Mendadak Jodoh

Mendadak Jodoh
Bram ke Indonesia


__ADS_3

Zahwa dan Yola sudah sampai di sebuah Mall besar. Mereka masuk dan mencari barang yang ingin mereka beli.


"Zahwa! Yola!" sapaan seseorang tiba tiba mengagetkan mereka berdua, siara yang tentu sangat tidak asing itu.


"Bima!"


"Ma Bim."


Sahut mereka bersamaan.


"Helo arsy, kamu cantik sekali sih," puji Bima.


"Kamu dama siapa?" basa nasi Zahwa.


"Cuma berdua dengan Bulan," ucapnya.


"Linda mana?" tanya Yola yang memang belum tau, karena Zahwa lupa memberi tahu, kalau Linda sudah meninggal.


"Oh Yol, aku lupa kasih tau kamu, Londa udah meninggal," icap Zahwa.


"Innalillah, sini!"


Tiba tiba saja Yola pengen menggendong gadis kecil yang berusia 7 bulan itu.


"Helo sayaaang, cantik banget kamu," puji Yola.


Bima yang melihat Indah di gendongan Yola pun tersenyum.


"Ya Allah, kalau memang Dia masih jodohku, tolong pertemukan kami kembali dalam takdir cintaMu ya Allah," Do'a Bima dalam hati.


"Cari lagi mamanya, kasian Indah," ucap Zahwa.


"Aku masih menunggu seseorang," ucap Bima sambil menatap Yola, Yola yang di tatap pun memalingkan wajahnya karena merasa tidak enak.


"Kak ayo! kita belanja!" ucap Yola kemudian, sambil menyerahkan Indah pada Ayahnya.


Mereka pun berpisah.


"Kak, ini bagus nggak?" Yola mengambil baju biru malam yang terlihat sederhana polos tanpa motif.


"Itu stelan cadar Dik, kamu mau pakai cadar?" tanya Zahwa.


"Iya Kak, entah kenapa aku pengen, rasanya ada panggilan jiwa begitu, tapi belum sekarang," ucap Yola.


"Pakai cadar itu harus konsisten Dik, jangan kau pakai ketika kau mau saja ya!" nasehat Zahwa.


"Iya Kak," jawabnya.


Deg.


Perasaan Zahwa langsung tidak enak saat melihat pemandangan yang ada di depannya, sepasang kekasih itu kini tepat berada di depannya.


"Dik, ayo kita balik ke sana, oh ke sana saja!" Zahwa tampak panik dan memutar kereta bayinya.


"Ada apa sih Kak?" Yola bukan anak kecil lagi yang bisa di kibulin begitu saja, Dia pun berpaling dan Dooor. Tatapan Yola dan Huda beradu, Huda pun spontan melepaskan rangkulannya pada Rina. Mereka sedang berbelanja di mall yang sama dengan Yola dan Zahwa.

__ADS_1


"Yola, ayo kita pulang! Ajak Zahwa merasa takut."


"Bentar Kak," ucap Yola. Yola berjalan mendekati Huda dan Rina. Rina yang sedang hamil pun bersembunyi di belakang Huda. Yola berdiri telat di hadapan Huda tanpa kata.


"Yola__a... Aku...."


Plak plak plak


3 tamparan itu mendarat di pipi Huda. Huda hanya bisa mengelus pipinya yang terasa perih.


"Kita usai," ucap Yola kemudian.


"Yola tunggu! Aku bisa jelaskan ini," ucap Huda mencengkram tangan Yola.


"Ayo kita ke mobil, kita selesaikan ini di sana, lihat mereka memperhatikan kalian," ucap Zahwa merasa tidak enak dengan mata yang menatap mereka.


"Pelakor ya... Huuuu...."


Beberapa orang pun mulai bereaksi. Zahwa semakin tidak enak.


"Dik, ayo!"


Zahwa menarik tangan Yola. Yola pun menurut. Mereka pergi meninggalkan Huda dan Rina yang berdiri mematung.


"Dasar pelakor, emang ya, kalau pelakor itu yang penting seksi, kalau ku lihat, istrinya tadi lebih cantik, walau menutup aurat, namun, namanya juga buaya, suka tantangan lobang-lobang nganggur, ha ha ha," ucap ibu ibu yang lain.


"Mas, ayo!" Rina pun berbisik dan menarik tangan Huda untuk meninggalkan tempat itu.


"Huuuuu," Riuh suara orang bersahutan.


"Dik, sabar ya! Kamu pernah tau nggak kisah Mama Shaina?" tanya Zahwa ingin menghibur.


"Kisah apa?" tanyanya.


"Sebenarnya ini aib ku Dik, mungkin ujian mu, tak seberat ujian Mama lho!" ucap Zahwa.


"Aib Kakak, kenapa?" tanya Yola lagi.


"Sebenarnya aku anak di luar nikah lho!" Ucap Zahwa kemudian.


"Ha? Masa? Kata siapa?" Tentu saja Yola terkejut saat mendengar itu.


"Ceritanya sangat panjang, begini...."


Zahwa pun menceritakan semua dari A sampai Z, Yola yang kaget dan shok pun kadang menutup mulutnya, kadang beristighfar berulang-ulang.


Mereka sudah sampai di rumah, Yola langsung masuk ke kamarnya hingga malam hari.


"Diba, tolong kamu ajak Yola makan, atau temeni Dia ya! Sekarang mungkin Dia butuh dukungan," ucap Zahwa lada adik iparnya yang berkunjung malam ini.


"Emang ada apa Kak?" tanya Diba, Diba dan Rangga kalau berkunjung pasti langsung cari in Arsy yang semakin terlihat menggemaskan.


"Lagi ada masalah dengan Huda."


"Huda? Ada apa lagi dengan Dia?" sahut Rangga.

__ADS_1


Dia terlihat emosi, karena memang Rangga tidak suka dengan tabiat Huda.


***


Bram sudah berada di bandara indonesia. Tubuhnya yang tinggi 185 berat badan 70km itu tampak sangat terlihat tampan luar biasa.


"Pak Yusuf, anda sudah sampai, mari saya Antar ke jotel Anda," ucap seorang lelaki seperti body guard tersebut.


"Terima kasih Pa San," ucapnya.


Merek pun menuju Hotel yang berada di kota tersebut.


"Apakah ada perkembangan mengenai orang tua lucky?" tanyanya.


"Saya kurang tau Pak, karena yang menangani itu semua pak Rudy," jawabnya.


"Baiklah, terima kasih sebelumnya." ucap Bram lagi, Bram ternyata sudah ganti nama jadi Yusuf, saat Dia muallaf.


"Besok aku akan mendatangi rumah sakit yang ada di kota ini, sementara, aku juga sudah menyadap telepon di kamar Zaira, agar aku senantiasa bisa mendengarkan mereka sedang berbincang," ucapnya lagi.


"Baik Tuan," sahut bawahannya.


Mereka sudah sampai di sebuah hotel yang sangat elit. Jam menunjukkan jam 9 malam.


"Tuan," sapa seorang wanita sambil memberikan sebuah kartu nama, pasti itu kartu namanya si lont**.


Bram menghargainya dan menerimanya.


"Jangan lupa ya!" ucap wanita itu sambil mengangkat tangannya seperti menyuruh Bram untuk meneleponnya.


Bram hanya tersenyum, Bram bukanlah orang suci, namun saat ini entah mengapa Dia merasa geli, kalau dulu, Dia sendiri yang dengan sengaja mencari Lont*** kalau lagi keluar kota atau ke Luar Negeri, karena Dia memang baji****, namun sekarang, dia sudah tobat dan insyaf.


"Silahkan masuk Tuan," ucapnya.


"Terima kasih, oh iya, besok jangan lupa tolong siapkan berkas ku yang harus ku tanda tangani dengan perusahaan shinwa, aku akan membeli perusahaan itu, karena pemilik sebelumnya tidak sanggup lagi mengelolanya," ucap Bram.


"Iya Pak," sahutnya.


Pak San pun pergi meninggalkan kamar Bram alias Yusuf.


Dring...


Telepon berbunyi di HP Bram.


"Bram, kamu berapa hari di Luar Kotanya?" tanya Zaira dari teleponnya.


"Mungkin satu minggu, Uang belanja mu sudah aku transfer ya," sahut Bram.


"Terima kasih, oke Sayang, daah,"


Zaira tampak senang, namun Zaira tidak tau, setiap kata kata yang keluar dari mulut mereka akan terpantau oleh Bram.


Bram pun tersenyum.


"Aqila, aku telah membuat kesalahan, aku akan menebusnya dengan menyatukan anak dan orang tuanya nanti, aku masih mencari, siapa orang tua lucky," ucapnya.

__ADS_1


BERSAMBUNG...


__ADS_2