.
Setelah Mualnya reda, Rangga pun kembali ke kamarnya.
"Lho, nggak jadi makan Bang?" tanya Diba.
"Lalu apa yang aku lakukan di sana?" tanya Diba.
"Kamu periksa berkas," ucapnya.
"Kah? Kamu?" tanya Diba beran.
"Aku 'kan Bos, jadi duduk santai saja lah," sahutnya seraya tersenyum.
"Ih nggak mau," sahut Diba sewot.
"Nggak kok, kita cuma duduk duduk sambil ku gombalin, ayo pakai baju dulu, nanti telat," ajak Rangga.
"Mana ada kata telat buat Bos, yang ada itu kepagian," sahut Diba
__ADS_1
"Iya... Ayo!"
Akhirnya mereka pun berangkat ngantor. Sepanjang jalan, Rangga menggenggam tangan Diba dan mengelus-elusnya mesra.
Sesampainya di kantor, Diba merangkul Diba sepanjang jalan menuju ruangannya.
"Ih wanita tebal muka, tak sadar usia, mending sama aku saja, yang lebih muda, kena lelet ala tu Bos Rangga,"
Cibir salah satu karyawan yang iri pada Diba.
"Ngapain Loe sewot? Mana mau Rangga sama Loe, lihat tu, pakaian Loe aja sengaja di pendek -pendeki, Loe kan tau, kalau Rangga Adik Zahwa yamg taat agama," sindir temannya.
"Yeee aku 'kan juga bisa berubah," sahutnya.
"Tapi hati Loe yang dengki itu susah untuk di rubah," ucap yang lain.
"Eh siapa bilang? Kau saja yang cemburu melihat kecantikan gue yang paripurna ini 'kan?" ucapnya lagi tak mau kalah.
"Ih jijik, ogah aku, dengki hati kayak comberan, hiiii...."
Plak
Tiba-tiba wanita itu menampar wajah karyawan lainnya, karena merasa tidak terima di hina.
"Hei berhenti! Kenapa kalian malah bertengkar?" cegah karyawan lain.
Namun kedua wanita itu tidak berhenti saling cakar mencakar, rambut Mereka pun kini tampak acak-acakan.
"Berhenti!"
Sekali bentakan dari Rangga membuat kedua wanita itu kaget dan pucat Pasi.
"Kalian! cepat ke ruanganku sekarang juga!"
__ADS_1
titahnya.
Beraambung...