Mendadak Jodoh

Mendadak Jodoh
Mendadak Jodoh


__ADS_3

Zahwa menatap kepergian Ezra tanpa berkedip, tak tau apa yang sedang dipikirkannya, dia hanya terpaku tanpa berkata apa pun. Ezra sudah hilang di balik pintu ruangan rias yang ada di samping panggung pernikahan.


"Yaaaaaaah."


Beberapa penonton seakan kecewa dengan reaksi Zahwa, begitu juga Mita dan Shaina menghela nafas berat dan menundukkan kepalanya dalam.


Di dalam ruang rias.


"Lho? kok loyo Bang?" tanya Rangga yang juga merasa nggak karuan.


"Zahwa menolak ku Ngga," jawabnya lemes.


"Masa? Dia bilang apa?" Rangga penasaran.


"Dia tidak bilang apa apa saat ku ajak nikah," ucap Ezra lagi.


"Itu bukan menolak namanya, bukankah diam bertanda iya? ayo sana Bang! sana lagi ayo!"


Rangga mendorong tubuh Ezra sampai ke depan pintu dan menutup pintunya lalu mengunci nya dari dalam. Tak ada pilihan Ezra.


Tap


Tap


Tap


Ketika derap langkah dengan cepat terdengar mendekati panggung. Semua mata menatap ke arah datangnya suara.


"Pa penghulu, Nikahkan kami! Ummi, Papa dan Mama shaina, apakah kalian merestui hubungan kami?" tanya Ezra kepada keluarganya yang hadir.


Fathir, Shaina dan Mita pun tersenyum lebar bersamaan.


"Ya, kami merestui kalian!" ucap Fathir lantang.


Prop prok prok


Semua undangan bersorak kembali setelah sempat dalam keheningan.


"Ayo!"


Zahwa sekali lagi menatap wajah lelaki yang kini memaksanya menikah mendadak. Entah keberanian dari mana, Zahwa pun mengangguk.


"Heh, kenapa tidak kau jawab dari tadi? membuat wajah tampanku ini remuk kaya kepiting rebus."


Ezra sempat sempatnya bercanda, namun masih terlihat cuek dan dingin.


Pa penghulu pun mengajari Ezra bagaimana caranya menikah, Ezra tampak terlihat gugup.


Haduuuh, nggak ada persiapan apa apa lagi.


Batinnya.


dia pun merogoh sakunya dan mengeluarkan cincin berlian pemberian Umminya.

__ADS_1


Acara pun kembali di mulai. Bima dan Yola tampak diam di samping panggung, menyaksikan ketegangan Di wajah Ezra.


Setelah bla bla bla.....


"Saya terima Nikahnya Zahwa Aulia Binti Fathir___ dengan mahar sebuah cincin berlian bla bla... di bayar tunai."


"Sah?" tanya penghulu.


"Saaaaaaaaah."


Prok prok prok


Gedung itu pun di isi dengan teriak dan tepukan yang meriah.


"Ci*um Ci*um Ci*um Ci*um Ci*um."


Suara teriakan se isi ruangan itu membahana. Semua orang ingin menyaksikan keromantisan pasangan yang menikah mendadak itu.


Zahwa menunduk sangat malu, bagaimana mungkin dia di ci*um oleh orang yang sebelumnya hanya teman, bahkan dia tidak terlalu mengenalnya karena hanya kenal sambil lewat doang.


Ezra pun memberanikan diri mendekati jidat Zahwa.


"Tunggu!"


Semua mata memandang ke arah datangnya suara.


"Zaira."


Zaira mendekati Ezra.


"Aa Ezra, teganya kau meninggalkanku hanya karena wanita tak bernas*b ini heh!"


"Zaira, apa yang kau lakukan di sini?" Ucap Ezra.


"Hai semuanya, dia meninggalkanku saat aku sedang hamil."


Doooor.


Seisi ruangan heboh, mereka pun bisik-bisik, sementara Bima hanya tersenyum mengejek.


"Tunggu! itu tidak benar, aku tidak pernah melakukan apa pun padanya. Ini fitnah," sela Ezra sambil berdiri.


"Kalian mau bukti? lihat ini!"


Zaira memperlihatkan tespak bergaris 2 merah. Entah punya siapa yang dia bawa sekarang.


Zahwa sekali lagi terdiam, dan berdiri, dia berlari menuju ruangan rias, dan menangis.


Tap tap tap


"Ezra, jangan pergi! kau harus menikahinya juga sekarang!"


Teriak kakaknya Zaira yang datang terlambat. Ezra tak memperdulikannya, dia terus berlari mendatangi Zahwa.

__ADS_1


Hap


"Ayo!"


Tiba tiba Ezra menarik tangan Zahwa dan membawanya berdiri.


"Ha? kemana?" Zahwa jadi bingung dengan tingkah Ezra yang tiba tiba mencengkram tangannya.


Ezra memegangi tangan Zahwa dan menariknya berlari menuju jalan belakang gedung.


Ceklek.


Ternyata ada Rangga yang sedang menelpon seseorang di belakang gedung.


"Kakak?"


Rangga bingung melihat Zahwa yang terlihat di tarik Ezra berlari menuruni tangga.


"Rangga, mana mobilmu? ayo cepet!" titah Ezra.


"Kemana?" Rangga terlihat bingung.


"Cepet, nanti kami babak belur," ucap Ezra menakut nakuti Rangga.


Rangga pun panik dan berlari mengambil mobil dan mendekati Kedua kakaknya.


Bremmmmmm


Rangga tancap gas.


"Kemana?" Rangga bertanya.


"Bandara," jawab Ezra.


"Bandara?"


Kini malah Zahwa yang bingung.


"Iya, kita akan ke London. Kau punya Visa perjalanan?" tanya Ezra pada istri barunya itu.


"Ada. Tapi aku tidak membawanya."


"Foto di HP?" tanya Ezra.


"Ada."


"Kita akan mengurusnya."


Ezra pun menatap jalan lurus ke depan. Tak ada beban apa pun, yang ingin dia lakukan sekarang, adalah membawa Zahwa jauh dar kota ini, membalut luka yang aru tercipta. Ezra masih menggenggam tangan Zahwa, sambil kadang meremas remasnya tanpa sadar. Zahwa hanya terdiam tak mampu bergerak.


INI HANYA HALU YA, JADI APA PUN BISAπŸ˜„πŸ˜„πŸ˜Š


BERSAMBUNG....

__ADS_1


__ADS_2