
Wajah Sasa jadi pucat, badannya terasa panas dingin. Dia pun masuk ke dapur dan mengambil minum.
"Sa! Kmu kenapa?" tanya Bibi
Prang
Seketika Sasa kaget dan gelas yang di pegang nya pun jatuh ke lantai.
"Sa! Ada apa?" Bibi mendekati Sasa, dan menyentuh tangan Sasa.
"Lho? Kok tanganmu dingin sekali? kamu sakit? sana istirahat saja!" perintah Bibi sambil sedikit mendorong tubuh Sasa.
"Iya Bi, aku ke kamar dulu," jawabnya, seraya berjalan menjauh dari dapur.
"Aku harus lebih berhati-hati lagi," gumam Sasa.
***
"Bu Bidan, ada apa dengan istri saya?" Ezra begitu khawatir, dia terus memegangi tangan istrinya, begitu juga Zahwa.
"Dia makan apa saja tadi?" tanya Bidan.
"Nggak ada kok, cuma sering makan yang acem-acem, karena nafsu makannya berkurang," sahut Ezra.
"Aduuuh, Bang, sakit banget, seperti di obok-obok gitu," Zahwa terus meringis kesakitan, terlihat sangat sakit.
"Kalau begitu, bawa ke rumah sakit saja ayo!" titah Bidan, karena dia takut terjadi apa-apa sama istri orang kaya ini.
Akhirnya Zahwa pun di bawa ke Rumah Sakit terdekat. Setelah sampai Zahwa langsung di pasangi infus dan mendapatkan kamar Vip, orang kaya maaaah, bebas.
"Kamu harus kuat ya!" Ezra mencoba memberi dukungan pada istrinya yang sedang hamil itu dengan penuh kasih sayang.
"Iya Bang, do'ain Aku biar bisa melewati ini, rasanya sakit banget, astaghfirullah ya Allah"
"Nak, sabar, sebentar lagi dokter akan memeriksa mu," ucap sang ibu.
Tak berapa lama rombongan perawat dan satu dokter pun datang.
"Tolong bawa dia ke ruang USG!" ucap sang dokter.
Setelah menanyai ini dan itu, kemudian mereka pergi membawa darah Zahwa untuk di periksa. Zahwa pun di bawa pakai kursi roda ke ruangan USG.
Sang Dokter wanita kemudian memeriksa kandungan Zahwa lewat layar.
"Detak jantungnya melemah, emang dia kenapa? apakah tadi terjatuh atau bagaimana? kok tiba-tiba sakit gini sih?" tanya dokter heran.
"Nggak ada dok, kami cuma habis selesai makan, dan tiba-tiba dia kesakitan, jadi kira-kira dia kenapa dok?" tanya Ezra lagi was-was dan sangat khawatir.
Dokter kembali memeriksa kondisi janin si kembar.
"Kayaknya dia keracunan makanan, atau obat yang berdosis tinggi, yang mungkin bisa berakibat buruk pada bayinya," ucap Dokter.
__ADS_1
"Ya Allah, dia nggak ada minum obat apa-apa dok, cuma Vitamin biasa ibu hamil, tapi dia juga belum minum habis makan tadi, karena dia lagi makan buah, tolong istri saya dok," Ezra benar-benar sangat khawatir, dan terus berdo'a dalam hati untuk keselamatan istri dan anak-anaknya.
"Baiklah, aku akan memberikan obat penguat dan penenang juga vitamin lainnya."
Sang Dokter pun meresepkan obat yang harus di tebus ke apotik Rumah Sakit.
"Ini, tolong kau ambil, agar bisa kita berikan pada istri mu!" titahnya.
"Baik Dok,"
Ezra pun pergi meninggalkan Zahwa yang di temani ibunya untuk mengambil obat.
Sementara di sebuah kontrakan kecil, tampak Bima sedang menggendong putri kecilnya. Sedang Linda tampak sibuk di dapur.
"Mas, katanya Zahwa sakit, apa kita menjenguknya ke Rumah Sakit?" tanya Linda pada Bima.
"Benarkah? tapi kau tau 'kan, Ezra masih sering cemburu, kalau melihat aku bertemu Zahwa!" ucapnya.
"Kau bisa tunggu di luar bersama anak kita, biar aku yang masuk, aku merasa tidak enak kalau tidak menjenguk, dia sangat baik, walau pernah aku jahatin pun, dia tetap menolong aku saat aku terpuruk," ucap Linda lagi.
"Baiklah, kita akan menjenguknya, ayo!"
Setelah kejadian penculikan Ezra kemaren, dan Bima membongkar kebusukan Zaira, Bima pun di kasih pekerjaan oleh Rangga di kantornya, hingga kini Bima dan Linda hidup di sebuah kontrakan kecil dan bahagia bersama anaknya.
***
"Tolong Dok! Bu, siapa saja, tolong istri saya, dia sangat kesakitan,"
"Baik Mas, ayo!" Seorang perawat wanita pun menuju ruangan Zahwa, karena semua perawat di pinta Ezra hanya boleh seorang wanita saja.
"Bang, sakit sekali, Bu___ tolong saya!" Zahwa meringis memegangi perutnya, Shaina pun ikut menangis dengan terus memijat-mijat kaki Zahwa, walau itu tak ada gunanya.
"Iya," Perawat memegangi lerut Zahwa kemudian menelepon dokter.
"Maaf Mas, boleh buka ce-lana istri anda?" titah perawat.
"Kenapa? ada apa?" Ezra bingung, yang sakit perut, kok yang di buka yang ono?
"Lakukan saja!" titah Shaina,
Merasa aneh dan malu, namun Ezra akhirnya melepaskannya.
"Darah?" Ezra kaget saat melihat ada darah di celana Zahwa.
"Ya Allah, tolong anak Hamba," jerit do'a Shaina saat mendengar Ezra berkata darah.
"Kita akan membawanya ke ruang bersalin," ucap perawat.
"Apa istriku akan melahirkan? Tapi dia baru 7 bulan Bu," ucapnya lagi panik.
"Ayo! Nanti dokter akan menanganinya."
__ADS_1
Zahwa pun di bawa ke ruang bersalin, di iringi Shaina. Ezra sendiri yang mendorong branker Zahwa.
"Sayang, yang kuat ya, demi anak kita," ucap Ezra samnil berjalan menuju ruang bersalin.
"Mungkin dia telah minum obat yang memicu keguguran," ucap perawat.
"Tidak mungkin, dia tidak ada minum obat hari ini, dia baik-baik saja saat makan," ucap Ezra.
Zahwa pun sudah berada di ruangan bersalin, ada beberapa perawat yang menyambut kedatangan Zahwa.
Zahwa pun di periksa perawat yang lain, perawat itu memasukkan jarinya.
"Bu, di apakan istri saya? kok di anu begitu," tanya Ezra heran, saat melihat bidan memasukan telunjuknya ke hadapan sang istri.
"Tenang Mas, nggak papa kok, cuma jari kecil begini, nggak ngurangin jatah Mas," Bidannya malah bercanda berlebihan😃
"Zra, diam aja, itu Bidan memeriksa pembukaan, apa dia mau lahiran atau nggak," bisik Shaina pelan.
"Bagaimana Bu?" tanya Ezra, saat bidan selesai memeriksa.
"Baru pembukaan 4," ucapnya.
"Jadi benar anak saya akan melahirkan?" tanya Shaina penasaran.
"Iya Bu, tepatnya melahirkan terpaksa." ucap Bidan.
"Kok terpaksa sih Bu? Tolong yang terbaik buat istri saya Bu," ucap Ezra memohon.
"Iya, kita tunggu saja ya,"
Perawat kembali santai ngobrol dan membaca Chat di HP mereka.
"Bu, bagaimana dengan istri saya, kenapa di biarin,saja, tolong Bu!" Ezra mendekati salah satu perawat merasa kesal dengan tingkah mereka yang tak perduli.
"Mas, dia baru pembukaan 4, nanti sampai pembukaan 10 baru melahirkan," sahut perawat menjelaskan.
"Iya, Zra, tenang dulu!"
Shaina pun ikut menyahut, dia terus memijit-mijit kaki putrinya, dan terus mendo'akan.
"Ma, apakah semua wanita seperti ini saat melahirkan?" tanya Ezra pada Shaina.
"Ya, itu mengapa seorang anak harus berbakti kepada ibunya, di sebutkan 3 kali oleh rasulullah, ibumu, ibumu, ibumu, karena saat melahirkan ini, antar hidup dan mati."
"Apakah Ummi juga begini?" tanyanya lagi.
"Ya, semua sama, saat yang sakit tiada duanya, mules yang luar biasa,"
Ezra pun meneteskan air matanya.
Bersambung...
__ADS_1