
Huda dan Yola tampak grogi karena di dapa Shaina, mana mereka baru mandi basah lagi.
"Iya Ma, oh ya Ma, hari ini aku mau ke kantor polisi mau nanyain sebenarnya penculikan kami kemaren apakah ada dalang di balik penculikan kami itu," ucap Huda.
"Yola ikut?" tanya Shaina.
"Tidak Ma, katanya mau istirahat di rumah aja," sahut Huda.
"Ma, kami mau pindah kamar bawah saja, aku males di atas," ucapnya.
"Kenapa? Di atas 'kan tenang, kalau di bawah nanti kalian pasti terbangun, kalau si kembar menangis tengah malam," ucap Shaina.
"Anu, Ma, aku merasa nggak enak, itu 'kan bekas kamar Saila dan Huda! masa iya kami juga tidur di situ, jangan-jangan nanti dia datang nakutin kami," canda Yola asal.
"Hust, nggak boleh ngomong begitu, dia sudah tenang di sana... aku mau ke kantor dulu, kalau kamu nggak sibuk, nanti sesekali tengok Kakakmu Zahwa ya! Hari ini Ezra ada meeting, nggak bisa libur," titah Shaina.
"Iya Ma," sahut Zahwa.
Tinggal mereka berdua yang lagi asyik makan di dapur. Huda sesekali meraih tangan Yola dan menciuminya mesra. Huda kayaknya bucin banget sama Yola, karena memang Yola sangat cantik mulus, walau masih kalah kalau di bandingin dengan Zahwa.
***
Zaira tampak mondar mandir di Apartemennya, telunjuk tangannya di gerak-gerakkan ke bibirnya, pertanda lagi bingung, stres, dan juga was was.
"Ra, ngapain sih kamu gitu? bikin aku pusing aja lihatnya!" ucap Mamanya sambil momong bayi yang sedang menangis.
"Aku benar-benar bingung deh Ma, kok bisa-bisanya kita gagal lagi, apakah mereka punya malaikat pelindung? Sehingga kita salalu gagal, padahal tinggal satu langkah lagi lho!" ucap Zaira kesal.
"Mana aku tau, apakah kita harus menyerah saja? Keuangan kita juga mulai menipis ini," ucap sang Mama.
"Mana boleh begitu Ma, walau sampai kosong isi ATMku hasil dari you tuber, aku tak perduli, yang penting aku bisa membalas sakit hatiku padanya," ucap Zaira lagi.
"Terserah kau lah, paling kita nggak makan, hidup di jalanan atau di bawah jembatan," ucap mamanya lagi, sambil berdiri dan berjalan keluar kamar.
"Mama mau ke mana?" tanya Zaira sedikit berteriak.
"Ke balkon, ini anak kok nangis mulu, heran aku," ucapnya terdengar sewot.
"Tunggu Ma!"
Zaira berlari mendatangi Mamanya yang sudah berada di luar kamar.
"Ada apa sih?" Mamanya makin terdengar kesal saja oleh ulah anaknya itu.
"Bagaimana kalau anak ini kita titip di panti asuhan saja, kita letakin di depan pagar gitu," ucap Zaira.
__ADS_1
"Ooh... Iya juga ya! Tapi panti mana? yang sepi, biar kita ke sama pagi-pagi," ucap mamanya.
"Kita cari di google, hari ini juga, anak ini sudah harus kita singkirkan, aku cape Ma," ucal Zaira.
"Capek mbahmu... Kau nggak ngapangapain kok capek?" sahut Mamanya.
"Yaaaa, capek dengar tangisnya," ucpl Zaira sambil tersenyum.
"Ayo di cari?"
Zaira dan mamanya kembali ke kamar mereka, dan mencari panti asuhan untuk mengantar bayi itu.
***
Huda sangat rapi dan tampan luar biasa. Dia pun menuruni mobilnya saat sudah sampai di halaman kantor polisi.
"Selamat siang Pa! Saya mau bertemu dengan... " Huda menyebutkan beberapa nama orang yang kemaren menculiknya.
"Baik, mari ke mari, biar saya antar!" ucap salah satu polisi jaga.
Huda pun kini sudah bertatapan dengan 3 orang tersangka penculikan dirinya.
"Aku ingin bekerja sama lagi dengan kalian, apakah kalian di suruh seseorang? Aku akan membebaskan kalian, dan juga akan memberikan imbalan yang banyak, kalau kalian mau menyebutkan dalang penculikan kemaren," tanya Huda tenang dan berwibawa.
"Apa kah kau menjamin kebebasan kami? Kalau kami mengatakan yang sebenarnya," tanya mereka.
"Baiklah, tapi janji ya!" ucap salah seorang dari mereka lagi, seakan meragukan kata-kata Huda.
"Tentu! Katakan cepat!" ucap Huda lagi tak sabar.
"Kami__ disuruh Nona Lala," ucapnya gugup.
"Lala? Lala yang bekerja di toko bangunan ku itu?" tanya Huda kaget.
"Iya Pak! Kami hanya disuruh, tolong bebaskan kami!" ucapnya.
"Baik, aku akan mengurus kalian, tapi dengan syarat! mulai sekarang klian bawahan ku! Dan akan bekerja untukku! Dan jangan bilang apa pun pada Lala! Karena kalian akan sekantor dengannya, bedanya, kalian tidak di bawah suruhannya, tapi suruhan ku langsung, mengerti!" ucap Huda tegas.
"Iya Pa, siap!"
Huda pun mengurus pencabutan berkas penangkapan mereka bertiga di loket pencabutan berkas.
"Huda! Hey, kau 'kan ini?"
Seorang wanita cantik dan menawan, kulitnya yang mulus dan wajahnya sangat rupawan, kecantikannya seperti Zahwa, namun karena rambutnya yang terurai, terlihat kecantikannya itu melebihi Zahwa.
__ADS_1
"Rina! Kau di sini? Ada urusan apa?" tanya Huda kaget saat melihat wanita yang sangat d kenalnya.
"Aku lagi mengurus laporan KDRT suamiku," ucapnya.
"Ha? Jadi... "
"Ya, aku menggugatnya di pengadilan agama, aku udah nggak kuat, memang aku berlimpah harta, namun batinku tersiksa Hud," ucapnya terlihat sedih.
Rina adalah wanita yang berasal dari desa Huda, mereka berteman sejak kecil, Rina dan Huda sangat akrab, namun ketika menginjak SMA Rina menolak cinta Huda, Huda sempat patah hati saat itu. Hingga Kuliah, Huda masih menyukai gadis itu, namun Rina memilih lelaki Tajir yang kaya raya, dan akhirnya menikah.
Kembali ke masa kini.
"Oooh, jadi kalian bakal bercerai?"
Ada nada semangat disitu, apakah Huda masih mencintai wanita ini?
"Iya__ oh iya, boleh aku minta no Wa mu?" ucap wanita itu.
"Oh tentu,"
Huda pun memberikan no Hpnya, urusan Huda sudah selesai, dan dia pun pamit pada Rina.
***
"Tugas kalian hanya menyambut tamu yang datang, ingat! tugasmu langsung aku yang mengwasi, karena kalian peerja di halaman, bukan di dalam Toko," titah Huda pada ketiga lelaki itu.
"Baik Bos,"
Huda masuk ke ruangannya sedangkan pekerja yang tiga orang itu berdiri di depan Toko.
"Kau?... Kalian sedang apa di sini?"
Lala kaget saat melihat ketiga orang suruhannya berdiri di depan Toko tempat dia bekerja.
"Ya kami bekerjalah di sini," sahut salah satu mereka.
"Bekerja? bukankah kalian di penjara? Aku sedang mencari cara agar kalian bisa bebas," ucap Lala, wajahnya terlihat pucat karena takut.
"Telat, kami sudah dapat jaminan bebas, dan malah dapat pekerjaan juga kok," sahut salah satunya lagi.
"Lala! Ngapain kamu di sini?sono kerja!"
Tiba-tiba Huda muncul dan mengusir Lala.
"Iya Bos,"
__ADS_1
Lala pun masuk dan membersihkan debu yang ada di atas-atas kotak keramik, seperti yang dulu di lakukan oleh bawahan Lala, Lala 'kan sekarang di turunkan jabatannya jadi karyawan biasa.
BERSAMBUNG...