
Bram sudah dibawa ke rumahnya kembali, begitu juga mamanya Zaira. Kini Bram terlihat mulai membaik, walaupun dia sekarang menjadi lupa ingatan, mungkin karena syarafnya sudah terganggu, dan kemudian dia juga mengalami cedera di kepalanya saat jatuh di kamar mandi.
Bram tidak lagi duduk di kursi roda, dia sudah bisa berjalan ke sana kemari dan menemani Arsya bermain. Bram tampak sangat bahagia membuat Zaira bingung antara harus menyerahkan Arsya kepada orang tuanya, atau membiarkan Arsya menjadi anak angkat mereka.
"Hello Arsya sayang... apa kabar?" tanya Bram
"Pa...Pa," ucap Arsya.
Pagi ini dia tampak senang, menggendong Arsya yang sedang merangkak,
"Sayaaang, hemm, wangi banget," ucap Bram sambil mencium Arsya dalam.
"Pa... pa," ucap Arsya lagi memanggil Bram .
-Lala? Kau memanggilju Papa? Hemmmh, sayangku,." Bram pun tersenyum.
"Mas Bram, apa mau makan sekarang?" tanya Zaira.
"Iya... aku lapar nih," ucapnya.
Bram pun ke dapur dan makan bersama dengan Arsya. Bram sangat asik menyuapi Arsya makan.
"Sayang... hari ini papa kerja ya? Kamu jangan nakal sama Mama," ucap Bram pada Arsya.
Arsya pun terlihat menatap Bram dan tersenyum manis. Smentara Zaira menyuapi mamanya makan di kamar.
"Bagaimana ini Ma? aku menjadi bingung, Apakah aku harus menyerahkan Arsya pada Zahwa?"
"Ti__da...," Sahut sang Mama.
"Maksud mama, aku tidak perlu menyerahkan Arsya pada Zahwa? tapi mungkin ujian selama ini karena kita telah menyakiti mereka ma? ucap Zaira.
Mama Zaira tetap menggeleng tanda tidak setuju. Sepertinya Dia tidak sadar juga dengan balasan yang sekarang mereka alami, keras kepala emang nih emak.
***
Zahwa kini mulai tenang. Dia juga sudah pasrah dengan kehilangan anaknya Arsya. Hari-harinya selalu menemani sang suami, Ezra, dan anaknya Arsy, yang sudah mulai bisa berjalan selangkah dua langkah. Zahwa sudah tidak mengungkit masalah Arsya lagi, namun Dia sudah pasrah dengan keadaan.
"Abang hari ini kita ke tempat Umi yuk!" ajak Zahwa.
"Boleh kok, jam berapa?" jawab Ezra.
"Jam 10.00 atau jam 11.00 lah, setelah kita selesai beres-beres," ucap Zahwa.
"Baiklah, aku mau mandi dulu, terus sarapan," ucapnya.
"Ezra pun berjalan ke kamar mandi, dibantu tongkatnya, karena Ezra masih belum bisa menggunakan kaki robotnya, karena saat itu syarafnya sedang tidak baik-baik saja.
Zahwa pun merapikan semua barang bawaannya untuk dibawa ke rumah mertuanya, dia ingin makan siang bersama dan akan memasak di rumah sang Mertua.
"Bi... Kita tidak usah masak siang ya! kami akan makan siang di tempat Ummi saja," ucap Zahwa.
__ADS_1
"Baik nyonya muda, terus Nona Rina bagaimana nyonya," tanya Bibi.
"Biasanya 'kan Rina sering beli makan online, kalau begitu tanyain saja dia Bi, mau makan apa dia nanti siang," ucap Zahwa.
"Baik Nyonya muda," sahut Bibi.
Sementara di kamar Huda.
"Sayang... hari ini kamu ikut ke toko ya," ajak Huda.
"Ngapain Mas? Aku 'kan capek, pengennya guling-guling mulu," ucap Rina.
"Kok guling-guling sih? Kayaknya aku ngidam deh, ngidam pengen deket terus sama kamu," goda Huda.
"Masa sih Mas? masa ada ngidam gituan? Ogah ah, aku mau di rumah saja hari ini," sahut Rina lagi.
Kalau gitu aku ke kantor sebentar, nanti aku pulang makan siang bersama ya?" kata Huda lagi.
"Terserah Mas lah," sahut Rina cuek.
"Oke, aku mau mandi dulu."
Huda pun mengambil handuk dan berlalu meninggalkan Rina.
"Ih apaan sih? ke toko gitu doang mau ditemenin, Coba kalau perusahaan yang besar, kayak lunya Rangga atau Ezra, yang banyak karyawannya, yang karyawannya beratus-ratus, aku pasti mau ikut, ini toko kecil doang, karyawannya cuman 15 sampai 20 orang, ngapain? Nggak ada yang bisa aku banggakan," ejek Rina di belakang Huda.
Rina sangat sombong, tidak bersyukur dengan yang sekarang dia miliki.
***
Diba mengelus-elus perutnya yang masih rata.
"Hello sayang... lagi ngapain?" rucusnya sendiri.
"Nyonya muda, Apa Nyonya mau makan sekarang?" tanya Bibi yang baru datang dari dapur.
"Tidak Bi, aku nungguin Gaga dulu, dia 'kan masih mandi di atas," sahut Diba.
"Baik Nyonya."
"Oh ya Bi, nanti kalau Gaga turun tolong panggilin aku ya Bi" ucap Diba lagi.
"Iya Nyonya," sahut Bibi.
Bibi pun berlalu ke dalam, Diba masih asik menyiram bunga-bunga yang ada di halaman. Tiba-tiba ada seseorang yang memeluknya dari belakang.
"Gaga, Ngapain?kagetin aja," ucap Diba.
Tak ada sahutan dari belakang Diba. Hanya pelukan itu semakin erat.
"Gaga mau makan?"ucap tanya Diba lagi.
__ADS_1
Namun orang yang ada di belakang itu tetap diam.
"Gaga lepasin dulu, kan hari ini Gaga mau berangkat kerja, Ayo kita makan bareng!" ajak Diba.
Diba pun berjalan dengan masih di peluk seseorang. Terus berjalan sambil membawa seseorang di belakangnya yang masih memeluk pinggangnya.
Diba tiba berjalan di depan pintu, namun saat di depan pintu, matanya terbelalak ketika melihat suaminya berdiri di depan pintu dapur.
"Gaga? Diba pun segera menoleh ke belakang, alangkah kagetnya saat dia menyadari, bahwa yang ada di belakangnya itu bukanlah suaminya, melainkan orgil yang sedang menyusup ke dalam halaman luasnya.
"Aaaaaaa.... " teriak histeris Diba.
Diba pun mencoba melepaskan pelukan itu, namun pelukan itu begitu erat, dengan langkah seribu Rangga pun mendekati istrinya, dan melerai pelukan orgil tersebut.
Ternyata orgil tersebut seorang perempuan yang sangat lusuh dan kotor.
"Kamu kok nggak tahu sih kalau itu bukan aku? itu Coba lihat tangannya, kotor kok dibilang aku?" protes Rangga.
"Mana aku tahu, kalau ada organ yang masuk sini, lagian kan pagar juga ditutup, dari mana dia masuk?" tanya Diba heran.
Ternyata orgil itu masuk lewat pintu samping yang sedikit terbuka,
"Kasihan ya Ga, Coba kasih makan Bi! bawakan makanan ke sini Bi!" titah Diba.
Bibi pun membawakan sepiring nasi dan air putih, kemudian Diba menyuruh Rangga agar mencuci tangannya.
"Gaga suruh ibunya cuci tangan dulu, biar dia makan," ucap Diba.
"Aku takut Sayang... jangan aku," ucap Rangga.
"Masa cowok takut sih? ayo cepet! Kasihan 'kan kalau makan pakai tangan kotor," ucap Diba lagi.
"Iya... Ayo sini cuci tangan dulu!" ucap Rangga.
Namun Ibu itu tampak mantap Rangga tajam, kemudian dia menunjuk muka Rangga dengan telunjuknya dan membuka matanya lebar-lebar, seakan wanita itu marah kepada Rangga.
"Tuh kan Sayang dia marah padaku," Ucap Rangga sambil menjauh dari situ.
"Kenapa dia marah? Apakah dia trauma dengan laki-laki? sana Gaha, masuk ke dalam. Aku takut nanti kamu dimakannya lagi, terus aku nggak kebagian deh," ejek Diba sambil tersenyum.
Rangga pun masuk ke dalam namun dia masih mengintip di balik kaca karena juga takut akan terjadi sesuatu pada istrinya, Diba pun membawa orang itu mendekati kran air, dan mencuci tangannya ,dan wanita itu pun mau.
"Ibu... Apakah ibu mau mandi nanti? biar Aku mandikan," ucap Diba. Wanita itu hanya diam kemudian Diba memberikan nasi pada wanita itu.
Wanita itu tampak makan dengan lahap karena mungkin belum makan berhari hari, nggak terasa air mata Diba menetes.
"Ibu, di mana kau sekarang?" lirih hatinya.
Ternyata Diba tidak mempunyai ibu, lalu, siapa orang tua yang datang saat Diba nikah kemaren?
Bersambung...
__ADS_1