
Ceklek
Zahwa membawa suaminya masuk ke kamar.
Hap
"Hik hik hik, Baaaaang, hik hik hik maaf, maaf."
Tangis Zahwa pecah saat sampai di dalam kamar, dia pun memeluk erat suaminya seakan dia mempunyai salah yabg sangat besar.
"Ada apa Hwa? Katakan! mengapa kau berteriak? Apakah Bima mengganggumu?" Ezra sangat khawatir.
"Bang...aku...aku tidak tau kalau itu bukan kau, maafkan aku. Hik hik hik." Zahwa terus menangis dan mengeratkan pelukannya.
"Apa maksudnya? Aku tidak mengerti, tolong katakan!" Ezra semakin panik dan bingung dengan apa yang di katakan Zahwa padanya.
"Tadi... ....bla bla bla."
Zahwa bercerita panjang lebar kejadian yang menimpanya di dapur.
"Kurang ajar. Ayo! Kamu diam di sini, biar aku ambilkan air untukmu." Ucapnya.
"Bang... Tolong jangan ngelakuin apa pun yang membuat gaduh rumah ini! maafkan aku, aku yang salah." Ucap Zahwa.
"Kamu tenang saja, aku hanya ingin mengambil air untukmu." Ezra meyakinkan.Tap tap tap
Ezra melangkah menuju dapur. Terlihat Bibi membersihkan beling di lantai.
"Bi...dimana Bima?" Tanya Ezra dengan mada dingin dan menakutkan.
"Ke kamarnya Tuan muda. Ada apa? Mengapa di dapur banyak beling begini?" Tanya Bibi heran.
Belum sempat Bibi selesai menanyakan masalah dapur, Ezra sudah berjalan menjauh mendekati pintu Yola.
Dug dug dug
"Buka!" Ucap Ezra terdengar sedikit tinggi, hatinya sangat marah.
Ceklek
"Ezra? Ada apa?" Yola yang membukakan pintu.
"Mana Bima?" Tanya nya.
"Tuh."
Terlihat Bima sedang duduk di depan meja sambil mainan HP. Dia pun menoleh dan tersenyum licik, Dia tau apa yang membuat Ezra datang menemuinya.
"Bima kemari kau!" Bentak Ezra, dia sangat emosi, Ezra hanya seorang manusia biasa yang mungkin tidak bisa menahan emosi kalau ada orang yang dia cintai di sakiti.
"Ada apa? Masuklah!" Dengan masih duduk manis, Bima tak mau menemui Ezra, malah dia mengundang Ezra itu masuk.
"Aku ingin berbicara berdua denganmu!" Ucap Ezra lagi
"Kau saja yang kemari!" Ucapnya lagi tanpa menoleh.
Hap
"Maaf"
__ADS_1
Bruk.
Ezra menarik tangan Yola, dan mendorong pelan keluar kamar, lalu menutup pintu tanpa mengunci.
"Ada apa?" Teriak Yola heran. Namun dia cuma berdiri di depan pintu tidak membuka pintu, Yola tau ada sesuatu yang mungkin Ezra ingin bicarakan berdua.
Plak
Ezra menamp*r kep*la Bima kasar. Bima berdiri.
"Ada apa? Kau marah karena masalah di dapur tadi? Jadi Zahwa,mengadu heh?"
Bugh bugh bugh
Ezra tak bisa menahan emosinya, dia pun terus memuk*li perut Bima berulang kali.
"Au."
Pekik Bima kesakitan.
Brak
"Ada apa? Ezra! Mengapa kau mem*kulnya?"
Tiba tiba Yola masuk dan membimbing Bima untuk berdiri.
"Ingat! Sekali lagi kau mengulangi kesalahanmu, maka kau akan menyesal." Ancam Ezra.
"Sok alim!" Teriak Bima.
Ezra meradang, dia pun pergi meninggalkan kamar itu dengan hati yang sangat panas.
"Zahwa, ayo! Beres-beres!"
Ezra mengambil kopernya, memang bajunya belum selesai di masukin Zahwa ke lemari.
"Kemana Bang?" Tanya Zahwa.
"Kita akan tinggal di kastel, aku tidak bisa membiarkanmu tinggal di sini, bagaimana nanti kalau semua orang tidak sda di rumah?" Ucapnya.
"Baik Bang."
Mereka pun kembali membereskan barang-barang untuk di bawa pergi.
"Aku akan mencari Mama dulu." Ucap Zahwa.
Zahwa pun keluar dan mendatangi kamar orangtuanya. Namun di depan kamar Yola Zahwa di cegat oleh Yola adiknya.
"Zahwa, tunggu!"
Bentak Yola.
"Ya?" Zahwa penuh tanda tanya.
"Mengapa Ezra m*mukuli Bima? Apa salahnya?" Ucap Yola terlihat marah.
"Baik kau tanyakan saja pada Bima, dia lebih tau."
Jawab Zahwa.
__ADS_1
"Apa maksudmu? Zahwa, apa kau marah karena akhirnya kau tidak jadi menikah dengan Bima?" Ucap Yola yang membuat Zajwa merasa marah.
"Yola, itu sudah takdir, karena dia bukan jodohku, toh sekarang, aku lun sudah menikah kan, di hari yang sama." Jawabnya.
"Heh, menikah tanpa cinta itu apa rasanya?" Yola seakan membull* kakaknya sendiri.
"Sudahlah,"
Zahwa pun pergi meninggalkan Yola.
"Heh, menyebalkan."
Ceklek
Yola kembali masuk ke kamarnya.
"Mas Bim! Apa yang kau lakukan hingga Ezra marah? Kata Zahwa, kau lebih tau itu." Tanya Yola.
"Heh, apa kau ingin tau? Benar-benar ingin tau?"
"Ya, aku ingin tau kebenarannya," Jawab Yola.
"Aku memeluk Zahwa dari belakang, puas?"
"Apa? Beraninya kau Mas, apakah kau masih mengharapkannya?"
"Ya! Aku masih mengharap Zahwa lah yang ku nikahi, bukan kau!" Bentak Bima.
"Mas, mengapa kau berkata seperti itu? Bukankah kau yang duluan merayuku?"
"Mengapa kau mudah sekali di rayu, perempuan mur*han." Bentak Bima, yang membuat Yola hancur berkeping-keping.
Bruk.
Yola tengkurap dan menangis di atas kasurnya.
"Aku akan keluar, jangan terlalu lama menangis, karena aku sangat benci mendengar tangisan."
Bruk
Menutup pintu kasar.
"Mamaaaaaa mengala kau lergi begitu cepat ma.... Hik hik hik." Yola menangis sambil membenamkan wajahnya di bantal.
Sementara di kamar Fathir.
"Apakah kau yakin ingin pindsh ke kastel nak?" Tanya Shaina.
Zahwa tidak ingin menceritakan masalah yang menimpanya.
"Iya ma, apalagi Ummi sering sakit sakitan, aku sebagai menantu tunggalnya, tentu akan menemaninya," Ucap Zahwa.
"Baiklah nak."
"Jadilah mantu yang baik dan sopan ya, seperti mamamu ini.",Ucap Fathir.
" Iya pa."
Zahwa pun salim dan kembali ke kamarnya di ikuti kedua orang tuanya..
__ADS_1
BERSAMBUNG....