Mendadak Jodoh

Mendadak Jodoh
Membuntuti sampai ke Ruang Rahasia


__ADS_3

Zaira telah membawa Rangga dan Shaina ke rumah sakit yang sama dengan Zahwa di rawat, sehingga, memudahkan dia untuk memeriksa keadaannya, dan Zaira juga sangat cerdas, dengan alasan, nyawa Rangga dan Shaina terancam, sehingga keberadaan mereka berdua pun di tutupi dan di rahasiakan dari orang yang mencarinya. Di kamar Zahwa dan Ezra di Ruang Vip.


"Z'ra, bagaimana keadaan Zahwa?"


"Tidak ada perubahan Mi, padahal ini sudah jalan ke 4 kehamilannya,"


"Apakah nanti tidak mempengaruhi tumbuh kembangnya?" Tanya Mita ibunya.


"Ada kemungkinan bisa mempengaruhi Mi, tapi dokter berusaha mencegahnya dengan memberi asupan vitamin lewat infus. Juga sari buah-buahan."


"Syukurlah, aku harap Zahwa segera puluh, lebih seringlah kau berinteraksi dengannya."


"Iya Mi,"


"Oh iya, sampai saat ini Shaina dan Rangga belum ada kabar, aku sudah mengirim mata-mata ke segala rumah sakit, namun belum membuahkan hasil."


"Papa Fathir juga telah mencari ke seluruh penjuru Rumah sakit dan klinik, namun mereka masih belum di temukan Mi. Siapa kira-kira yang tega melakukan ini?"


"Entahlah. Oh iya, Mai, tolong belikan rujak ya! Aku lahi pengen nih."


"Iya Nyonya."


Mai/Zaira pin pergi ke luar untuk mencari rujak.

__ADS_1


"Ummi aneh, kok tiba-tiba pengen rujakan sih Mi?" tanya Ezra heran, dia kan magh, mana pernah dia suka makan yang kecut-kecut.


"Iya nih, tiba-tiba otakku membayangkan yang kecut-kecut, heeeeeets, lihat ni! air liurku sampai hampir menetes, ha ha."


Benar saja, terdengar Mita menghirup air liurnya sendiri agar tidak menetes.


"Iya benar Mi, apakah Ummi yang ngidam?"


Maksud Ezra cuma bercanda doang, namun tina-tiba Mita berbinar.


"Iya benar, aku yang ngidam."


Mita pun mendekati Zahwa dan membelai kepala Zahwa.


Mita pun mengelus lembut perut datar Zahwa. Tak terasa air mata Mita pun menetes. Ezra yang melihat pun jadi bingung.


"Mi, maksudnya apaan sih?"


Akhirnya Ezra bertanya juga.


"Gini, biasanya kalau istri lagi ngidam kan suka mau ini itu, dan bisa juga kamu yang serba mau ini itu, tapi sekarang, di saat kehamilannya di waktu yang serba pengen, malah aku yang kebelet pengen rujak, apa mungkin dia yang hamil, aku yang ngidam?"


Mau heran, tapi Mita memang merasa aneh.

__ADS_1


"Kok bisa gitu sih Mi? Mana mungkin?" Ucap Ezra.


"Benar kok Z'ra, sudah ah, aduuuh, mana lama banget lagi ni si Mai, kemana sih dia?"


"Bentar biar Ezra lihat, mungkin masih di depan."


Ezra pun berjalan keluar dari ruangan itu, sekarang Ezra sudah menggunakan kaki palsu, dan sudah bisa beradabtasi dengan keadaannya. Dia menyusuri lorong jalan menuju halaman.


"Lho itu kan Mai, eh Mai! Tunggu!"


Yang di panggil tidak mendengar, wong itu bukan namanya. Dia terus berjalan berbelok ke suatu arah berbeda.


"Mau ke mana dia? dan dia sudah mendapatkan rujaknya di tangannya, malah di bawa puter-puter, kasian Ummi yang kebelet pengen makan."


Gumam Ezra yang terus mengikuti Mai yang lumayan jauh di depannya. Mai terlihat masuk ke sebuh ruangan yang berada di ujung dan terlihat di pojokan.


"Untuk apa dia ke sana? Aneh, ruangan apa itu?"


Ezra semakin mempercepat jalannya. Dia pun berdiri di depan pintu yang tadi di masuki Mai.


"Siapa itu? Mai sedang membesuk keluarganya? Mengapa dia tidak memberitahukan ku, kalau di sini juga ada keluarganya?"


Ezra masih berdiri di depan pintu dengan pertanyaan yang tidak bisa dia pecahkan sendiri, kecuali dengan bertanya.

__ADS_1


BERSAMBUNG...


__ADS_2