Mendadak Jodoh

Mendadak Jodoh
Mengirim Detektif


__ADS_3

"Dasar," gumam Rangga sambil mengelus pipinya, Rangga pun tersenyum dan berjalan ke muka cermin, menatap wajahnya yang terlihat terus tersenyum.


"Benarkah aku sangat mencintai wanita yang lebih tua dariku itu?" gumamnya.


"Heh... Kok bisa?"


"Sayang...." Terdengar jelas panggilan sang Mama di telinganya.


"Mama? Mama?" Rangga pun berputar dan memindai sekeliling, namun Dia tidak menemukan apa apa.


"Mama, restui kami yang menikah saat terakhirmu Ma," gumamnya.


Rangga pun berjalan meninggalkan kamarnya menyusul Diba keluar menemui para tamu, malam ini 7 harian Alm.Mamanya.


"Rangga, tuh temani tamu klien kerja kita!" titah Zahwa.


"Iya Kak,"


Arsy yang slalu di gendong Zahwa tampak anteng dan banyak tidur dari pada bangunnya. Undangan yang datang dari penjuru kota pun memenuhi tenda yang ada di halaman, mereka sengaja datang karena waktu pemakaman tidak sempat hadir.


"Zahwa, aku mau bicara sebentar, tapi mungkin kurang mengenakkan," ucap sahabat Zahwa.


"Ada apa Clara? Mari ke sana," Zahwa pun berjalan menuju tempat agak sepi.


"Minggu kemaren aku berada di pinggiran kota, aku melihat Huda sedang makan malam dengan seorang wanita, ku pikir Huda 'kan menikah dengan Yola Adik angkat mu itu 'kan?" ucapnya.


"Benarkah? Apakah kau punya foto mereka?" tanya Zahwa tampak kaget.


"Ini...," ucapnya seraya mengambil Hp dari sakunya.


"...." Zahwa sangat kaget saat melihat Huda kembali menemui Rina. Dia pun menghela nafas dalam.


"Clara, tolong rahasiakan ini dari siapa pun, aku akan mengurus ini, aku mohon ya!" pintanya.


"Baiklah, jadi benar Dia selingkuh?" tanya Clara.


"Hmmm," Zahwa mengangguk.


Acara 7 harian Shaina malam ini begitu khusuk, Zahwa tampak sesekali menghapus air matanya yang mengalir begitu saja.


"Sayang, ayo makan!"


Acara selesai, Ezra memberikan sepiring nasi buat Zahwa, namun Zahwa menggeleng.


"Sayang, kau harus makan, kau sudah janji untuk menjaga kesehatanmu untuk aku dan Arsy 'kan?" ucap Ezra.


"Baik Bang," Dengan sangat terpaksa Zahwa pun mencoba menelan tiap nasi yang masuk ke mulutnya.


Satu persatu tamu pun meninggalkan kediaman Zahwa.


Tap tap tap

__ADS_1


Terlihat Huda berjalan ke atas menuju kamarnya, karena sekarang Huda dan Yola kembali ke kamar atas. Zahwa mengikuti Huda, mungkin ingin membicarakan masalah yang di lihat temannya kemaren.


Tok tok tok


Ceklek


Pintu terbuka, Zahwa pun masuk dan menutup sedikit pintu, namun masih bisa terlihat dari luar.


"Dik, aku ingin bicara," Zahwa pun dudik di kursi uang ada di kamar itu.


"Ada apa? Kayaknya serius sekali?" ucap Huda.


"Dik, sekarang cuma kita bertiga, dan aku ingin kita saling jujur tanpa menyakiti satu sama lainnya,"


"Iya Kak," jawabnya.


"Aku ingin kau jujur jawab Kakak, apakah kau kembali bersama Rina?"


Deg


Tiba tiba Huda gugup dan bingung harus menjawab apa.


"Aku tidak ingin Yola kembali kau sakiti, aku adalah orang yang sangat serba salah di antara kalian, aku hanya ingin keluarga kita utuh," ucap Zahwa lagi.


"Kak___ maaf, tapi kali ini lain Kak," ucap Huda.


"Apanya yang lain? Kau tinggalkan wanita itu! aku tidak bisa lagi toleransi untuk yang ke dua kalinya," ucap Zahwa seraya berdiri menuju pintu.


Door


Seketika langkah Zahwa terhenti dan berpaling menatap Huda. Sementara di balik pintu di depan kamar Yola syok dan perlahan berjalan menuruni anak tangga dengan hati yang sangat sakit. Dia menangis dan berjalan menuju dapur.


"Yola? Ada apa?" tanya Diba yang sedang membuatkan susu buat Rangga, apakah susu stamina untuk menambah kekuatan tubuh Rangga ahai, mereka 'kan penganten baru.


"Tidak apa, aku hanya... merasa sangat sedih, seminggu sudah, Mama... meninggalkan kita," ucapnya pelan dan terbata.


"Sabarlah Yola, ini pasti bisa kita lalui, aku ke kamar dulu," ucap Diba.


Sepeninggal Diba, yola kembali menangis, sampai badannya pun bergetar.


***


"Sayang, hari ini aku akan terlambat pulang, karena harus membongkar barang sore nanti," ucap Huda.


"Baiklah Mas, mungkin aku akan makan malam duluan ya," izin Yola, biasanya Yola akan makan menunggu Huda, karena seperti itu juga Shaina biasanya menunggu sang suami.


"Kok kamu tampak cemberut gitu sih? Ada masalah apa?" tanya Huda heran.


"Nggak ada kok, cuma masih ingat Mama," ucapnya.


"Masa? Yang anaknya itu aku, kamu mantunya, masa segitunya? Aku aja nggak kok," ucap Huda. Membuat Hati Yola terasa sakit.

__ADS_1


"Ayo aku antar ke teras, aku mau nyuci baju," ucap Yola mengalihkan perhatian.


"Baiklah, jaga Arsy dan Zahwa ya! Kasian Dia," ucap Huda lagi.


"Kau jahat Mas, harusnya kau perhatikan aku, bukan wanita lain," lirihnya dalam hati.


Huda sudah pergi meninggalkan rumah, Yola kembali ke kamar dan mengambil beberapa baju kotor, sebelum membuat ke cucian kotor, seperti biasa Dia akan memeriksa saku demi saku.


"Apa ini?" dia merogoh kantong seperti ada kertas atau uang.


"Struk belanja? 5juta? Pakaian?" Yola membaca satu persatu tulisan yang tertera di kertas itu, kemudian dia meletakkan kembali struk itu di dalam kantong Huda.


"Mungkin aku lebih baik pura pura tidak tau," ucapnya.


Air matanya lolos begitu saja jatuh di pipinya.


"Yola! Kamu sudah sarapan?" tanya Zahwa.


"Belum Kak, nanti saja, ini lagi rapi in baju kotor yang mau di cuci," sahutnya.


"Jangan lupa makan ya! Nanti kamu sakit," ucap Zahwa lagi.


"Iya Kak,"


Zahwa pun pergi meninggalkan kamar Yola.


***


"Anak siapa sebenarnya Lucky ini? Bagaimana cara akau mencari tau?" gumam Bram saat menggendong Arsya di balkon siang itu.


"Hello, aku ingin kau mencari info tentang seseorang yang ada di indonesia, tolong kau cari info, berita orang yang kehilangan anak sebulan terakhir ini?" ucap Bram pada seseorang di seberang telepon.


"Baik Bos, laksanakan," jawabnya.


"Tapi ingat, hanya kau yang tau, tidak ada orang lain yang boleh tau, termasuk istri dan anakmu, oke!?" ucapnya tegas.


"Baik Bos,"


Telepon pun di putus Bram.


"Zaira, siapa sebenarnya kau ini? apakah ceritamu benar? Aku tidak boleh,gegabah dalam hal ini," ucap Bram lagi. Dia pun memutuskan untuk turun ke bawah dan kembali ke Apartemen.


"Zaira, ingat! Jangan sampai Bram tau siapa ayah dari bayi itu, aku takut dia akan berkhianat, sekarang saja aku melihat gelagat aneh dari dirinya, trus, kau kemaren ikut ke kantornya 'kan? trus, kenapa kau tidak di izinkan masuk?" ucap mamanya Zaira.


"Iya Ma, aku tidak akan menceritakannya hal itu, karena aku harus membalaskan dendam ku pada lelaki yang telah mencampakkan ku itu," ucapnya penuh emosi.


Bram yang dari tadi sudah berdiri di depan pintu pun mengurungkan niatnya untuk masuk, dia berdiri dan menguping pembicaraan Zaira dan Mamanya.


"Uweeeesk... uweeeeek...." Namun tiba tiba Lucky menangis, hingga Zaira dan mamanya kaget. Mereka menatap pintu bersamaan.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2