Mendadak Jodoh

Mendadak Jodoh
Kebahagiaan


__ADS_3

Hari ini Zahwa sangat bahagia. Tak sedikitpun dia meninggalkan Arsya dari dirinya. Zahwa selalu membawa Arsya, sedangkan Arsy dia serahkan kepada Ezra atau Uminya.


Dia ingin menebus kesalahannya pada Arsya. hanya ke kamar mandi lah dia akan berpisah dengan Arsya, dan menitipkannya kepada orang rumah lainnya.


"Sayang, ayo makan dulu!" ajak Ezra.


"Sebentar Bang, aku mau suapin Arsya dulu, baru aku makan, Abang duluan aja," ucap Zahwa.


"Baiklah, aku duluan ya, nanti kalau aku selesai makan, aku akan jagain Arsya," ucap Ezra.


Ezra pun ke dapur dan makan bersama Uminya.


"Ezra, mana Zahwa? Kenapa tidak diajak makan?" tanya Mita.


"Dia lagi memberi makan Arsya Mi, Zahwa sangat bahagia. Baru kali ini aku melihat sinar terpancar dari wajahnya, selama ini dia selalu murung dan semua ini sudah terbayar. Aku kemarin mencari Arsya ke sana kemari, sangat melelahkan, dan sekarang sudah terbayar dengan melihat senyum indah di wajah Zahwa."


"Terus, bagaimana dengan Zaira dan Mamanya?" tanya Umi Mita.


"Besok aku akan menelepon polisi, yang ada di sana, untuk membebaskan Zaira dan Mamanya, dua hari ini biarlah dia mendekam di penjara dulu. Biar mereka merasakan akibat perbuatan mereka," ucap Ezra.


"Oh... begitu ya, terserah deh, Ayo cepat makan! biar gantian sama Zahwa," ucap sang Ummi.


Ezra pun kembali menyantap makanannya yang sudah disediakan, sementara Arsy sedang bermain bersama Aunty di ruang keluarga.


***


Bram dan seorang suruhan Ezra sedang mengunjungi Zaira di di tahanan, Bram juga membawakan buah-buahan dan juga vitamin untuk kehamilan istrinya.


"Pak, Maaf... aku ingin berkunjung menemui Zaira istriku," ucap Bram pada petugas.


"Baik Tuan, silahkan Tuan tunggu di sini," ucapnya.


Petugas itu pun masuk ke dalam sel untuk mencari Zaira, Zahira tampak terduduk di pojokan karena merasa mual, pagi ini dia juga muntah-muntah, namun ada seorang tahanan yang sangat kasar dan arogan.


"Dasar wanita jorok! Jangan sembarangan kau muntah sana! cari tempat untuk kau muntah!"


Wanita itu mendorong Zaira pakai kakinya, sehingga Zaira pun terjatuh kesakitan, karena saat pengen muntah dia cuma jongkok dan didorong kuat oleh wanita itu, hingga dia terjerembab ke samping.


"Aduh... aduh Mama sakit," rengeknya menahan sakit di perutnya.


"Ada apa Zaira?" tanya mamanya.


"Sakit Ma, sakit Ma, perutku sakit Ma," Zaira,menangis sambil memegangi perutnya.


"Alasan saja kau, sana! sana! jangan muntah di sini," ucap wanita itu lagi.


Namun tidak disangka, mamanya Zaira memukuli wanita itu sampai wanita itu terjatuh, kemudian Mama Zaira kembali menendang perut wanita itu sehingga wanita meringis, menahan sakit di perutnya.


"Rasakan kau wanita *ja la ng, apa kau tidak tahu anakku sedang hamil? dan kau dengan sengaja berani mendorong-dorongnya?" ketus Mama Zaira.


Wanita yang lain pun kaget saat mendengar Zaira hamil.

__ADS_1


"Kasihan dia," ucap salah seorang dari mereka.


"Zaira, ada tamu untukmu," ucap petugas.


Zaira pun dibawa keluar.


"Mas Bram, tolong aku Mas, aku tidak mau di sini Sayang," adu Zaira sambil menangis.


Bram pun memeluk istrinya.


"Maafkan aku, aku tidak bisa membawamu pulang sekarang, aku sudah berulang kali menelepon Ezra, namun dia belum memberi keputusan, Aku akan terus membujuknya, kalau perlu aku akan ke Indonesia untuk membujuknya," ucapnya.


"Tapi Mas... aku merasa tertekan di sini, aku juga sangat mual karena aku sedang mengidam Mas, kasihan anak kita kakau aku strws," bujuk Zaira.


"Iya Sayang, aku mengerti kok, tapi harus bagaimana lagi? ini juga kan perbuatan kalian, aku tidak bisa membantu."


"Coba bayar denda Mas, Mungkin bisa untuk keluar dari sini, bayar denda berapapun pembayarannya," ucapnya lagi.


"Aku tidak bisa membayar denda, mana aku punya uang? restoran ku pun tidak cukup untuk membayar," Bram berbohong.


"Jadi Mas akan membiarkan aku di sini selamanya?" tanya Zaira.


"Bukan... bukan begitu, maksudku, aku akan terus memohon pada Ezra, dan juga Zahwa istrinya, semoga mereka mau membebaskan mu," ucap Bram.


"Mas aku sudah tidak sanggup, aku juga dianiaya, aku juga dipukuli," ucapnya.


"Sayang..."


"Maaf, jam kunjungan kalian cuma sebentar, karena ini bukan jam kunjungan," ucap petugas.


"Tolong aku! Aku tidak ingin dipenjara," teriak Zair.


"Iya, aku akan berusaha, Aku akan terus menelepon Ezra, dan juga Zahwa istrinya," ucapnya.


Bram pun pergi meninggalkan kantor polisi.


***


Pagi yang cerah. Terlihat Zahwa sudah bangun pagi-pagi sekali, dia juga bikin bubur untuk Arsya dan Arsy, dia juga membuat lauk lainnya untuk suaminya Ezra yang akan pergi ke kantor hari ini.


Mulai hari ini, Ezra sudah bisa kembali memakai kaki robotnya karena kakinya kemarin sudah dinyatakan sembuh.


"Sayang, aku akan menelpon polisi Jerman dulu ya,"ucap Ezea.


"Iya Bang ."


Ezra pun kemudian menelepon polisi Jerman dan meminta agar Zaira dibebaskan, sesudah Ezra menelepon, Ezra menemui Zahwa.


"Sayang, maafkan aku karena masalah aku dengan Zaira kau harus menerima akibatnya juga, kau juga telah direpotkan olehnya, karena dendam Zaira padaku," ucap Ezra.


"Bang sudahlah, aku sudah melupakannya, yang penting Arsya dan Arsy sekarang sudah kembali bersama."

__ADS_1


Ezra pun tampak membelai kepal istrinya.


"Terima kasih Sayang."


***


Bram tampak sudah rapi karena hari ini dia akan menjemput Zaira ke kantor polisi. Bram sudah dihubungi Ezra bahwa hari ini Zaira akan bebas karena tuntutan sudah dicabut.


"Tuan... Apakah Tuan perlu sesuatu lagi?" tanya pria yang disuruh Ezra untuk menemani Bram.


"Oh tidak, paman, terima kasih banyak ya, mungkin mulai hari ini laman bisa kembali kepada keluarga paman," ucap Bram.


"Terima kasih Tuan, kalau begitu, aku pamit dulu, Assalamualaikum."


"Waalaikumsalam."


Bram sudah bersiap dan dia pun pergi untuk mencari taksi, sepanjang jalan, Bram tampak sangat senang dan bersiul-siul gembira.


Sesampainya di kantor polisi, Bram pun langsung menemui polisi jaga.


"Iya Tuan, semua berkas-berkas sudah saya siapkan dan silakan Tuan tanda tangan," ucap polisi.


Bram pun menandatangani berbagai macam perjanjian, yang disuruh Ezra Untuk ditandatangani Zaira atau pun Bram.


Zaira di panggil dan dibawa menemui Bram..


"Terima kasih banyak Mas Bram," Ucap Zaira.


Zaira pun memeluk suaminya, sambil menangis, begitu juga Bram, dia memeluk istrinya dan membelai perut istrinya penuh kasih sayang.


"Seekarang Ayo kita pulang!" ajak Bram.


"Tapi bagaimana dengan Mama?" tanya Zaira.


"Maaf... mamamu tidak bisa dikeluarkan. Karena kemarin dia memukuli tahanan lain, dan masa tahannya akan diperpanjang," ucap Bram.


"Benarkah? bagaimana mungkin? Mama pasti marah besar sama aku, kalau aku meninggalkannya di sini," ucap Zaira.


"Itu sudah resiko dia, nanti kita akan tanya-tanya lagi sama polisi, biar kita mencari jaminan agar bisa mengeluarkan Mamamu, dari sana."


"Baiklah," sahut Zaira lesu.


Zaira dan Bram pun pulang sambil bergandengan tangan. Sesekali Bram mencium pucuk kepala Zaira dan mengusap rambut wanita itu.


"Terima kasih Ezra. Terima kasih Zahwa. kalian sudi untuk memaafkan kesalahanku, yang sangat besar ini," lirih hati Zaira.


Kemudian dia menatap wajah suaminya dan tersenyum.


"Mas Bram. Maafkan Aku, aku juga banyak berbuat salah padamu," ucapnya.


"Tidak apa-apa Sayang, lupakan semua itu, sekarang... ari kita lihat masa depan kita bersama anak kita," ucap Bram seraya kembali mencium pucuk kepala Zaira.

__ADS_1


Zaira pun tersenyum lebar dan mempererat pelukannya.


Bersambung...


__ADS_2