
Huda dan Saila melajukan mobilnya di jalanan yang mulai ramai. Mobil mewah Huda mengundang perhatian para cewe yang juga ingin berangkat kerja, seperti pegawai toko. Mata mereka memandang penuh arti ke mobil dan wajah Huda yang memang tampan, walau tak setampan Ezra dan Rangga😁
"Sayang, kapan kita menikah?"
Saila yang menyadari tatapan Huda ke pada mereka pun sengaja bermanja-manja, dan menyandarkan kepalanya ke pundak Huda.
"Kita tunggu Papaku menemukan ayahmu dulu untuk menjadi wali nikah, baru kita bisa menikah," ucap Huda.
"Tapi sekarang mereka lagi sibuk mengurus Zahwa, mana sempat mereka mengurusi ayahku," ucap Saila sedih.
"Kita tunggu saja, lagian walau kita nggak nikah, kita 'kan tetap serumah dan masih bisa begini berduaan," ucap Huda.
Huda yang dulu baik dan nggak gila harta setelah ke kota berubah drastis, apalagi dia punya perusahaan besar milik ayahnya, yang mempunyai beratus-ratus karyawan.
Mereka asyik bercanda gurau dalam mobil, dan sesekali Huda mencolek pipi Saila dan menciumnya. Sepanjang jalan mereka saling bercanda gurau.
"Awaaaas!"
Bruk
Tiba-tiba Huda hampir menabrak pejalan kaki, untung saja dia sempat membanting setir ke samping dan menabrak pohon besar hingga kap mobilnya hancur dan penyok.
***
Tap tap tap
"Papa, mobilku ke mana?"
Tiba-tiba Rangga masuk ke rumah lagi dan menanyakan mobil mewahnya.
"Di garasi nggak ada?" tanya Fathir.
"Nggak ada pa? Apa Huda membawa mobilku ya?"
Rangga pun masuk dan mencari kunci di tempatnya.
"Nggak ada Pa, berarti benar Huda membawanya."
Dret dret dret
Hp Fathir berdering.
"Helo! Ada apa Da?"
Ternyata Huda yang telpon.
"Kami ketabrak trotoar Pa, mobilnya penyok dan tidak bisa di bawa jalan lagi nih," ucap Huda.
"Tabrakan? Kamu di mana?"
Huda pun menyebut alamat.
"Pa, tabrakan? Ya Allah, bagaimana dengan Huda dan Saila?" tanya Rangga khawatir, walau dia marah karena mobilnya di bawa tanpa izin.
"Kayaknya nggak papa,"
"Ayo pa!"
__ADS_1
Rangga dan Fathir pun berangkat menuju lokasi menggunakan mobil lainnya.
"Mau ke mana mereka tergesak-gesak Bi? tanpa pamit,"
Shaina yang baru selesai mandi hanya melihat belakang mobil Fathir yang sudah menghilang di balik pagar rumah.
"Tadi saya dengar Den Huda tabrakan, dan mobilnya rusak parah," ucap Bibi.
"Astagfirullah, apa lagi ini?"
***
"Ya Allah... Mobilku!"
Rangga histeris saat melihat mobilnya hancur bagian depan.
"Huda, mengapa kau tak izin dulu sebelum memakai mobil? Kau harus utamakan adab, kau tau harga mobil ini berapa heh?"
Fathir marah dengan anaknya itu, karena tak izin sebelum memakainya, terlebih, itu adalah mobil anak sambungnya Rangga, Fathir saja belum pernah minjam, karena mobil itu jarang di pakai, kecuali kalau rangga jalan-jalan sama Shaina dan Zahwa.
"Maaf Pa, tapi 'kan semua mobil di rumah itu milik kita juga, jadi mengapa harus izin?" ucap Huda.
"Ini mobil Rangga, dan kau harus izin kalau mau memakai milik orang." ucap Fathir.
"Milik Rangga 'kan milik Papa juga, ku kira tak masalah kalau aku memakainya sesekali." jawabnya.
"Tidak, milik Rangga hanya milik Dia, bukan milik kita," sahut Fathir kesal.
"Kenapa bisa begitu Pa? dari mana dia dapat uang sebanyak itu buat beli mobil?"
Huda masih ngeyel dan kesal karena Fathir slalu membela Rangga.
Mereka pun pergi menggunakan mobil lainnya.
Rangga merasa heran, mau ke mana papa sambungnya ini membawa mereka, seperti kenal jalan yang di lalui, batin Rangga.
Setelah beberapa saat mereka pun sampai.
"Pa, kok kemari?"
Paman satpam segera membukakan pintu buat Rangga dan Fathir, mengambil mobilnya dan memarkirkannya di tempat teduh.
"Untuk apa ke mari Pa? Ini punya siapa?"
Huda yang bingung dengan layanan karyawan dan paman satpam pun heran, layanan yang sangat luar biasa, pintu dan mobil di parkirkan bagai preseden yabg baru datang.
"Kau lihat saja nanti, bukankah kau penasaran?"
"Presdir, mengapa mendadak datang ke mari? Tidak memberi kabar," ucap seorang karyawan yang tampak berwibawa menyambut kedatangan Rangga.
"Presdir?" batin Saila. Begitu juga Huda, dia kaget saat melihat sambutan karyawan pada Rangga.
"Aku hanya ingin jalan-jalan."
Rangga pun memasang wajah col nya dan cuek sambil berjalan menuju ruangannya.
Ceklek
__ADS_1
Pintu ruangan di bukakan.
Mereka masuk ke dalam.
"Apa ada yang perlu saya bantu Pak?" tanya karyawan tersebut pada Rangga.
"Bawakan es jeruk dan cemilan kecil untuk kami," titahnya.
Karyawan itu pun keluar. Rangga kembali menarik napas dan bersikap biasa.
"Huda, ini adalah perusahaan Rangga, peninggalan ayah dan kakeknya, jadi sekarang kau paham 'kan? Kalau barang mik Rangga bukanlah milik kita," ucap Fathir.
"Pa, tidak apa-apa kok, aku cuma ingin dia minta izin kalau mau minjam barang, tidak sopan kalau meminjam milik orang tanpa izin," ucap Rangga.
"Woooow, kaya sekali anak itu? Bahkan dia pewaris tunggal, sebaiknya aku dekati dia saja sebelum kami menikah,"
Otak Saila mulai bekerja dengan baik, sifat matrenya muncul tiba-tiba.
"Kau sungguh tidak punya tata krama, kau ambil apa yang kau bisa ambil, bahkan semua yang ada di rumah itu kau anggap milikmu, kau terlalu sombong," ketus Rangga.
"Aku sudah minta maaf, aku tidak tau kalau itu milik lribadi mu," ucap Huda juga tak kalah nyaring.
"Sudah-sudah, jangan berisik, malu dama karyawan."
Akhirnya Rangga meninggalkan ruangan dengan wajah masam.
***
"Tuaaan, aku haus, aku ingin minum teh panas," rengek Zahwa dari dalam kamar.
Bima pun datang dengan masih menggunakan topeng, dan membawakan secangkir tes panas. Memasukkan teh ke dalam kamar lewat celah.
Hap
Tiba-tiba Zahwa menangkap tangan kekar Bima dan
Sret
Menarik Topeng, hingga topeng itu terbuka.
"Ka____kau, Bima?" Zahwa sangat kaget dan terperanjat saat melihat wajah di balik topeng itu adalah Bima mantan calon suaminya dulu.
Bima tak bisa mengelak lagi, dia kemudian menatap wajah Zahwa dengan menarik napas dalam.
"Kau sudah tau sekarang, maka aku tidak bisa menjamin kebebasan mu lagi, mengapa kau nekat?" ucap Bima terlihat kesal, karena kedoknya terbongkar.
"Bima, lepaskan aku, kau ingin uang berapa? aku akan memberimu, katakanlah! Kita berdamai, tolong lepaskan aku! aku mohon!" ucap Zahwa memalas.
"Tidak, aku tidak bisa percaya padamu, kau pasti menjebloskan ku ke penjara setelah kau bebas 'kan?" ucap Bima.
"Tidak, aku janji, apa kau butuh pekerjaan? Rangga pasti bisa membantumu, asal kau mau berubah, Bima, tolong, aku lagi hamil, dan aku butuh ketenangan," pinta Zahwa
"Zahwa, apa kau tau? aku sangat mencintaimu, beberapa hari ini aku bahkan sangat bahagia bisa setiap hari melihat wajahmu, mengapa kau malah menikahkan ku dengan Yola? padahal saat detik terakhirku akan menikahi mu, aku janji akan berubah, aku akan berubah bahkan 1000an % sekali pun," ucapnya.
"Kita tidak berjodoh Bim, kau harus terima itu, sekarang lepaskan aku! aku akan memberikan uang berapa pun kau mau,"
"Maaf, aku tidak bermaksud melepaskan mu, aku juga tidak tertarik lagi dengan uang, biarlah kita begini, bisa melihatmu setiap hari itu sudah cukup bagiku,"
__ADS_1
Bima pun meninggalkan Zahwa sendirian.
BERSAMBUNG...