Mendadak Jodoh

Mendadak Jodoh
Zahwa Mengamuk


__ADS_3

Ibu itu menatap Zahwa sinis, bahkan bibirnya seperti bergerak-gerak ke samping, seakan mencibir penampilan Zahwa yang terlihat sedikit kusut. ibu itu tadi tidak menyadari saat Zahwa turin tadi pakai mobil mewah mentereng yang harganya bukan mobil mobilan biasa.


"Ada apa?" bisik ibu yang di sampingnya.


"Ini, mau nyari in Sasa, enak aja, emang Dia bisa kasih uang berapa?" ucap sang ibu lagi pelan.


"Maaf Bu, jadi bagaimana? Apakah Ibu ada lihat orang ini? Soalnya kemaren saya dengar ada ibu-ibu di sini sebut bekas pembantu kerja sebulan langsung kaya raya, namanya Sasa," tanya Zahwa.


"Aku nggak tau, tanya aja sama yabg kain," sahutnya ketus lagi.


"Oh, maaf Bu, permisi," Ucap Zahwa sopan.


Zahwa pun pergi meninggalkan tongkrongan ibu itu, berjalan ke arah sebelah dan berpapasan dengan seorang ibu lainnya.


"Oh ini, iya saya tau, mari saya antarkan," ucap ibu itu ramah.


"Hey, Ropi'ah! mau ke mana Loe? sini dulu! Ayo sini!" teriak ibu yang tadi di tanyai Zahwa.


"Entar, mau antar Neng ini dulu," sahutnya.


"Sini dulu!" teriak ibu itu lagi.


"Bentar Neng ya," ibu Ropi'ah pun mendekat dan berbisik menemui emak rempong itu.


"Tapi kasian, jangan-jangan bukan itu maksudnya," ucap Ropi'ah lagi.


"Aaaah, sini aku yang hadepin."


Emak rempong pun mendekati Zahwa.


"Ngapain kamu mau cari wanita itu?" ucap Emak rempong.


"Anu aku...-


"Kami mau menjadikannya pembantu, buat jaga anak saya yang kecil ini," sahut Ezra tiba-tiba.


"Oooh, kirain mau ngapain, emang kalian mampu menggaji Dia, Dia itu matre," sahut Mak rempong.


"Iiih, kamu jangan ikut campur ah, biar mereka bicara sendiri... Mari saya antar!"


Wanita santun itu pun mengantar Zahwa dan Ezra ke rumah Sasa yang di maksud.


"Ini, kamu gendong Arsy, aku mungkin akan melakukan sesuatu," ucap Ezra.


Zahwa pun menggendong Arsy dan mengiringi wanita itu berjalan ke sebuah gang sempit, namun ternyata di dalam ada sebuah rumah mungil yang baru selesai di bangun.


"Ini Tuan rumahnya," ucap wanita santun.


"Bu, tolong panggilkan seorang lelaki, mungkin bberapa, karena kalau wanita ini benar yang di foto, Dia telah mencuri anak kami," ucap Ezra.


"Ha? Astaghfirullah, beneran Tuan?" kaget Bu santun tak percaya.


"Iya," jawab Zahwa.


Ezra pun mendekati pintu dan mengetuk pelan. Sementara Bu santun memanggil tetangganya dan berdiri di jarak yang sangat jauh bersama Zahwa.


ceklek

__ADS_1


Pintu di buka, munculah wanita yabg sangat tidak asing di mata Ezra.


"Sasa, selamat Siang," sapa Ezra


Sasa dengan cepat ingin menutup pintu, namun Ezra dengan gesit mendorong pintu Itu keras hingga Sasa pun terpeleset dan jatuh.


"Mau apa Tuan ke mari?" tanyanya.


"Kalau kau tidak salah, mengapa kau menutup kembali pintu mu, kau 'kan tau? aku adalah tuan mu, tidak sopan saat ada Tuan kau malah menutup pintu," ucap Ezra.


"Aku kaget Tuan, ada apa?" tanyanya lagi.


"Jangan pira-pura bego, kau pasti tau apa yang ingin ku tanyakan padamu heh!" ucap Ezra.


Zahwa yang dari tadi cuma memandang kini pun mendekat, begitu juga beberapa orang, termasuk ibu santun. Dengan emosi Zahwa maju dan ingin mencakar wajah Sasa.


"Ke mana anakku? Ke mana kau bawa Arsya ku heh, kembalikan Arsya ku! Kembalikan padaku! Hik hik hik," ucap Zahwa sambil mencakar arah Sasa, namun di halangi Ezra.


"Sayang sabar, tunggu dulu!" bujuk Ezra sambil mengambil Arsy dsri gendongan Zahwa.


"Tuan, sini, biar ku gendong!" ucap Bu dantun.


"Tidak Bu, biar saya saja," icap zezra.


"Arsya ku, kembslikan!-


Bruk bruk bruk


Babu blues Zahwa kembali, Dia meraung dan mengamuk, tendang sana dan tendang sini.


"Iya percayalah padaku, biar aku yang gendong," ucap Bu santun.


"Anakku... Arsya ku, bruk bruk." Zahwa terus mengamuk, Ezra pun memeluk istrinya, sementara Arsya di gendong oleh Bu santun dan di bawa sedikit menjauh, takut terkena amukan Zahwa.


"Tolong bawa Sasa ke kantor polisi, nanti biar polisi yang menanyainya," pinta Ezra pada bapa-bapa yang hadir.


"Ada apa?" emak rempong datang menanyai Bu santun.


"Ternyata wanita itu ibu dari bayi yang hilang, yang kamu bilang mau kasih hadiah tadi, ternyata Dia orangnya," ucap Bu santun.


"Ha? Benarkah?",tampak mukanya masam, dan mencari akal biar dapat upah.


Hemmm, Dia menatap Arsy yang di gendongan Bu santun.


"Sini! Biar aku yang gendong, kamu pasti cape 'kan?" ucap mak rempong.


"Jangan! Aku udah janji akan menjaganya," ucsp Bu santun.


"Aku juga akan menjaganya kok ayo!" mak rempong memaksa menarik Arsy.


"Huaaaaa, huaaaa," Tiba-tiba Arsy menangis, membuat Ezra menatap Arsy yang hampir di ambil mak rempong.


"Hei, kau apakan anakku?" Ezra pun mengambil Arsya dan menggendongnya sendiri.


Sasa di bawa ke kantor polisi untuk di mintai keterangan. Sementara Zahwa tampak pingsan.


***

__ADS_1


"ka mana penghuni rumah ini? Kok sepi sekali ya?" gumam Yola.


Saat Yola keluar dari kamarnya, tak menemukan penghuni rumah. bahkan Huda pun belum datang.


"Bi... Mana Kak Zahwa kok belum datang?" tanyanya sama bibi yang sedang memasak di dapur.


"Nggak tau Non, tadi Tuan dan Nyonya besar pergi tergesak-gesak keluar, Bibi nggak sempat nanya," jawab Bibi.


Ketika telepon rimah berdering.


"Mungkin mereka," ucap Yola.


Yola pin berlari menuju ruang tamu.


"Hello Kak! Assalamualaikum" sapa Yola l.


"Waalaiksalam, aku hanya mengabarkan, kalau Sasa bersekongkol penculikan Arsya, sekarang kami ada di kantor polisi, jadi kami tidak pulang malam ini, mungkin kami slakan menginap di Hotel terdekat," ucap Ezra.


"Oh, benarkah? Baiklah Kak," jawab Yola.


Telepon di tutup.


"Assalamualaikum," suara Huda tamoak di depan pintu.


"Mas, Arsya mendapat titik terang," ucap Yola senang.


"Benarkah? Syukurlah, aku mau mandi dulu," ucapnya seperti tak bersemangat.


Yola pun melihat Huda seperti kelelahan, Dia pun memilih mengiringi suaminya dari belakang sampai kamar atas, melepaskan jaket dan mencarikan baju ganti. Sementara Huda sudah masuk ke dalam kamar mandi.


Yola mengambil Hp sang suami, ingin mengetahui, apa yang terjadi.


"Kok di kunci?" gumam Yola.


Kemudian dia ingin meletakkan pakaian suaminya ke keranjang cucian, dan sebelum itu, Dia akan mencek satu persatu kantong Huda, untuk memastikan tidak ada barang berharga yang tertinggal.


"Kertas apaan ini? Banyak banget?" gumam Yola sambil mengambil gumpalan kertas.


"Struk belanja?"


Yola membuka satu persatu kertas itu, betapa terbelalak nya Dia saat membaca kertas itu.


" 2 juta? Ini 500 ribu, dan ini? 3 juta?"


Nominal belanjaan di masing-masing kertas itu berbeda-beda.


"Kali ini, siapa lagi yang telah meluluhkan hatinya? Ya Allah, apakah aku terus akan berbagi suami dengan orang lain? sanggupkah aku Ya Allah," gumamnya.


Ceklek.


Pintu kamar mandi di buka. Yola segera kembali masukkan kertas itu dan pura-pura mengulangi kegiatannya tadi.


"Eh tunggu! Yang itu tidak usah di cuci, mau ku pakai besok sekali lagi," ucap Huda seraya menyambar celana panjang di tangan Yola.


"Kagetin aja, kayak ada benda berharga saja di situ," sindir Yola.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2