
Kakek Huda sudah siuman, dia pun duduk di tepi ranjang pasien menunggu kedatangan Huda yang sedang mengurus kepindahan operasi jantungnya ke kota.
"Kakek! Kau sudah bangun? syukurlah, kita akan segera ke kota untuk operasi jantung kakek." ucap Huda.
"Sini! Duduklah!"
Kakek Huda menepuk ranjang di sisinya.
"Ada apa Kek?" Huda mendekat.
"Sebenarnya, aku sudah lama bangun, namun aku hanya berpura-pura, dan aku mendengar semua cerita Jery padamu, bahwa kau adalah anak pungut." ucapnya.
"Apakah Kakek juga menganggap serius itu? Mungkin Papah sedang emosi saja Kek." ucapnya.
"Tidak! aku sudah lama merasa ada yang Jery rahasiakan dariku, kita akan mencari tau, kita harus memaksanya, untuk mengatakan yang sebenarnya."
"Jadi maksud Kakek, aku bukanlah cucu Kakek?" tanyanya bingung.
"Iya, karena dulu, aku inginkan pewaris untuk harta peninggalanku, mungkin saja dia berbuat curang."
"Maaf Mas, anda di panggil untuk melengkapi berkas lagi."
Seorang perawat masuk dan memanggil Huda.
"Baik Mbak."
Huda pun melengkapi berkas unjuk rujukan Kakeknya berobat ke kota.
"Kakek, ayo! Kita sudah bisa pergi ke kota, Kakek tidak usah memikirkan yang lainnya, masalah warisan lun, aku tidak menginginkannya, lagian, aku juga sebentar lagi lulus kuliah, aku akan mencari pekerjaan untuk biaya hidupku sendiri Kek." ucap Huda.
Dia pun mendorong kursi roda Kakek dan pergi meninggalkan Rumah sakit tersebut.
"Hufs, kau sangat berbeda dengan ayahmu, perilaku mu sungguh sangat mulia, ini membuatku yakin, bahwa kau bukankah anaknya Jery Huda!" ucap Kakek.
Huda tak menanggapi perkataan Kakeknya, dia hanya fokus mengendarai mobilnya yang sudah meninggalkan Desa yang selama ini dia tinggali. Selama perjalanan Kakek terus bercerita tabiat Jeri sejak kecil, karena didikan ibunya yang slalu menuruti kemauan Jery. Kakek pun akhirnya tertidur pulas.
...***...
"Apa kau yakin ini ruangannya?" tanya Zaira pada Yola tepat di depan pintu kamar pasien.
"Aku yakin, ayo!"
Mereka berdua pun mengintip ke dalam, terlihat sepi, karwna ini sudah rencana Fathir yang memasang CCTV sehingga tau bahwa mereka akan datang.
"Sekarang apa yang akan kau lakukan?" tanya Yola.
"Kau harus membantuku, ayo!" Zaira pun masuk ke dalam di iringi Yola. Zaira pun mengambil kursi roda yang ada di ruangan itu.
"Kursinya hanya satu, ayo cari lagi, mungkin di depan ada." titah Zaira pada Yola.
Yola pun celingukan memcari kursi roda di depan namun tidak menemukannya.
"Ayo, kita bawa Ibumu saja, biar Rangga tinggalin." ajak Zaira.
__ADS_1
Mereka pun membopong Shaina menaiki Kursi roda. Berhasil. Mereka mulai mendorong keluar dari kamar itu dan membawa Shaina pergi, dengan menyelimuti Shaina hingga tampak seperti tertidur. Mereka sudah berada di parkiran.
"Jangan bergerak!"
Beberapa polisi kini menodongkan pistol pada mereka brdua. Mereka pun panik. Namjn Zaira mencoba tenang.
"Ada apa pak?"
"Pura-pura tidak bersalah, mau kau bawa ke mana mamaku heh?"
Ternyata Rangga sudah sadar dan berdiri di depan Zaira. Shaina pun tampak bangun dari kursi Roda. Ternyata mereka sudah menjebak Yola bersama-sama.
"Mama, syukurlah mama sudah sadar." ucap Yola berusaha tenang.
"Heh, Mama? Jangan kau panggil Mamaku dengan sebutan itu, aku merasa jijik." bentak Rangga.
"Rangga, apa yang kau katakan?"
"Yola, tidak usah berpura-pura, sebenarnya ada apa denganmu hingga kau mau bekerjasama dengan wanita ini?" tanya Shaina merasa kecewa dengan anak sambungnya itu.
"Ma, kerjasama apa? Aku ingin membawa Mama pulang ke rumah bersama Mai, Mai ini pembantunya Zahwa Ma!" Yola terus mencari alibi.
"Heh, apa kau kira kami tidak tau akal busuk mu? Pa, tangkap mereka!" Rangga sangat kesal, dan menyuruh polisi membawanya pergi dari situ.
"Ma, tidak! Itu tidak benar." Polisi sudah membergol Yola dan Zaira.
"Pa, kami tidak melakukan apa-apa, aku hanya membantu Yola yang ingin membawa mamanya pulang Pa! Tolong lepaskan saya!"
Tiba-tiba Ezra datang bersamaan dengan Fathir, karena telah di kabari.
"Pak Ezra... Tidak, aku bukan Zaira, aku Mai pa!" ucapnya.
Zaira meronta mencoba melepaskan diri dari bergol.
"Yola___"
Plak plak
Tamparan keras mendarat di pipi Yola. Fathir sangat marah pada Yola, dia tidak mengerti, mengapa anaknya itu begitu jahat.
Mereka pun di bawa ke kantor polisi.
Sementara Huda dan Kakek sudah sampai di Rumah sakit yang sama dengan Fathir.
Kakek pun di angkat dan Huda ingin mendudukkan di kursi Roda, namun karena salah posisi Huda pun hampir jatuh, untung Fathir yang memang lagi berada di situ sigap berlari dan mencengkram kursi Ridanya hingga dan berjalan mundur.
"Terimakasih Pa!" ucap Huda.
Deg
Fathir terpana, wajah tampan pemuda yang ada di hadapannya pun sangat memukau, wajah yang sangat dia kenal. Di dalam keterpanaan Fathir, ternyata Kakek Huda juga menatap wajah Fathir tak kalah terkejutnya.
"Pa... Anda baik-baik saja," tanya Huda, heran uanh melihay Fathir seperti melihat malaikat. Terpana.
__ADS_1
"Oooh, i__iya, silahkan."
"Pa, ada apa?" tanya Rangga.
"Tidak apa-apa." jawabnya.
Shaina pun yernuata diam-diam juga menatap wajah Huda yang memang tidak mungkin dia lupakan, wajah tampan dan rupawan itu dulu adalah milik suaminya selagi muda.
"Beng, apa kau kenal dia?" tanya Shaina yang penasaran.
"Tidak, ayo!" Mereka pun kembali masuk ke dalam Rumah sakit untuk membereskan barang-barang bawaan, karena Rangga dan Shaina sudah boleh pulang.
Sementara Huda sudah mendapatkan kamar karena memang sudah di pesan lebih dulu.
"Huda, apakah kau merasa ada yang aneh dengan orang yang di parkiran tadi?" tanya Kakek.
"Aneh? Nggak kok, biasa aja, emang kenapa Kek?" tanya nya.
"Aku merasa lelaki yang menolong kita yadi sangat mirip denganmu, apakah ini jalan Tuhan mencari kebenaran?" ucap Kakek.
"Kakek bicara apa sih? Huda bilang, jangan memikirkan itu dulu, biar Kakek sehat dulu ya." ucapnya.
Kakek pun di baringkan di atas ranjang, ruangan VIP ini sangat nyaman dan sejuk.
"Kek, aku mau istirahat dulu."
Huda pun membaringkan tubuhnya di sofa panjang di ruangan itu, karena mereka memesan ruangan VIP
"Apa benar aku bukanlah anak Papah Jery? Dan siapa lelaki yang di depan tadi? Kakek bilang, dia sangat mirip denganku."
Ternyata tampa sepengetahuan kakek, Huda pun kini ikut memikirkannya.
...***...
"Ma...apa Kau lihat pemuda yang di parkiran tadi?" tanya Fathir pada Shaina saat di mobil menuju pulang.
"Iya Pa, bagai dublikat Beng beng, aku juga memperhatikannya, mengapa dia sangat mirip denganmu saat masih muda dulu?" ucapnya.
"Benarkah? Yang mana?"
Rangga tadi tidak memperhatikan, jadi dia tidak tau.
"Lelaki yang membawa Kakek Tua di parkiran tadi Ngga!" jawab Fathir.
"Apa mungkin dia anak Papa dari wanita lain? Ha ha ha... "
Rangga malah becanda.
"Ha? Apa benar Pa?" kini malah Shaina yang serius.
"Ist, apaan sih? Dalam hidupku ini, cuma ada satu nama, yaitu Mamamu ini Rangga."
...BERSAMBUNG......
__ADS_1