
Ezra dan Zahwa tampak sudah berada di kantornya untuk bertemu klien pagi ini. Arsy juga tampak ikut bersama Aunty kepercayaan.
"Sayang, nanti kamu temenin aku ya menghadapi klien kita," ucap Ezra pada Zahwa.
"Aku nggak bisa Bang, emang kenapa kalau Abang aja sendirian," ucap Zahwa.
"Biar aku kenalin sama Klien kita, lagian aku ada kejutan lho, sore nanti buat kamu," ucapnya lagi.
"Tapi nggak suruh tanda tangan ini itu 'kan? soalnya aku belum pernah ketemu klien 'kan, lagian aku juga nggak pernah kerja," ucapnya.
"Kamu harus belajar mandiri Sayangku... Nanti kalau tiba-tiba aku meninggal gimana ayo," ucap Ezra.
"Jangan bilang gitu dong Bang, nakutin sja," sahut Zahwa.
"Kita 'kan nggak tau umur kita sampai mana?" ucap Ezra lagi.
"Ah Abang, jagan gitu ah, aku masih truma lho!" ucapnya lagi sambil menyandarkan kepalanya di pundak Ezra.
"Iya, tapi kamu juga harus belajar ya! Ummi sama mama 'kan sebelumnya juga sendirian, berjuang sendiri, dan akhirnya bisa." ucap Ezra.
"Iya Bang," sahut Zahwa.
"Assalamualaikum," ucap seseorang.
"Wa alaikumsalam, masuk Tuan," ucap Ezra.
Ternyata Klien Ezra sudah datang.
"Saya Yusuf, yang ingin menanam saham dengan Tuan dan Nyonya," ucapnya.
"Oh, iya, silahkan duduk Tuan," ucap Ezra lagi sopan.
Mereka pun duduk di sofa yang ada di ruangan Ezra. Yusuf alias Bram yang tampak santai dan berwibawa membuat Ezra yakin, kalau kerjasama ini akan berhasil dengan baik.
"Jadi berapa sahan yang akan Anda tanamkan di perusahaan kami Tuan?" tanya Ezra.
"Aku akan menanamkan separo dari perusahaan Anda Tuan Ezra," ucapnya.
"Oooh, begitu kah? Terima kasih banyak sebelumnya..."
"Hua... Hua...," Arsya menangis dan terpaksa di bawa masuk ke ruangan kerja Ezra untuk menemui Zahwa.
"Sayaaang... Sini!"
Zahwa pun menggendongnya sambil di dudukkan dalam dekapannya.
"Dia? Anak Anda Tuan?" tanya Bram/Yusuf.
"Iya anak pertama kami," jawab Ezra.
"Sangat cantik seperti Ibunya," lirik Yusuf pada Zahwa, membuat Zahwa merasa tidak enak dan menundukkan pandangannya sambil menatap Arsy yang ada di pelukannya.
"Sayang, kamu boleh keluar basa Arys, mungkin dia bosen mau lihat-lihat kantor Papanya," titah Ezra kemudian.
Padahal pasti Ezra nggak rela ada orang lain yang memuji istrinya. Benar Ezra pasti cemburu ada orang lain yang memuji istrinya, terlihat dari wajahnya yang langsung berubah. Ezra mah memang pencemburu. Zahwa pun berdiri sambil menggendong Arsy.
__ADS_1
"Iya Bang," sahut Zahwa. Zahwa juga mengerti isi hati sang suami yang lagi cemburu.
"Berarti yang kemaren di mall saat makan itu Anda Tuan Ezra?" tanya Yusuf lagi.
"Di mall? Jadi apakah itu Anda? Orang yang saat itu ngeliatin Arsy 'kan?" tanya Ezra.
"Iya benar, itu aku, oh iya, tapi ngomong-ngomong, aku kok kaya pernah lihat anak anda ini ya sebelumnya," ucap Yusuf/Bram lagi.
"Benarkah? Diaman?" tanya Ezra.
"Hmmm... Entahlah, rasa kayak nggak asing gitu, mungkin mirip dengan seseorang," ucap Yusuf lagi.
"Oooh, mungkin saja," sahut Ezra.
"Iya ya... Jadi ini sudah bisa di ACC?" tanya Yusuf.
"Iya boleh, ayo kita bikin perjanjian tertulis."
Mereka pun mendiskusikan segala sesuatu yang di anggap perlu. Karena perusahaan Shinwa baru saja di dirikan kembali setelah bangkrut. Dan mereka pun sudah sepakat dengan syarat dan ketentuan yang ada di perusahaan tersebut.
"Oke, terima kasih banyak Tuan Ezra, senang bekerja sama dengan Anda," ucap Yusuf.
"Sama-sama Tuan," Balas Ezra.
Ezra pun mengantarkan Yusuf sampai ke depan ruangan kerjanya. Zahwa yang berdiri tidak jauh dari ruang kerja Ezra pun kembali ingin memasuki ruangan, ketika berpapasan dengan Yusuf. Yusuf kembali menatap wajah Arsy yang sangat menggemaskan.
"Benar-benar mirip dengan Lucky," lirihnya.
Bruk
"Tuan, ada apa?" Asisten yang menemani Yusuf tadi.
"Oh tidak apa-apa," ucap Yusuf.
Yusuf pun mengelus pahanya yang tertabrak meja, pasti sangat sakit.
Zahwa sudah masuk ke dalam ruangan Ezra.
"Bagaimana Bang?" tanyanya.
"Beres, sekarang, ayo kita pergi, aku mau nunjukin sesuatu buat kamu," ajak Ezra.
"Ke mana Bang?" tanya Zahwa penasaran.
"Ada deeh," ucapnya.
Ezra pun menggandeng pundak Zahwa dan mendorong kereta Arsy meninggalkan tempat tersebut.
***
Yola tampak duduk di bawah halaman ranjangnya dengan memeluk ke dua lututnya. Sesekali Dia menyeka air matanya yang berderai. Kini hatinya benar-benar hancur tak tersisa.
"Apakah aku harus menyerah sampai di sini?" lirihnya pelan.
"Tapi aku pasti akan menambah beban Kak Zahwa lagi, Dia masih belum sembuh dari luka kehilangan anaknya. Dan aku akan menambah beban dengan mengajukan perceraian dengan Mas Huda," gumamnya lagi.
__ADS_1
"Tapi aku juga nggak tahan begini terus," ucapnya.
"Baiklah, akan ku pikirkan cara lain, mungkin aku perlu memata-matai Huda, dan menangkap basah mereka berdua," gumamnya lagi.
Yola pun berdiri dan menuju kamar mandi untuk membersihkan diri, berdandan cantik dengan polisan mike up tipis untuk menyambut kedatangan Huda. Yola pun berbaring dan ketiduran.
"Hello Sayang, besok jam 9 kamu siap-siap ya , biar kita jalan-jalan ke suatu tempat, besok aku nggak ngantor khusus temenin kamu."
Remang-remang suara seperti orang berbisik itu begitu jelas di telinganya Yola. Yola pun membuka mata, karena saat ini Yola menghadap dinding kamar, jadi Huda tidak menyadarinya.
"Baiklah, dah Sayang... Emch"
Huda menutup teleponnya. Terdengar Huda memasuki kamar mandi dan membersihkan diri. Yola pun berbalik dan menatap dinding untuk memeriksa jam.
"Jam 5, ya Allah, aku belum Ashar," ucapnya.
Dia pun bergegas keluar dan mengambil wudhu. Setelah Wudhu, Dia lun menunaikan sholat ashar. Do'a yang panjang di akhir sujudnya, dengan di temani tetesan air mata, Do'a yang begitu khusus dari Hamba yang sedang kecewa dengan manusia.
Ceklek
Huda keluar dari kamar mandi. Ketika Yola selesai sholat. Dan merapikan sajadah dan mukenanya.
"Mas mau makan?" tanya Yola.
"Iya, aku Sholat duku ya," sahutnya.
"Besok boleh nggak aku ikut ke toko?" tanya Yola.
"Ngapain, mending di rumah enak istirahat," sahutnya.
"Aku bosen di rumah Mas, lagian Arsy juga di tempat Neneknya," katanya lagi.
"Nanti aja, jangan besok, besok aku nggak bisa nemeni kamu, aku harus bongkar barang yang baru datang," sahutnya.
"Oooh baiklah."
Dengan nada yang cemberut Yola pun mengalah, walau hatinya sangat sakit karena mengetahui fakta kebohongan suaminya untuk kesekian kali. Akhirnya Yola ke dapur dan menyiapkan makan sore. Setelah semuanya siap Huda lun datang.
"Mas... Rina kapan datang?" basa basi Yola.
"Mungkin Minggu depan," sahutnya.
"Emang kampungnya ada di mana Mas?" tanya Yola.
"Aku juga nggak tau sih, aku belum pernah ke sana," jawabnya.
"Jauh apa deket ya?" tanya Yola lagi.
"Nggak tau...," sahut Huda sedikit bernada kesel.
"Oooh, kita susul yuk...!" ajak Yola.
"Uhuk... Uhuk susul?" Huda kaget.
Bersambung...
__ADS_1