
"Ada apa Ngga'?" tanya Shaina.
"Tadi pagi Kak Zahwa ke rumah Linda, tapi udah pulang jam 9 ma."
"Aduuuh, ke mana dia?"
Shaina sangat khawatir, karena Zahwa tak pernah pergi tanpa pamit begini.
"Assalamualaikum, bagaimana? Apa Zahwa sudah pulang?" Fathir yang datang dari kantor pun menanyakan perihal anak pertamanya itu.
"Belum Pa, ini semua gara-gara wanita itu, Kak Zahwa pasti sangat sakit saat melihat kejadian malam tadi 'kan?" ucap Rangga ketus, dan menatap ke arah Saila yang duduk di samping Huda. Sementara Saila terlihat santai.
"Ya maaf, aku tidak tau kalau itu Ezra, ku kira dia Huda calon suami aku," jawabnya enteng tanpa rasa bersalah.
"Walau pun itu Huda, tak seharusnya kau memeluk laki-laki yang bukan siapa-siapa Loe, main peluk-peluk seenaknya!" bentak Rangga lagi.
"Rangga, dia sudah minta maaf dan keliru, dia juga sudah menjelaskan, kalau dia mengira itu adalah aku, sudah, yang penting sekarang kita cari saja Zahwa," ucap Huda membela Saila.
"Papa akan mengirim orang untuk mencari Zahwa," ucap sang Ayah.
"Pokoknya, kalau hari ini Kak Zahwa tidak di temukan, aku akan pindah dari rumah ini, bersama Mama, ini juga kesalahan Papa, membawa orang seenaknya ke rumah ini, tanpa tau asal usulnya." ucap Rangga tegas.
"Rangga!" bentak Fathir. Emosi Fathir kini meledak karena sangat marah Rangga terus saja membuat perkataan yang membuat orang lain tersinggung.
"Rangga, ayo!"
Shaina pun memilih diam dan menggandeng anaknya dan mengantarnya ke kamar atas.
Ceklek.
"Sayang, mungkin sekarang kita sedang sama-sama panik, namun yang lebih panik lagi saat ini adalah aku, seorang ibu, dialah orang pertama yang akan sangat khawatir terhadap anaknya, namun karena aku tau sifat Papamu, aku terpaksa menahan diri untuk diam," ucap Shaina.
"Ma, ayo kita pindah dari sini, aku heran dengan Papa, mengapa mudahnya dia membawa orang sembarangan ke rumah ini, belum lagi masalah Yola juga Huda, kini masalah terus bertambah, aku tidak bisa melihat Mama atau pun Kak Zahwa di sakiti," ucapnya.
"Jadi kau juga tidak suka aku ada di sini? munafik," ucap Huda.
Tiba-tiba saja Huda berdiri di depan pintu Rangga, karena kamarnya berada di sebelah kamar Rangga, mungkin tadi dia ingin ke kamarnya, dan mendengat pembicaraan Rangga dan Shaina.
"Apa maksudmu munafik?" Rangga bangun dan mendatangi Huda yang berjalan menuju kamarnya, namun Rangga mengejarnya dan menarik tangan lelaki itu.
"Kau! Saat aku datang ke sini, kau terlihat baik, sekarang aku melihat sisi buruk mu yang iri dengan kehadiranku di sini 'kan?" ucap Huda lagi, membuat Rangga semakin naik pitam.
"Sedikit pun aku tidak ada rasa iri padamu, apa untungnya bagiku? aku hanya perduli dengan Mamaku dan Kakakku!" balasnya sambil menantang di depan Huda.
"Cuih, kau kira aku tidak tau? kau iri 'kan padaku? karena aku adalah pewaris perusahaan Papa, kau hanya anak sambung di sini,"
Rupanya Huda belum tau kalau Rangga adalah pewaris tunggal perusahaan Linggar, kekayaannya melebihi kekayaan Fathir.
"Hah? Iri? padamu? Jangan mimpi,"
Rangga pun pergi meninggalkan kamar Huda.
"Iya iri, karena kau tidak punya apa-apa, sebaiknya kau berbaikan denganku, agar nanti kau bisa bekerja di perusahaan ku!" ucap Huda lagi.
__ADS_1
***
Seminggu sudah Zahwa menghilang, tak ada kabar yang datang.
"Paket... "
Seorang tukang pos datang membawa amplop besar.
"Dari siapa?" Tanya Ezra.
"Tak ada pengirim Pa,"
Ezra pun mengambil amplop.
"Buat aku?"
Akhirnya Ezra masuk dan mulai membuka amplop tersebut.
Dooor
Foto Zahwa sedang di ikat dan mulutnya di bekap dengan kain.
"Zahwa? Siapa yang melakukan ini, heeeeeh,"
Ezra berteriak, membuat semua orang yang ada di rumah itu pun keluar.
"Kak Ezra ada apa?" Yola yang lebih dulu mendekat dan bertanya spontan kaget saat mendengar teriakan Ezra yang tak biasa.
"Huaaaaaa,"
"Astagfirullah! Ya Allah, Rangga!"
Yola tau, Rangga lah orang yang paling perduli dengan Zahwa.
Mendengar namanya di panggil Rangga pun meluncur turun bak perosotan sampai kakinya pun hampir jumping menuruni anak tangga.
"Ada apa?" semua orang sudah berkumpul. Rangga pun mendekat dan mengambil foto di tangan Yola.
"Apa? Siapa yang berani melakukan ini pada Kakakku, awas! Kak Ezra, coba lihat!"
Rangga mengambil amplop itu dan mengambil secarik kertas yang ada di dalamnya*.
"Kalian harus menebus uang sebesar 1M, kalau kalian ingin Dia selamat,"
Tulisan singkat dan padat itu membuat semua orang melongo.
"1M, baik, aku akan mengirimkannya hari ini juga," ucap Rangga.
"Dari mana dia dapat uang sebanyak itu dalam waktu sekejap?" ucap Huda pelan, namun Yola mendengarnya.
"Apa kau tidak tau? kalau kekayaan Rangga itu melebihi kekayaan Papa?" ucap Yola berbisik di telinga Huda.
"Apa?" Huda heran, dari mana Rangga mendapatkan uang? Batinnya.
__ADS_1
"Ya, aku akan mengirimkannya sekarang juga," ucap Ezra juga.
"Ternyata mereka ini orang- orang kaya," batin Saila.
"Kak, mana no rekeningnya?" tanya Rangga, karena di situ tidak ada no rekening tertera.
"Aku tidak tau, hiks hiks," Ezra terus menangis kayak bayi yang di ambil permennya.
"Z'ra, tenang dulu, ayo kita tunggu kabar berikutnya, mungkin pengirimnya sengaja mengulur waktu." Fathir yang memang profisional di bidang culik-menculik pun terlihat tenang.
"Beng, apakah ini berkaitan dengan masa lalu Bengbeng dulu?" tanya Shaina lagi.
"Aku tidak tau Sayang, orang itu tidak memberi kita keterangan apa pun.
"Heh, mungkin saja orang itu yang ingin balas dendam padamu Pak Fathir, berapa dosa yang sudah kau lakukan di masa lalu, itulah yang akan kau panen kemudian," ketus Saila.
"Heh, diam kau mulut kotor," bentak Rangga.
"Heh," Saila tertawa tipis dan sinis.
Dret...
Telepon Ezra berbunyi.
"Helo, siapa kau?" tanya Ezra.
"Apakah kau sepakat dengan uang tebusan itu?"
"10 kali lipat dari itu pun aku sanggup, asal jangan sampai kau menyakiti istriku, seujung kuku saja kau melukainya, maka kau akan hancur berkeping-keping," bentak Ezra.
"Deal, aku akan mengirimkan no rekeningnya, kalau sampai kau menipuku, maka kau tidak akan bisa bertemu dengan istrimu lagi,"
Klok
Telepon terputus.
"Bagaimana?" tanya Shaina dan juga yang lain harap-harap cemas.
"Dia minta tebusan 1M hari ini juga.
Klok.
Pesan masuk dan no rekening masuk.
"Tunggu, kita akan kerja sama dengan Bank untuk membongkar penculikan ini,"
"Pa, aku tidak mau terjadi apa-apa sama Zahwa, apa pun akan ku lakukan demi menyelamatkannya, uang 1M itu tidak masalah bagiku, asal Zahwa selamat," ucap Ezra.
"Tapi belum tentu dia menepati janjinya, bagaimana kalau dia ingkar dan minta tambah uang jaminan?" ucap Fathir lagi.
"Iya betul, sebaiknya kita lapor polisi," ucap Huda lagi.
"Tidak, aku tidak mau menunggu selama itu, Bang, ayo kita Transfer!" ucap Rangga.
__ADS_1
BERSAMBUNG...