
Kedua karyawati itu pun berdiri dan menyusul Rangga menuju ruangan pribadinya. Kedua karyawati itu merasa sangat takut saat mendapat bentakan dari Rangga yang selama ini biasanya hanya diam dan dingin.
Dua karyawan itu sudah berada di ruangan pribadi Rangga. Diba yang duduk di sofa pun hanya menatap mereka tak mengerti.
"Sayang... ayo sidang!mereka!" ucap Rangga
"Sidang? Sidang apaan ga?" tanya Diba bingung.
"Aku tadi mendengar mereka membicarakanmu," ucap Rangga
"Membicarakanku? bicara apa?" tanya Diba
"Kau tanyakan sendiri saja pada mereka?" balas Rangga.
" Dia Bos...."
"Diam! aku lagi bicara dengan istriku, jangan ada yang menyahut," ucap Rangga marah.
Diba tambah bingung melihat Rangga Yang tiba-tiba saja marah-marah tak karuan.
"Sebenarnya ada apa Ga?- tanya Diba lagi.
"Kau tanyakan saja, pada mereka, nanti kau juga akan tahu kok, aku tak bisa mengurus masalah sepele seperti ini, aku banyak kerjaan. Ayo Sayang... tanyakan pada mereka! aku harus mengisi berkas Sekarang," ucap Rangga lagi.
Rangga pun duduk di kursi kerajaannya dan membuka-buka berkas, padahal itu hanya siasat Rangga saja, karena ingin istrinya itu tegas dalam bertindak.
"Lulu... Mimin... ada apa?" tanya Diba.
Si Lulu adalah orang yang menghina Diba, sedangkan Mimin adalah orang yang membela Diba.
"Bu, Dia menghina ibu," ucap Mimin.
"Bohong Bu, tidak, tidak begitu, Ini hanya salah paham," jawab Lulu.
"Sebenarnya ada apa Min? Coba jelaskan!" tanya Diba lagi heran.
"Dia mengetahui Ibu, katanya Ibu sombong dan juga jelek, cantik kan dia..."
"Bohong Bu, tidak begitu," jawab dulu merasa sangat takut.
"Hei Lulu! kamu diam, kamu tidak ditanya," ucap Rangga kesal.
"Lulu apa benar begitu?" tanya Diba mulai merasa kesal.
"Bu, aku tidak mengatai Ibu kok, Dia hanya salah dengar," ucap Lulu.
__ADS_1
"Bener kok Bu, aku dengar dengan jelas, yang lain juga denger kok," ucap Mimin.
Wajah Lulu pun terlohat lucat karena sangat takut, apalagi kalau samlai Dia di pecat, mau makan apa Dia nanti.
"Mengapa kau menghina aku? Aku kan tidak pernah menyakitimu? dulu juga sewaktu aku masih kerja, kita baik-baik saja kok," ucap Diba.
"Maaf bu, bukan begitu, dia hanya salah dengar," Lulu masih saja membela dirinya.
"Baiklah, sekarang kalian boleh pergi, tapi ... Aku tidak ingin mendengar kalian berbicara yang unfaedah, kerja yang benar, cari uang rajin, biar kelak nanti kalian bisa kerja sendiri, cari usaha sendiri, jangan bergantung kepada orang lain," Ucap Diba seraya kembali mengambil hp-nya. Mereka pun pergi setelah permisi.
"Segitu doang Kamu marah Sayang?" tanya Rangga.
"Emangnya aku bisa marah seperti apa? ucap Diba.
" Kau kan bisa memecat si Lulu, atau mungkin kau memberi hukuman padanya karena dia telah jahat padamu," ucap Rangga lagi.
"Ih Gaga apaan ih,berlebihan kali, ya wajarlah mungkin dia iri sama aku, yang wajah cuma pas-pasan, eh dapatnya CEO ganteng ya 'kan? mungkin dia iri padaku, semakin dia iri kepadaku, nanti kan pahala aku nambah tuh, kalau dia tidak mau berubah mungkin nanti bisa aku pikirkan untuk memecat Dia," ucap Diba seraya menyandarkan tubuhnya di sandaran sofa.
"Benar juga yang ia ucapkan, iya... bener juga ya, wajahmu itu pas-pasan, tinggi pun di nawah standar, kok bisa ya menikah sama cowok ganteng kayak aku," ucap Rangga tersenyum udah pernah nggak sampai tersenyum menggoda Diba.
"Puji terus aja diri sendiri, terus Nanti manisnya itu hilang, kalau terus puji sendiri," ucap Diba.
"Ya emang benar 'kan, lihat aku!" gidanya lagi.
"Udah ah, aku rasanya ngantuk, mau tidur aja," Ucap Diba.
"Orang Hamil itu biasa bawaannya ngantuk, banyak istirahat, biar bayinya sehat," ucap Diba lagi.
"Oh iya ya, kamu kan sedang hamil, aku lupa, terserah kau lah, aku mau keliling kantor dulu, jangan keluar pada ruangan ini ya, aku takut nanti ada karyawan lain yang mengintai mu dan kau juga bisa mendengar perkataan yang lebih buruk dari yang tadi, nanti kamu sakit hati," ucap Rangga lagi.
"Baiklah tolong Kunci pintunya Aku merasa sangat mengantuk," titah Diba lagi.
"Baiklah sayang, aku keluar sebentar ya, nanti kita makan siang bersama," ucap Rangga.
Rangga pun pergi meninggalkan ruangan tersebut, Rangga juga mengunci pintu ruangan. Dia berkeliling memeriksa para karyawan.
Turun ke lantai 3 dan ke lantai 2. Di lantai 2 Rangga bertemu dengan Maida. Maida adalah gadis yang dulu pernah mengatakan cinta pada Rangga.
Maida dan Rangga satu kampus yang sama, dan sekarang mereka sudah mengajukan skripsi, sebenarnya Maida sangat cantik lebih cantik kalau dibandingkan dengan Diba. Dia wanita periang dan tidak pemalu.
"Rangga!" sapa Maida.
Rangga kaget dan merasa grogi. Namun Rangga hanya berdiri melihat Wanita di depannya tanpa menjawab.
"Aku hanya menemani mama jalan-jalan," ucapnya.
__ADS_1
Karena di lantai 2 ini bagian pemasaran barang, dan kebetulan mama Maida ingin memesan barang furniture yang bagus dan berkualitas. Perusahaan Rangga di bidang furniture dan alat rumah tangga lainnya.
"Oh silahkan, kalian boleh lihat-lihat," ucap Rangga.
"Bolehkah aku minta kau temani?" tanya Maida.
"Maaf, aku lagi ada urusan mendadak," ucap Rangga.
Rangga pun permisi dan meninggalkan tempat tersebut, Namun Maida menatap lelaki di depannya itu penuh misteri, Sepertinya Dia masih menaeuh hati pada Rangga.
Sementara tiba yang tertidur di ruangan atas tampak merasa sesak.
"Kenapa aku merasa sesak
" ucapnya.
Diba yang tertidur masih menutup matanya, namun merasa nafasnya ada rasa yang menyumbat. Perlahan Diba pun membuka mata, namun ternyata ruangan itu sudah dipenuhi oleh asap Diba pun panik dan berjalan menuju pintu ruangan mencoba untuk membuka, namun Rangga menguncinya dari luar. Dia berusaha terus membuka namun tidak bisa, dia menggedor-gedor pintu tersebut, namun tidak ada yang datang karena ruangan itu kedap suara.
Sepertinya ada konsleting listrik dan membakar berkas yang ada di belakang lemari, Diba sangat panik dan mengambil hp-nya namun tidak ada jaringan.
"Sial...," ucapnya.
Diba mengambil botol Aqua dan menyiramkan ke kerudungnya dan menutup mulutnya dengan kerudung syar'i yang basah itu.
Dia terduduk di depan pintu keluar sambil terus berdo'a. Sementara di luar ruangan Rangga. Tampak ada sedikit asap keluar dari celah entah dari mana.
"Lihat! ada asap yang keluar dari ruangan Bos, bukankah tadi Bos sedang keluar? tapi di dalam @kan ada istri bos?" ucap karyawan dan karyawati lainnya. Semua karyawan pun menengok bersamaan ke arah pintu ruangan pribadi.
"Bener, Ayo kasih tahu Bos," salah satu dari mereka pun menelpon Bos yang ada di lantai 2.
"Bos sepertinya ada asap keluar dari ruangan Bos," ucap karyawan itu.
Rangga Yang masih di lantai 2 pun kaget lalu berlari menaiki lift untuk memastikan tanpa menjawab telepon. Sesampainya di depan pintu, Dia pun mengambil kunci dan membuka pintu, benar saja, asap itu keluar bersamaan membuat ruangan yang di luar pun tampak remang-remang.
"Diba...!" teriaknya.
Rangga pun masuk dan memeluk Diba yang sudah terkapar di lantai. Rangga langsung mengangkat Diba sambil menangis membawanya turun lift untuk dibawa ke rumah sakit, dibawa oleh sopir pribadi dari gedung tersebut menuju Rumah sakit.
"Bagaimana ini?" panik Rangga.
"Coba diberi nafas buatan," ucap sopir.
Pak sopir membawa dengan kecepatan di atas rata-rata. Rangga pun berusaha untuk menolong, dia terus memberi nafas buatan kepada Diba dengan meniup mulut Diba.
"Maafkan aku Diba, Maafkan aku," ucapnya berulang-ulang dia merasa sangat bersalah.
__ADS_1
Sementara Gedung pun di kosongkan, dan para pemadam kebakaran berdatangan.
Bersambung...