Mendadak Jodoh

Mendadak Jodoh
Titik Terang Arsya.


__ADS_3

Huda dan Rina sudah berada di depan rumah sederhana yang sepertinya baru selesai di bangun. Terlihat halamannya pun belum ada bunga atau rumput yang tumbuh. Huda dan Rina pun turun dari mobil dan mengangkat koper Rina.


"Ha ha ha, akhirnya, bisa juga pindah dari rumah terasa neraka itu," ucap Rina sambil tertawa.


"Tapi apakah kita bisa selamanya mengelabui mereka?" ucap Huda ragu.


"Alaaaah, itu urusan nanti Mas, sekarang hadapi aja dulu, ayo! Kita asoy-asoy dulu di rumah baru ini," ucapnya.


Mereka pun masuk ke dalam dan langsung mengunci pintu, membawa koper Rina masuk ke kamar. Rina menghempaskan diri di atas ranjang dengan tangan dan kaki ke samping.


Bruk.


Huda pun langsung tengkurep do atas tubuh Rina. Dan menciumi leher wanita itu buas.


"Sekarang tidak ada lagi yang perlu kita tahan saat berc***, teriak aja sepuasnya saat kau ke enakan heh!" ucap Huda lagi.


"Iya Mas, ayo pemanasan dulu," ajak Rina.


🥀🥀🥀


Huda dan Vena tambah basah oleh keringat. Siang-siang begini udah olahraga. Mana Hari ini sangat panas membahana.


"Hari ini aku ke kantor sebentar, aku takut Yola sedang menelepon ke kantor, nanti aku cari alasan untuk kembali ke sini ya, emch," ucapnya sambil mendaratkan kecupan di pipi Rina


"Baik sayang, nanti kamu telepon ya, kalau udah mau ke sini, mungkin saja aku lagi cari makan atau apalah nggak bawa HP," ucap Rina.


"Oke, aku mau mandi dulu," ucap Huda.


"Iya."


Huda pun melangkah pergi menuju kamar mandi. Rina mengambil HP nya dan mulai menchat seseorang dengan tersenyum-senyum kecil, kadang cekikikan dan menutup mulutnya.


Ceklek


Huda sudH selesai mandi.


"Sayang, kok ketawa-ketawa gitu sih, sedang chat sama siapa?" tanya Huda.


"Oh, ini anu, sama teman waktu kerja duku," ucapnya tampak gugup.


"Ooh, aku pergi kerja dulu ya," ucap Huda sambil berjalan ke teras.


"Hemmm," sahut Rina tak bergeming dari tempat tidur.


Huda pun tak menghiraukan itu. Dia terus berjalan meninggalkan rumah mungil itu.


***


Hari semakin gelap, sudah jam 6 sore namun Huda tak jua datang dari Toko.


"Yola, ada apa? Kok kamu gelisah sekali?" tanya Zahwa yang lewat di ruang tamu menuju dapur.

__ADS_1


"Mas Huda belum datang Kak, di telepon juga nggak di angkat," jawabnya.


"Mungkin masih di jalan, atau mengantat Rina ke kampung ya?" ucap Zahwa lagi.


"Nggak kok, kata karyawan tadi,Dia ada di gudang saat aku telepon tadi jam 3 siang." jaaab Yola.


"Ooh mungkin banyak barang datang, kamu tenang dulu, lagian Rina udah pulang kampung, untuk sementara kamu bisa tenang 'kan?" ucap Zahwa sambil pergi menuju dapur.


"Iya Kak." Yola kembali ke kamarnya.


"Sayang, ada lauk apa hari ini?"


Tiba-tiba Ezra sudah berada di belakang Zahwa dan memeluk pinggang Zahwa erat, sambil menempelkan kepalanya di pundak Zahwa.


Triiiing


Telepon Ezra berdering. Ezra pin melepaskan pelukannya.


"Ih, siapa sih, mengganggu saja."


"Helo, siapa?" Ezra.


"Aku Detektif yang Tuan kirim di Amerika, setelah kami telusuri dari tempat-tempat Tuan jelajahi saat itu, ternyata sepertinya penculik ini sudah lama mengintai Tuan, dan... Yang parahnya lagi...,"


"Ada apa? Cepat katakan!" desak Ezra yang tak sabar.


"Sepertinya pembantu Tuan bersekongkol dengan pencuri itu," ucap D(Detektif)


"Dari CCTV, mereka bertemu sebelumnya, dan sebelum kejadian itu juga, pembantu Tuan membuka pintu belakang Gazebo dan lalu menutupnya tanpa menguncinya tak lama setelah itu, dua wanita masuk dan membawa kabir bayi Tuan," terangnya.


"Kurang ajar? Apakah ada foto wajah wanita pencuri itu yang jelas?-l" ucap Ezra lagi.


"Ada Tuan, sebentar, aku akan mengirimkannya," ucap D.


Ezra pun menutup telepon.


"Ada apa Bang? kenapa seperti emosi begitu? Siapa yang menelepon?" tanya Zahwa.


"Ada kabar dari kasus penculikan Arsya, katanya salah satu pembantu kita terlibat dan bersekongkol dengan penculik, tapi aku menunggu mereka mengirim foto dulu. Sebenarnya, pembantu yang mana yang telah bersekongkol dengan penjahat itu, aku tidak akan memaafkan mereka yang telah bersekongkol," ucapnya.


"Alhamdulillah Ya Allah, mudahan ini awal yang baik, Arsya ku, kamu di mana Nak?" Zahwa pun kembali meneteskan air matanya.


"Sayang, kita pasti bisa menemukan Arsya, percayalah, kita hanya perlu berdo'a yang banyak dan berpasrah pada yang maha kuasa," ucap Ezra.


"Iya Bang,"


Klok


Pesan masuk dari D.


"Sasa? Benarkah ini Sasa? Lihatlah Hwa!"

__ADS_1


Ezra pun menunjukkan foto pada Zahwa.


"Ya Allah, Sasa, tapi... Di mana Dia sekarang?" tanya Zahwa bingung."


"Kita pasti akan menemukannya, tak sulit bagiku mencari orang seperti Dia, ayo!"


Ezra mengajak Zahwa ke kamar dan megambil Laptopnya, mengirim foto itu ke Sosmednya.


"Bismillah, kita pasti akan mudah mencari wanita ini."


***


"Eh kamu udah tau? Pengusaha kaya bernama Ezra mahendra Adinata sedang mencari Sasa, Dia akan memberikan imbalan bagi siapa saja yang menemukan wanita itu, apakah yang di maksud, Sasa tetangga kita itu?" Ngerumpi emak emak rempong.


"Benarkah? Apa kamu sudah menelepon no telepon itu?" tanya ibu yang lain.


"Sudah, namun sibuk terus apakah sudah ada orang lain yang menelepon ya?" ucapnya lagi.


"Coba aja terus," sahut yang lain.


Sementara Ezra dan Zahwa tampak menelepon beberapa rekan bisnisnya, Dia meminta bantuan untuk masang foto wanita itu di Medsos mereka.


"Bang, tunggu! Sepertinya aku mengingat sesuatu," ucap Zahwa sambil menekan kepalanya dengan satu jari. Seperti sedang berpikir dan mengingat sesuatu.


"Ada apa?" Ezra pun ikut heran dengan tingkat laku sang istri seperti orang sakit kepala saja.


"Oya benar, ayo! Kita harus memastikan sesuatu," ajak Zahwa tiba-tiba.


Dia pun menarik tangan Ezra mengambil kunci dan menggendong Arsy.


"Ada apa sih Hwa, aduh aduh," ucap Ezra saat kakinya tersandung pintu karena di tarik Zahwa.


"Kita ke tempat kemaren, saat kita beli rujak cingur, ayo!" ajak Zahwa.


"Ada di sana? Aduh, pelan-pelan sayang," ucap Zahwa.


Mereka pun masuk mobil dan meluncur menuju tempat yang di maksud Zahwa. Setelah perjalanan satu jam mereka pun sampai di muka penjual Rujak.


"Pak, maaf, apakah Pernah melihat wanita ini?" tanya Zahwa pada penjual rujak.


"Saya cuma mangkal Non, bukan orang sini, coba tanya sama ibu-ibu yang duduk di sana!" ucap penjual rujak.


"Oh terima kasih," Zahwa pun berlari menuju emak-emak yang sedang duduk di atas semen pinggir jalan, kayak di atas gorong-gorong gitu.


"Maaf bu, apa kalian pernah melihat orang ini?" tanya Zahwa.


Ibu itu pun menatap Zahwa, sinis. Karena Zahwa hanya menggunakan daster dan sandal jepit, juga kerudung seadanya.


"Kamu juga mau dapat uang hadiah itu ya!" ucap ibu itu ketus.


BERSAMBUNG...

__ADS_1


__ADS_2