
Bram terus mencari tahu tentang Zaira istrinya yang sedang asyik makan di hadapannya, Zaira pun tidak memperdulikan suaminya sedang apa, Dia hanya mengira, kalau suaminya hanya main game atau apalah, tak berapa lama hidangan pun datang.
"Mas, ayo makan!" ajak Zaira.
"Oh, sudah datang," Bram pun mematikan layar Hpnya dan menyantap hidangannya.
"Enak sekali makanan ini Mas, ini makanan kesukaanku, duku aku sering makan seafood ini lho! Saat masih kuliah di kantin kamlus," cerita Zaira.
"Sama pacarmu?"
"Iya eh, sama teman temanlah Mas," Zaira keceplosan.
"Ya nggak papalah kamu punya pacar, itu kan masa lalu mu, aku juga punya masa lalu kok," ucap Bram.
"Oh iya, kita 'kan udah menikah, kita harus saling jujur, sebenarnya, anak itu anak siapa?" tanya Bram menyelidiki.
"Hmmm, baiklah, tapi kau juga harus ceritakan, kenapa kau mau menikahi ku," ucap Zaira.
"Oke, deal," ucap Bram.
"Dia anak dari mantanku, kami hampir menikah, namun tiba tiba dia mendadak memutuskan ku, dan menikahi wanita lain, sungguh hancur hatiku saat itu. Aku bahkan hampir gila dan nekat, hingga akhirnya aku memutuskan untuk menabrakkan diri ke mobilnya, hingga kami sama sama kecelakaan saat itu," ucap Zaira.
"Trus, bagaimana kamu bisa menculik anaknya?" Bram terus mencari tau.
"Aku mengirim mata mata ke rumahnya, beberapa kali kami ingin menculiknya namun slalu gagal, hingga akhirnya mereka liburan ke Luar Negeri, di sanalah kami bekerja sama dengan pembantunya itu," ucap Zaira tak curiga.
"Oooh, terus, balas dendam yang seperti apa yang kalian rencanakan?" tanyanya lagi.
"Aku akan menikahkan Lucky dengan adiknya kelak, mereka akan kawin sedarah, hemmm, aku sangat puas ketika membayangkan itu," ucapnya sambil tersenyum penuh kemenangan.
"Di nikahkan? Wah kejam kali kau Ra, tapi? itu sangat lama, dan harus 20tahun lagi, trus, bagaimana kalau kamu meninggal sebelum itu?" tanya Bram lagi.
"Aku akan mewanti wanti nya ketika dia berusia remaja, Dia harus membalaskan sakit hati mamanya ini," sahut Zaira lagi penuh emosi.
"Ooo, ya ya, ayo makan, setelah ini kita akan memeriksa rumah baru kita, kita akan tinggal di rumah baru," ajak Bram.
"Benarkah? Oh iya, sudah hampir sebulan kita menikah, namun kamu belum pernah memberitahuku tentang pekerjaanmu, sebenarnya pekerjaanmu apa?" tanya Zaira.
"Pekerjaanku cuma bantu bantu di kantor, beres beres berkas gitu, nggak penting, tapi di sini gajih emang sangat mahal, jadi walau pekerjaan sepele, namun gajih nya besar lho!" ucap Bram lagi.
"Ooh, gitu ya, boleh aku ikut? Kapan kapan."
"Mmm, nanti lah, aku takut kena teguran Bos," ucapnya.
"Cuma di depannya doang kok! Nggak usah masuk nggak papa," ucapnya.
__ADS_1
"Ooh, baiklah, nanti ya, ayo pulang!"
Mereka sudah selesai makan dan pergi meninggalkan restauran itu.
***
Hari begitu mendung, se-mendung hati Zahwa dan juga Rangga, dia terus memeluk Rangga sang Adik, begitu juga Rangga tak sedikitpun meninggalkan Zahwa, Sementara Yola juga menangis sambil memeluk punggung Zahwa. Ezra dan Huda tampak sibuk mengurus pemakaman itu, Sementara Arsy tampak di gendong Mita sang nenek yang menyaksikan dari kejauhan di bawah tenda di pinggir jalan pemakaman. Sementara Diba menemani beberapa rekan bisnis Shaina dan mengucapkan terima kasih.
"Kakak, Kakak harus kuat, ada Arsy yang membutuhkan Kakak, Ada aku dan Kak Ezra yang slalu ada di sisi Kakak, Kakak jarus kuat."
Bruk
Tubuh Zahwa melorot dan terjatuh, untung tidak sampai menyentuh tanah, karena Rangga menahannya. Jenazah lin akan segera di turunkan.
"Rangga, ayo! Kau gendong ibumu untuk yang terakhir kali," ucap Ezra, seraya menggantikan untuk memangku Zahwa.
"Baik Kak, tapi tunggu Kak Zahwa siuman dulu, aku takut Dia akan marah, kalau tidak melihat pelepasan ini," ucap Rangga.
"Oh, iya juga ya..., Sayang... Sayang bangun!" Ezra menepuk halus pipi Zahwa, mengoleskan minyak kayu putih di hidungnya(panas mbooo)π
"Mama... Mama...," ucapnya kemudian. Perlahan Zahwa membuka mata dan duduk.
"Ayo Sayang, Mama bakal di antarkan ke tempat peristirahan terakhir, kamu harus kuat, kami menunggu kau siuman baru mengantarkan Mama," ucap Ezra.
Perlahan tapi pasti Jenazah Shaina di masukkan ke liang lahat, Rangga tampak menyambutnya dari bawah, sesekali menyeka air matanya yang hampir jatuh.
"Mama, aku bersaksi bahwa kau orang baik selama hidupmu, tak pernah menyakiti siapa pun, selalu memaafkan, selalu mengalah, Walau pun kau tersakiti, Mama, selamat jalan,"
Dengarkanlah lagu hijrah cinta, buat menambah haru adegan iniπ
"Mama... Selamat jalan, terima kasih untuk cinta tanpa batas yang kau berikan untuk kami, cintamu tulus tanpa imbalan, Mama, selamat jalan, selamat jalan...," lantunan do'a Zahwa sambil sesekali mengusap pipinya yang di banjiri air mata tanpa suara.
"Kakak, ayo kita ke mobil saja!" ajak Yola, karena melihat Zahwa semakin lemah.
"Iya, aku antar ya!" ucap Ezra, sambil menggandeng Zahwa menuju Arsy.
Bruk
Namun sekali lagi Zahwa pingsan dan terjatuh. Ezra pun menggendongnya, dengan merasakan sakir di kaki robotnya karena membawa beban terlalu berat. Kaki Ezra kan amputasi karena kecelakaan dulu.
"Sayang, kenapa lagi Zahwa?" tanya Mita saat melihat Ezra menggendongnya.
"Pingsan Ma, tolong Aunty jaga ya! aku mau ke sana lagi.
Hari yang melelahkan, mereka sudah selesai dengan acara pemakaman hari ini. Akhirnya mereka pun pulang.
__ADS_1
"Mama... Lihatlah bunga ini? Bukankah sangat indah?"
"Iya Sayang, apa kau mau?"
"Tidak Ma, ini 'kan punya Orang?"
"Bukan, semua bunga ini milik kita semua,"
"Papa Ma, lihat Papa datang,"
"Iya Sayang, kamu tunggu di sini ya?"
Bayangan Shaina pun menghampiri Fathir dan menyambut tangan Fathir.
"Mama mau ke mana? Tunggu Ma... Janhan tinggalkan Zahwa, Zahwa masih kecil, Zahwa takut Ma...."
"Sayang, kamu harus tetap di situ, nanti ada orang yang akan membawamu lergi, kau tenang saja ya!"
"Iya Sayang, Mama sama Pala hrus pergi, jangan bandel ya!"
Bayangan itu pun menghilang.
"Mama... Papa.. Jangan pergi, jangan pergi...."
"Sayang, ada apa? Bangun Sayang, kita sudah sampai di rumah nih, ayo bangun!" ucap Ezra sambil mengelus kepala Zahwa.
"Bang, Mana Mama Bang, Mana?" ucap Zahwa saat nisa membuka matanya.
"Sayang, sabar, ada aku, Rangga dsn Arsy yang sangat membutuhkanmu Sayang," bujuk Ezra.
"Hiks hiks hiks, Mama, aku belum bisa menjadi seperti Mama, Mama seorang istri yang sangat taat pada suami, yang selalu mengalah dalam kondisi apa pun, aku tidak sebaik Mama, hiks hiks," ucapnya sambil terus menangis.
"Sayang, bagiku, kau wanita sempurna Sayang, kau telah memberiku keturunan, kau harus kuat Sayang," ucap Ezra terus membujuk Zahwa.
"Arsyaaaaa, di mana kau Nak? Bang, temukan Arsya Bang," rengeknya lagi.
Nah lho Zra, salah ngomong 'kan? Tambah Zahwa sedih ada ni si ganteng.
BERSAMBUNG...
Jangan lupa likenya, biar lelah emak hilang.
Jangan lupa mampir di
WANITA SATU MALAM
__ADS_1