Mendadak Jodoh

Mendadak Jodoh
Izin Menikah


__ADS_3

Huda dan Yola tampak duduk di ruang tamu di gerombongi anggota keluarga, Shaina tampak memegangi tangan anak angkatnya itu(Yola).


"Sayang, Mama sangat khawatir, sebenarnya ada apa sih? Kok sampai bisa ke sandera gitu sih?" tanya Shaina.


"Aku juga nggak tau Ma, tiba-tiba kami di cegat dan di mintai tolong, untuk anterin istrinya yang lagi hamil, kata mereka, mobil mereka mogok, nggak taunya kami di bekap," ujarnya terlihat kesal.


"Pasti ada dalang dari semua ini, aku ingin ke kantor polisi, dan menanyai sendiri semua ini, kalau mereka ku bebaskan, dan ku beri uang yang banyak, mereka pasti ngaku, siapa yang menyuruh mereka," sahut Huda.


"Iya juga ya, ayo aku temenin!" ajak Ezra.


"Aku mau makan dulu laper," ucap Huda lagi, dia pun berdiri dan berjalan menuju dapur. Bibi segera menyiapkan makan untuk Tuan muda yang baru datang.


"Yola, ayo kamu makan juga!" ucap Shaina.


Shaina pun menarik tangan Yola membawanya ke dapur.


Shaina membuatkan teh hangat untuk mereka berdua, dan kemudian ikut duduk di kursi dapur. Huda dan Yola sudah selesai makan.


"Ma, adaa yang ingin aku sampaikan ke Mama," ucap Huda.


Sementara Yola tau arah pembicaraan Huda ke mana, dia pun agak tegang dan serba salah.


"Katan saja, tak usah sungkan, aku ini ibu kalian berdua juga kok," ucap Shaina santai, sambil makan cemilan.


"Begini Ma, aku... aku ingin menikahi Yola .... " Huda terdiam dan menatap reaksi mamanya.


Shaina memang sangat kaget, dan menatap Mereka bergantian, Yola merasa sangat gugup dan menunduk dalam.


"Hups... apa ini hanya kau yang mau? Atau kalian sudah membicarakannya?" tanya Shaina.


"Dia ma... " sahut Yola, namun kemudian bingung dan menggantung kalimatnya.


"Dia kenapa? Apakah kau menolaknya?" tanya Shaina sambil menatap wajah Yola.


"Yola, ayo jawab! Jangan hanya diam?" ucap Huda sambil mencolek sikut Yola.


"Ada apa sih? Kok pada bisik bisik gitu sih?" ucap Shaina heran dengan kedua anaknya itu, anak dadakan.


"Anu Ma... Ini... Aku... Dan Yola... Meminta izin untuk menikah.... "


"..." Shaina kaget dan hanya menatap mereka berdua sementara Yola tampak grogi.


"Itu, Huda... yang ingin Ma," ucap Yola cemas.


"Eh apaan sih, 'kan kita sudah sepakat," ujar Huda kesal dengan jawaban Yola.


"Hemmmm, jadi ini kemauan siapa? Huda atau kalian?" tanya Shaina sambil terus menatap mereka.


"Kami Ma," Huda


"Dia Ma," Yola

__ADS_1


Sahut Mereka bersamaan. Huda sangat kesal dengan jawaban Yola, Huda menatap Yola tajam dengan wajah cemberut.


"Jadi gimana ini? kalau cuma salah satu yang mau? Aku nggak bisa izinin," gertak Shaina.


"Yola!" colek Huda lagi.


"Ya udah, Mama mau ke kamar dulu, mau mandi."


Shaina pun berjalan ke luar dapur dan berdiri di samping pintu untuk mengintip kedua anak muda itu, dia ingin tau yang sebenarnya.


"Yola, kok kamu gitu sih? Kita 'kan udah sepakat, kenapa kamu malah berkelak?" ucap Huda kesal. Dia pun kembali makan.


"Lho, kamu makan lagi? 'kan tadi udah?" ucap Yola heran melihat tingkah Huda yang mengambil nasi dan lauk yang banyak.


"Ha? masa?" Huda bingung sendiri karena tidak fokus dengan ucapannya dan kelakuannya sendiri.


"Kamu bener nggak inget?" tanya Yola.


"Ini, kita bagi dua, karena kamu telah mengacaukan pikiranku," ucap Huda lagi.


"Ha? Kok aku? Aku udah kenyang ini,"


"Biarin, lagian aku lagi sakit hati sama kamu, dari pada aku makan hati? lebih baik aku makan nasi 'kan?" Huda pun melahap makanan yang ada di piringnya, Yola pun dengan ragu kembali menelan sesuap demi sesuap nasi yang dikasih Huda.


"Iya__ nanti aku bicara berdua sama Mama, aku malu kalau di depan kamu," ucap Yola.


"Malu? Elllleh, tadi juga saat di sandera kamu mepet-mepet ke aku, sampai anu mu itu nyentul ke tubuh aku," ucapnya sambil tersenyum.


"Masa kamu nggak tau, sampai anuku aja sempat mengeres lho! makanya kamu harus tanggung jawab," ucapnya lagi.


"Anu mu, apaan lagi sih! Tanggung jawab apaaaanya, orang nggak ngapa ngapain,"


"Ehem ehem," Shaina sudah cukup mendengar pembicaraan mereka. Sbaina pun kembali ke dapur dan duduk di kursi kembali.


"Baiklah, aku ingin menanyakan satu hal, Yola, apakah kau mau dinikahi Huda? Jawab yang jujur ya!" ucap Shaina.


"... " Yola terdiam bingung.


"Yola, jawaaaaab!" desak Huda.


"Hups, ya Yola bersedia Ma," sahutnya, Huda pun tersenyum.


"Baiklah, karena Huda juga pasti mau, jadi aku tidak perlu bertanya lagi 'kan?" tanya Shaina menatap Huda.


" He emmm," sahut Huda sambil angguk-angguk.


"Oke, nanti malam kita akan nikahkan kamu, Yola, aku akan menyuruh rang untuk menjemput Papa dan Kakekmu sekarang," ucap Shaina.


"Lho, kok malam ini sih Ma, apa nggak mendadak?" ucap Shaina.


"Ya emang ini judulnya Mendadak Jodoh 'kan? jadi semua yang menikah itu di sini nggak perlu lama lama, klo setuju ya langsung menikah," ucap Shaina sambil tersenyum dan berdiri meninggalkan dapur.

__ADS_1


"Ye ye menikah, ye ye," sorak Huda menggoda Yola yang menatapnya bingung.


"Emch," tiba tiba Huda mencium pipi Yola spontan.


"Iiih, apaan sih?" Yola pun menyapu pipinya yang tadi di cium Huda.


Sementara Shaina sudah masuk ke kamarnya, dia pun duduk di depan meja memandangi foto suaminya.


"Beng, anak-anak sudah pada gede, apakah mungkin aku juga sebentar lagi akan menyusul kamu Beng Fathir, Bang Hendra," lirihnya.


Tak terasa air mata Shaina kini menetes, saat ini dia merasa sedih juga bahagia, dia peluki 2 foto orang yang telah meninggalkannya lebih dulu.


"Sayang, apakah kau mencintaiku?"


"Tentu saja, kenapa kau menanyakan itu?"


"Bahagiakan dirimu, jangan terus mengingat yang sedang bahagia di sisi yang lain,"


"Apa maksud Abang? Bahagia di sisi yang lain?"


"Ya, kamu harus bahagia, daaptkan kebahagiaanmu sendiri, mungkin dia bisa menghibur hari-harimu kemudian,"


"Abang mau ke mana, tunggu aku Bang!, lho, kenapa kakiku nggak bisa bergerak, tunggu!"


"Ma... bangun! kok ngigau, Mama mimpi apaan sih?" ucap Zahwa.


"Oh, Zahwa? Aku ketiduran, ada apa Nak?" tanya Shaina.


"Apa bener Huda dan Yola akan menikah? Bukankah mereka anak yang tertukar? Pasti Yola sudah menyusu pada ibunya Huda 'kan?" tanya Zahwa.


"Nggak kok, ibu Huda meninggal saat melahirkan Huda saat itu, dia pendarahan, jadi Yola tidak sempat menyusu," jawab Shaina.


"Oooh, begitu ya? Kirain... "


"Rangga mana? tolong panggilkan dia! aku menyuruhnya mencari penghulu untuk nikahan Huda malam ini,"


"Siap Maaa, biar aku carikan dulu.


Zahwa pun keluar kamar Shaina.


***


"Iiiih, kesel banget kayak gini, punya babu O'on, jadi bolak balik indonesia-London 'kan?"


Zaira dan mamanya juga bayi orang yang di culik sudah mendarat dengan selamat di tanah air.


"Kamu yang cari Babu nggak bener, masa nyulik bayi aja sampai salah orang." sahut sang Mama kesel. Sambil berbisik pelan.


"Iya, Zaira yang salah, ayo cepet! sebelum bayi ini bangun dan bikin keributan."


Mereka pun mencari taksi dan pergi menuju Apartemennya kembali.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2