
Fathir sudah kembali ke kediamannya. Dia pun mengambil baju-bajunya untuk ganti, mungkin dia akan diam di Rumah sakit untuk beberapa saat.
"Pa, Papa mau ke mana? Kok bawa baju banyak sekali?" tanya Yola.
"Papa akan ke Rumah sakit untuk menjaga Mama dan juga Adikmu Rangga." ucap Fathir.
"Mama sudah ketemu? di mana Pa? aku ikut!" pintanya.
"Tidak bisa Yola, ini rahasia, ternyata mama dan adikmu di sembunyikan oleh seseorang, aku pun harus menyamar tiap kali ke Rumah sakit agar tidak ada yang tau." ucapnya lagi.
"Siapa yang melakukan itu Pa?" tanyanya lagi.
"Nanti saja Papa ceritakan, hari ini Papa tergesak-gesak, jaga diri, jangan keluyuran, kamu belum,sehat betul. Assalamualaikum."
"Wa alaikum salam.
Wajah Yola cemberut.
Aku sendirian di rumah, hanya ada Bibi, mereka sibuk dengan urusan mereka sendiri.
Batinnya.a
"Bibi, tolong bikinkan Mie rebus, antarkan ke kamar, tolong tambah cabe rawit juga jeruk nipis Bi!" perintahnya.
"Baik Non." sahut bibi di dapur.
Yola dengan wajah Bete memasuki kamarnya.
"Siapa yang menculik Shaina dan Rangga? Aku harus menyelidikinya, baiklah, aku akan membesuk Zahwa ke Rumah sakit, mungkin aku bisa bertanya.
Yola pun mengambil jaket dan kunci motornya.
"Non, ini Mienya, Non mau ke mana?"
Bibi sudah membawakan pesanan Yola, namun Yola malah bergegas keluar dari rumah.
"Bibi makan saja! Aku ada urusan mendadak." ucapnya.
"Yaaah, baiklah Non... Ada-ada saja wanita ini." gumam bini.
Bibi pun kembali ke dapur dan memakan sendiri mie rebusnya.
"Rumah ini sekarang terasa aneh, sejak Non Zahwa kecelakaan dan koma, dan kini menyusul Nyonya Shaina yang hilang, kasian Tuan besar, bahkan mie ini pun terasa hambar ku rasa."
Bibi berbicara sendiri sambil memakan mienya.
***
"Assalamualaikum, Ka Ezra."
Yola sudah datang, dia lun masuk dan memberi salam.
"Waalaikumsalam, ada apa Yola? Bukankah kau juga sedang sakit?" tanya Ezra.
"Aku hanya kangen dengan Kak Zahwa." basa-basi Yola, padahal dia masih marah sama Zahwa, karena Bima sering menyebut kegagalan pernikahannya dengan Zahwa karena Yola.
__ADS_1
"Ooh, Yola sebenarnya... Zahwa sangat baik, maaf, kami tidak memberitahukan mu, karena terlalu banyak masalah saat,ini, sekarang Zahwa sedang hamil 4 bulan." ucap Ezra.
Deg
Jantung Yola berdetak kencang, hamil? Apakah benar Zahwa hamil, dan Ezra terlihat sangat senang. Cemburu di dalam hati Yola kembali menyeruak, kehamilan Zahwa sangat di inginkan Ezra, sedang Yola hamil, Bima malah membuangnya.
"Hamil? Syukurlah." Yola berpura-pura bahagia, namun Zaira bisa menangkap helagar kebencian di wajah Yola.
Heh... Mungkin wanita ini bisa ku manfaatkan.
Batin Zaira.
"Oh iya, katanya Mama sudah di temukan, benarkah?"
Yola malah tidak bisa di percaya, dia asal bicara bahkan di hadapan orang yang tidak di kenal.
"Ha? Kata siapa? aku tidak tau!" ucap Ezra sambil mengedip-ngedipkan matanya.
"Mmmm???" Yola malah tidak mengerti, sementara Mai tampak memasang ke dua telinganya.
"Mai, tolong belikan minum buat Adik iparku ini." titah Ezra.
"Bisik Tuan." jawab Mai.
Dia pun pergi dengan rasa kecewa, karema tidak bisa mendengar pembicaraan mereka.
"Huh menyebalkan, apakah Ezra sudah mencurigaiku?"
Zaira membeli beberapa minuman dan membayarnya. Dia bermaksud kembali ke dalam.
"Yola? Eh Non?" Zaira kaget saat tangannya di tarik paksa menjauh dari tempat itu.
"Siapa kau sebenarnya?" tanya Yola.
"A___ku Mai, orang yang membantu-bantu di kamar Tuan Ezra." jawabnya.
"Bukan! Kau pasti seseorang atau suruhan seseorang, cepat katakan, sebelum ku laporkan ke polisi!" gertak Yola.
"Nona, aku bukan siapa-siapa." jawabnya lagi.
"Ayo kita kerjasama!" ajak Yola.
"Apa maksud Nona? Aku hanya seorang pembantu."
"Aku juga punya dendam dengan Zahwa, aku juga punya dendam dengan Shaina mau pun Rangga, jadi... Ayo kita kerjasama!" ajaknya lagi.
"Ha? Bukankah mereka keluargamu?" tanya Zaira.
"Dulu iya, tapi sekarang tidak!" jawabnya judes.
"Tapi maaf Non, aku tidak tau apa-apa."
Zaira pun berjalan menghindari Yola.
Bruk
__ADS_1
Namun Yola malah mengangkat kakinya, hingga Zaira terjerembab ke tanah.
"Siapa kau? Katakan padaku! siapa kau telah berani menculik Shaina dan Rangga."
Pertanyaan itu sontak saja membuat Zaira melongo dan kaget, Yola mengetahui semua itu.
"Heh, kau kira aku tidak tau? Bagaimana? apakah kau ingin bekerjasama denganku? Apakah kau juga tau apa masalahku dengan keluargaku sendiri?"
Zaira masih belum mempercayai perkataan Yola, walau dia mulai memikirkan rencana licik.
"Hei, mengapa bengong? Siapa kau?"
Mai pun berbisik pada Yola, dan bisikan itu seakan racun yang membuat Yola sempat terdiam dan menahan nafas beberapa detik.
...***...
Zahwa akhirnya di bawa pulang, semua peralatan rawat buat Zahwa pun di bawa ke Kastel milik Ezra, perawat yang stanbay 24 jam pun di kontrak oleh Ezra. Sementara Mai sekarang tidak boleh lagi memasuki ruangan Zahwa, dengan alasan, hanya perawat yang boleh masuk.
"Nyonya, maaf, saya izin,hari ini mau keluar sebentar." izin Mai pada Mita.
"Baiklah, jangan lama-lama.-
Mita pun segera memencet yang menandakan kode, bahwa Mai akan di ikuti oleh orang-orangnya.
Mai pun pergi meninggalkan Kastel dan naik menggunakan ojol. Dia tidak sadar sejak keluar dari pagar Kastel, dia sudah di ikuti oleh seorang wanita berhijab, agar tidak di curigai. Setelah lumayan jauh, akhirnya Mai pun sampai di sebuah kafe yang kecil dan lumayan sepi.
"Bagaimana? Aman?"
Ternyata Yola sudah berada di sana lebih dulu.
Wanita berhijab pun juga masuk ke kafe itu dan memesan makanan. Wanita itu sengaja duduk di dekat mereka berdua, dan menghidupkan recorder. Semua pembicaraan mereka berdua sudah di simpan dalam recorder itu.
...***...
Bruk... Bruk... Bruk...
"Keterlaluan Yola, anak siapa sebenarnya dia ini, jangan-jangan dia bukan anakku, dan dia tertukar saat di rumah sakit." Fathir tampak membanting pas bunga yang ada di atas meja.
"Pa, baiknya ini kita rahasiakan, biar kita tangkap basah mereka, sebenarnya Mai itu siapa?" ucap Ezra.
Ternyata Ezra langsung menemui Fathir dan memberikan rekaman Video Yola dan Zaira.
Berbunyi sebagai berikut.
"Yola, kalau kau ingin kerjasama denganku, baiklah, buktikan dulu keseriusan mu, barulah aku akan mengungkap jati diriku, bagaimana?" ucap Mai.
"Oke, apa yang harus aku lakukan?" jawabnya.
"Kau harus mencari keberadaan Shaina dan juga Rangga!" ucap Mai
"Setuju, tapi ingat, kalau aku berhasil menemukan mereka, kau harus membuka jati dirimu yang sebenarnya." titah Yola
"Baiklah, janji."
Fathir mengepalkan genggamannya erat, hatinya membara menahan amarah. Dia tidak percaya apa yang Yola lakukan padanya, sungguh membuatnya sangat marah.
__ADS_1
BERSAMBUNG...